Pashmina Untuk Kupu-kupu

Pashmina Untuk Kupu-kupu
Bab 26: Terbongkar


__ADS_3

Waktu berlalu begitu cepat, 2 minggu sudah berlalu Sonia dan Kabir sibuk dengan urusannya masing-masing. Sonia sudah tenggelam dengan pekerjaannya dan hari ini tepat event akan berlangsung. Hal ini juga menjadi hari terakhirnya bekerja di supermarket dan bersiap untuk memulai karir di perusahaan yang baru. 


Wanita itu bertekad untuk memulai hidup barunya dan menjadi lebih baik lagi, jauhnya Zaki membuat dirinya semakin tenang. Tapi kehadiran Ameer membuat jiwa kesepiannya terusik, seperti pagi ini dimana Ameer kembali menjemputnya. 


Walaupun mereka bertiga, tapi tetap saja Sonia merasa sungkan. Entah sampai kapan mobilnya selesai diperbaiki, beberapa kali dia menanyakan hal yang sama kepada Ameer tapi jawabannya masih sama. 


"Kak, maaf mau nanya, kapan mobil Nia selesai?" Tanya Sonia sungkan. Ameer tersenyum ramah, pria berpenampilan seperti seorang santri itu tersenyum.


"Kata orang bengkel, lusa sudah bisa diantar. Oya tanggal berapa kamu masuk kerja di perusahaan yang baru?" Tanya Ameer. 


"Tanggal 1 bulan depan kak," jawab Sonia singkat. Perbincangan mereka pun berlanjut, walau dengan rasa sungkan walau sudah seminggu lebih mereka pulang dan pergi bersama. 


Tak lama Sonia pun sampai di supermarket, Ameer tersenyum dan melambaikan tanganya. Mereka Pun berpisah, beberapa pekerja yang mengurus dekorasi berseliweran kesana sini untuk acara grand opening. 


“Syam, Lo dah siapin untuk acara kita disini?” Tanya Ameer saat mobil mereka bergerak meninggalkan supermarket. 


“Udah semua beres, kita ke kantor dulu kan? Tanya Syam. 


“Iya lah, gue mau ngasih kejutan buat Sonia. Syam lo atur juga ntar saat dia kerja di tempat kita, jangan sampe dia ketemu sama gue.” Titah Ameer. Entah apa yang direncanakan oleh pria yang masih setia menjomblo di usia karatan itu. 


“Eet dah, sejak kapan lo main kucing-kucingan sama cewek? biasanya juga biasa aja,” ucap Syam sengit. 


“Heem gak taulah bro, mungkin sejak gue ngerasa nyaman sama dia.” Sahut Ameer santai. Syam hanya melirik sambil mencebikkan bibirnya. ameer pun kembali disibukkan dengan tab yang ada di tangannya, materi ceramah yang akan dia berikan hari ini sudah dia siapkan. 

__ADS_1


*****


Sonia sudah bergelut dengan pekerjaannya, hari terakhir dan event besar cukup membuatnya menguras semua tenaga. Entah beberapa kali dia harus mondar mandir dari ruangan ke venue event, semetara tim yang membantunya pun tidak kalah sibuk. 


Beberapa kali dering telepon dari Zaki tidak dia hiraukan, bukan menghindari tapi saat ini Sonia memang sedang tidak ingin membagi pikirannya. Sepertinya apa yang dikehendaki oleh wanita itu tidak sesuai dengan kenyataan. Pintu ruangan yang tidak tertutup dengan baik membuat seseorang kini sudah berada di dalam ruangan sang ibu direktur. 


“kenapa kau tidak mengangkat teleponku Sonia?” Suara Bariton Zaki membuat Sonia mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara. 


“Zaki maaf, aku tidak memperhatikan ponselku, acara akan dimulai kurang lebih 2 jam lagi, dan aku benar-benar harus membereskan semuanya.” Sahut Sonia dengan wajah datar. 


Zaki mendekat dengan tatapan tajamnya, rahang pria itu mengetat dan tangan kekarnya menyambar lengan ramping Sonia. 


“Siapa yang mengizinkan kamu keluar dari perusahaan ku?!” Tanya Zaki tajam. Pria itu tidak kuasa menahan amarahnya. Tadi malam dia sampai dirumah dan mendapatkan kabar dari Zoya kalau Sonia akan keluar dari perusahaan mereka dengan alasan ingin mencari pengalaman lain di tempat yang lain. Sebagai sahabat Zoya tidak bisa menahan kemajuan seorang teman, tapi Zaki merasa marah mendengar apa yang dia dengar. 


