Pashmina Untuk Kupu-kupu

Pashmina Untuk Kupu-kupu
Bab 33: Pashmina Untuk Kupu-kupu.


__ADS_3

Sonia yang mendapatkan pernyataan dan permintaan dadakan seperti itu sontak terkejut, wanita itu seperti sedang bermimpi di siang bolong. Siapapun yang menghadapi hal ini pasti akan bingung untuk menjawabnya.


“Ehem … Kak Ameer, maafkan Nia. Bisakah kita saling mengenal dulu? Nia tidak menolak dengan permintaan Kakak, tapi ….”


Sonia nampak ragu melanjutkan ucapannya, kepalanya tertuduk dan tangannya mulai saling meremas satu sama lain. Hal ini membuat Ameer hanya tersenyum, pria itu mengerti dengan apa yang dirasakan oleh wanita yang kini sudah menguasai pikiran dan hatinya.


“Aku mengerti dengan apa yang kamu maksud Nia, ini memang terkesan dadakan. Tapi satu hal yang aku ingin utarakan kepadamu Sonia, aku sudah lama melangitkan namamu di sepertiga malam terakhirku.”


Sonia mengangkat wajahnya, matanya menatap Ameer nanar. Wanita mana yang tidak meleleh dengan ucapan pria tampan dengan segala kesempurnaannya itu. Sementara Sonia sendiri merasa sangat kecil dan kotor, apakah dia sepadan dengan pria yang ada di hadapannya?


“Kak, bolehkan saya juga melangitkan nama Kak Ameer di sepertiga malam ku?” Tanya Sonia dengan pelan dan terdengar getaran pada suaranya. Ameer merasa senang dengan jawaban wanita yang dia sayangi itu, bukan pendekatan atau pacaran yang diinginkan wanita itu. Tapi memohon kepada sang Khalik lah yang Sonia inginkan. Ini sudah satu pertanda bahwa wanita yang kini ada di hadapannya adalah wanita yang baik.


“Sonia, kita akan melakukannya bersama. Biarkan Allah yang menggerakkan, jika kita berjodoh maka tidak akan sulit bagi Allah untuk menyatukan kita hingga ke Jannah.”


Pembicaraan mereka memang bukanlah sesuatu yang saling mengumbar janji manis, apalagi Sonia yang memang sangat tidak percaya diri. Hal ini juga yang ingin dia utarakan.


Mereka hanya berdua di ruang tamu, pintu terbuka lebar dan di ruang makan ada Rima dan Syam yang. Posisi mereka tidak ada penghalang dinding jadi hal itu tidak akan menimbulkan fitnah, karena mereka tidak berdua-duaan di ruangan tertutup.

__ADS_1


“Kak Ameer, boleh kan Nia menanyakan sesuatu?” Tanya Sonia lirih.


“Silahkan Nia, apapun itu tanyakanlah dan aku akan menjawabnya dengan sejujur-jujurnya.”


Ameer sangat senang dengan cara Sonia, wanita itu menunjukkan kalau dirinya siap untuk saling mengenal. Hal ini berarti rasa di hatinya tidak bertepuk sebelah tangan.


“Kak, apa yang membuat Kak Ameer memilih Nia untuk menjadi istri Kakak?” Tanya Sonia sambil menundukkan pandangan. Wanita itu walau belum menutup auratnya, tapi setidaknya dia berpakaian yang sopan dan tertutup.


“Ehem … begini Nia, rasa itu datang atas ijin Allah. Kamu sudah mengatakan semuanya tentang dirimu saat kemarin ada di apartemenku, dan hal itu membuat aku ingin menjadi pakaianku.”


Jawaban Ameer membuat Sonia merasa menghangat hatinya, wanita itu sudah lelah dengan dosa yang selama ini menempel pada dirinya. Hal itu membuat dirinya kehilangan kepercayaan diri, sekali lagi dia berusaha meyakinkan dirinya atas apa yang dia dengar barusan.


Air mata Sonia mulai menganak sungai di pipi mulusnya, Wanita itu tidak ingin menutupi apapun lagi. Dia tidak ingin suatu hari Ameer akan mengungkit tentang masa lalunya yang salah.


Ameer tersenyum, pria itu berdiri dan tiba-tiba berlalu keluar dari ruang tamu yang tidak begitu luas itu. Pria itu mengambil sesuatu di mobilnya dan kini dia kembali masuk kedalam rumah dengan menenteng paper bag. Senyum tampan itu semakin membuat jantung Sonia tidak karuan detaknya, sesaat gadis itu mengusap air mata yang mengalir di pipinya.


Ameer mengeluarkan sebuah kain berwarna merah marun dengan hiasan yang cantik, pria itu memberanikan diri untuk duduk di sebelah Sonia. Dengan gerakan cepat dia membentang kain yang berbentuk pashmina itu, Sonia mengerjap-ngerjapkan matanya dan sejurus kemudian–

__ADS_1


“Berhentilah menjadi kupu-kupu dan ini adalah PASMINA UNTUK KUPU-KUPU. Aku berharap dan meminta mu untuk menggunakan penutup aurat mu mulai dari sekarang, apakah kamu bersedia wahai calon bidadari surgaku?” Tanya Ameer. Aksinya kali ini sungguh membuat Sonia meleleh, tidak hanya itu Rima dan Syam yang melihat itu dari kejauhan pun serentak menjatuhkan rahangnya.


Siapa wanita yang tidak meleleh di perlakukan seperti itu, wanita itu kembali mengeluarkan air matanya dengan senyum bahagia. Jawaban Ameer memang tidak menjanjikan apa-apa, tapi semua yang dilakukan pria itu mampu membuat dirinya kembali mendapatkan kepercayaan dirinya kembali.


Rima yang melihat adegan romantis namun tanpa adegan saling menyentuh itu pun hanya bisa menangis haru, gadis itu merasa senang melihat kakak angkatnya kini sudah ada yang melindunginya. Pria dengan kharisma yang membuat siapapun segan saat berhadapan dengan dirinya, kini akan menjadi kakak iparnya.


Syam juga merasakan hal yang sama, pria itu sangat takjub dengan bos sekaligus sahabatnya itu. Pria yang tulus menerima wanita yang selama ini memiliki kisah tidak biasa, masa lalu bukan menjadi penghalang baginya.


“Tapi Kak, bagaimana dengan orang tua Kakak? bagaimana dengan masa laluku?” Tanya Sonia lagi. Wanita itu ingin tuntas mendapatkannya dengan berbagai pertanyaan di kepalanya. Bukan tanpa alasan wanita itu melakukannya, ini semua agar dia bisa meyakinkan dirinya, apakah dia akan melangkah maju atau berhenti sama sekali.


“Mereka setuju, Tapi ….”


❤️❤️❤️


Naaahh kaan … kan… jangan tapi-tapian laah  Ameer. 🤔🤔


Haayuukk like, komen, vote dan hadiahnya ya pemirsaaahh. Follow dan subscribe ya. Tengkyuuuhh pemirsaah.

__ADS_1


❤️❤️❤️🤔🤔🤔❤️❤️❤️


__ADS_2