
Sonia mengangkat wajahnya, air mata kini sudah berderai. Percumah baginya membela diri saat ini, karena Zoya sudah mendengarkan semua yang dia katakan. Pergi saat ini, lalu bagaimana dengan tanggung jawab pekerjaan yang saat ini sedang berlangsung?
“Ibu Zoya, saya mohon berikan saya kesempatan hari ini menyelesaikan pekerjaan saya. Setelah acara selesai saya akan pergi dari sini sesuai dengan perintah ibu,” Ucap Sonia lirih.
“Saya juga mohon maaf kepada ibu, saya salah bu. Saya sudah berusaha untuk memperbaikinya, tapi–” Belum selesai Sonia menjelaskan Zoya sudah memotongnya.
“Bukan kamu yang salah, tapi saya yang salah. Saya salah sudah begitu percaya kepada kamu, saya sempat berharap kamu wanita yang berbeda Sonia. Tapi sayang, sekali lagi saya salah dan saya bodoh. Sudahlah Sonia, pergilah dari hadapanku. Bagian keuangan akan mengirimkan hak mu," titah Zoya lirih. Wanita itu benar-benar menekan semua rasa amarah yang menguasai hatinya, Sonia menundukkan kepalanya dan mengambil tas yang selalu dia bawa.
Keluar dari perusahaan dengan salam perpisahan berupa pengusiran, itu tidak pernah sedikitpun ada dalam pikiran Sonia. Tapi semua sudah terjadi, sekali lagi dia membungkuk hormat kepada kedua orang pemilik perusahaan itu. Setelah mengucapkan kata salam, wanita itupun melewati pintu dengan rasa berat.
Saat melewati Venue yang sudah mulai ramai, sesaat Sonia berhenti dan menatap sendu. Sekuat tenaga wanita itu menahan air matanya dan dengan langkah cepat, dia pun berlalu agar tidak di ketahui oleh siapapun.
Wanita itu sengaja berjalan sampai jauh dari supermarket, membawa hati yang sakit tapi tak mampu berbuat apa-apa. Sampai di sebuah taman kota dan tanpa terasa Sonia sudah sangat jauh dari Supermarket, wanita itu mencari tempat yang terlindung.
"Ya Allah, kuatkan aku dalam menerima hukumanmu. Aku menyesal ya Allah … hiks … aku menyesal. Bimbing langkah ini ke jalan yang benar ya Allah, hamba tidak ada siapa-siapa lagi di dunia ini kecuali engkau. Hiks …." Tangis Sonia pecah, dadanya terasa sesak. Sendiri, itulah yang dia rasakan saat ini.
*****
Di ruangan Sonia yang masih meninggalkan sepasang suami istri itu, keadaannya masih belum berubah. Zoya duduk di sofa dan Zaki pun duduk di sebelahnya, entah sudah berala lama kedua orang itu terdiam dengan pikirannya masing.
"Zoya, maafkan aku …." Ucap Zaki. Pria itu susah payah mengeluarkan kata keramat yang sedari tadi memenuhi ruang pikirannya.
"Kita punya perjanjian pra nikah Zaki, dan salah satunya adalah soal perselingkuhan. Apakah menurutmu aku harus memaafkanmu?" Tanya Zoya dingin. Hal inilah sebenarnya yang di takutkan oleh Zaki, Zoya tidak pernah marah meledak-ledak. Tapi jika sudah marah, maka keputusannya adalah mutlak.
__ADS_1
"Zoya, aku tau salah. Aku memohon kepadamu, berikan aku kesempatan sekali ini saja untuk memperbaikinya. Zoya a–"
"Zaki, apakah selama ini aku pernah mengecewakanmu? Apakah dengan kepemilikan ini semua, kau pikir bisa berbagi tubuhmu dengan wanita lain?" Tanya Zoya. Wanita itu merasa muak dengan kalimat klise sang suami, hatinya seketika patah.
"Kau yang terbaik Zoya, aku yang salah." Ucap Zaki menunduk. Dia sadar betul dengan kesalahan yang sudah dia perbuat, sudah bisa ditebak endingnya akan kemana.