“Kau tidak bisa meninggalkan ku begitu saja Sonia, Aku tidak akan membiarkan hal itu. Hubungan kita sudah terlanjur jauh, dan hal itu tidak bisa kamu putuskan sepihak!” Ucap Zaki dengan nada yang mulai naik satu oktaf. 


“Semua bisa dihentikan jika kita mau Zaki, dan aku menginginkan itu. Kembalilah pada Zoya, dia wanita yang baik. Jangan jadikan aku wanita yang buruk di mata orang lain, jika kau memang mencintaiku, maka lepaskan aku. Banyak orang yang bilang, cinta butuh pengorbanan dan mengakhiri kisah kita, itu termasuk pengorbanan terbesar dalam cinta.”


Perdebatan mereka terus berlangsung tanpa mereka sadari seorang wanita dengan mata yang sudah basah kini berdiri mematung di pintu yang memang tadi tidak di tutup oleh Zaki. 


“Zoya … Sayang, maaf ini tidak seperti yang kamu lihat. Aku bisa jelaskan,” Ucap Zaki tergagap. Pria itu baru tersadar saat dia membuang muka dan matanya menangkap sosok yang sangat dia kenal. 


Zaki melepaskan tangannya pada Sonia, pria itu melangkah dengan cepat mendekati pintu. Sementara Sonia hanya bisa tertunduk, semua sudah hancur kini. Persahabatan yang baru saja di mulai kini hancur berantakan, Zaki yang egois sudah begitu jahat membuat kedua wanita itu kini seperti musuh yang ingin saling membunuh. 

__ADS_1


Zoya melangkah maju tanpa sedikitpun matanya menatap ke arah Zaki. Zaki menggenggam tangannya tapi dengan cepat Zoya menepis. Tatapannya lurus ke arah Sonia yang kini hanya bisa berdiri mematung tanpa tau harus berbuat apa. 


Plak!


Sebuah tamparan berhasil mendarat di pipi mulus Sonia, wanita itu tidak membalasnya atau sekedar mengangkat mukanya untuk menatap Zoya. Dia siap menerima apapun yang akan dilakukan Zoya, seperti inilah jika menyimpan bangkai, maka akan tercium juga pada akhirnya. 


“Kau sudah berhasil membuat hatiku luka tak berdarah Sonia, baru saja aku menganggapmu sebagai sahabat. Tapi semua ini ternyata sangat menyakitkan buatku, sejak kapan hubungan terlarang kalian dimulai?” Tanya Sonia penuh penekanan dan tuntutan.


“Zoya, jangan salahkan Sonia. Ini semua salahku, ayo kita pulang. Aku akan jelaskan semuanya kepadamu,” ajak Zaki berusaha membuat istrinya tidak menekan Sonia. 


“Aku akan mendengarkan penjelasanmu nanti Zaki, tapi aku ingin mendengar penjelasan dari wanita ini sekarang juga.” Sahut Zoya datar. Melihat hal ini Zaki semakin resah, dia tau betul bagaimana ketika istrinya marah untuk urusan keluarga. Saat ini Zaki benar-benar merutuki kebodohannya, jika saja tadi dia mendengarkan permintaan Sonia maka wanita yang baru saja kehilangan putranya itu tidak akan disalahkan oleh istrinya. 


“Ibu Zoya, saya mohon maaf. Saya yang salah,” Ucap Sonia pasrah, suaranya serak menahan semua rasa yang menghimpit dadanya. Hari terakhir kerja bukannya meninggalkan kesan yang baik, Sonia malah memberikan luka di hati sahabat barunya. 


“Jangan berikan aku air mata palsumu Sonia! aku muak melihatmu disini, sekarang pergilah sejauh mungkin dan jangan pernah sekalipun kau menemui ku. Aku sudah tidak lagi menganggapmu ada atau pernah ada, PERGI!”   


❤️❤️❤️


Huufff akhirnya... 😢


haayuukk like pemirsaahh. komen, vote dan subscribe ya. tengkyuuhh pemirsaaah.


❤️❤️❤️😢😢😢🌹🌹🌹  

__ADS_1


__ADS_2