"Selesaikan event ini, gantikan tugas Sonia dan setelah itu kita akan urus rumah tangga kita, aku tidak bisa hidup dalam bayang-bayang wanita lain Zaki. Aku rasa kamu paham apa yang aku maksud," ucap Zoya datar dan dingin. Wanita itu benar-benar mengeraskan hatinya, dia tidak ingin menangisi perbuatan dosa suaminya.
Zoya keluar ruangan dan meninggalkan Zaki begitu saja. Hebat sekali, tidak ada satupun karyawan yang mendengar keributan perang tak berdarah itu. Zoya kini sudah berbaur dengan para tamu kehormatan, karena acara akan segera dimulai.
Ustad Zaid yang sudah naik panggung dan memulai ceramahnya, membuat suasana berganti-ganti. Kadang tenang dan kadang riuh karena joke yang dilemparkan sang ustad tampan.
"Ibu-ibu disini ada gak yang sering bikin suaminya kesel?" Tanya ustadz Zaid. Dan di sahuti suara jawaban yang serentak.
"Alhamdulillah, itu berarti ibu-ibu semua tergolong wanita solehah. Kenapa bisa begitu? Iya doong, karena orang yang mulia di hadapan Allah adalah orang yang mau mengakui kesalahannya lalu bertaubat dan memperbaikinya. Toopp deh ibu-ibu yang ada di sini." Jawab ustad Zaid.
"Alhamdulillah …." Teriakan senang para jamaah.
"Eeiit tunggu dulu, masih ada lagi yang kurang. Itu semua masih belum sah kalau belum minta maaf kepada suami atau suami kepada istri. Satu lagi, orang yang memaafkan kesalahan pasangannya lalu memberikan kesempatan dan membimbingnya ke jalan yang benar, akan lebih mulia lagi. Jadi keduanya akan menjadi mulia di hadapan Allah, jika mau saling memaafkan dan meminta maaf dengan ikhlas karena Allah ta'ala." Sahut ustad Zaid.
Semua jamaah kembali riuh, acara terus berlangsung meriah. Zoya yang mendengarkan kalimat itu terdiam sesaat, jantungnya terasa nyeri saat berdenyut.
'Apakah aku harus memaafkannya? Tapi benarkah dia menyesai semuanya? Apakah aku masih bisa bersanding dengan dia yang sudah dijamah wanita lain?' pertanyaan terus saja perputar di kepala Zoya. Wanita itu menarik nafasnya dalam, kalimat sang ustad membuatnya jadi banyak berpikir.
__ADS_1
Acara demi acara selesai dan tibalah saatnya para tamu undangan pulang. Sang Ustad juga pamit undur diri, setelah berbincang ringan sebentar dengan Zaki dan Zoya.
Zaid yang tidak lain adalah Ameer berkali-kali melempar pandangannya, pria itu mencari seseorang yang sejak dia datang tapi sama sekali belum melihatnya.
"Syam, lo liat Sonia gak? Harusnya yang nyambut kita tadi kan dia? Kenapa jadi pak Zaki yang nongol?" Tanya Ameer setelah mereka masuk kedalam mobil.
"Nggak sih, makanya dari tadi gue juga nyari-nyari. Apa dia sakit ya?" Tanya Syam. Ameer merasa khawatir dengan Sonia, tadi saat berangkat wanita itu baik-baik saja. Dengan cepat tangannya mengambil ponsel dan menghubungi Sonia, tidak kunjung diangkat membuat Ameer menjadi khawatir.
Mobil melintasi taman yang tampak sepi, tapi sesaat mata Ameer menangkap sesuatu dan meminta Syam berhenti.
"Syam, itu bukannya Sonia?" Tanya Ameer. Syam mengurangi kecepatan kendaraannya, benar saja apa yang di lihat oleh sahatnya itu. Walau jarak mereka agak jauh, tapi mata kedua pemuda itu tidak sedikitpun terhalang.
"Berhenti Syam, dia bener Sonia. Ya Allah, kenapa dia?"
❤️❤️❤️
Hancurr deh semuanya
😭😭😭
Like, komen, vote dan hadiah ya pemirsah, jangan lupa subscribe. tengkyuuh pemirsaah.
❤️❤️❤️😭😭😭🌹🌹🌹
__ADS_1