
Waktu berlalu, Kabir sudah berangkat dan Sonia juga sekarang tinggal terpisah dengan sang putra. Ema selalu memanjakan sang cucu agar tidak teringat dengan Sonia. Hal ini membuat wanita cantik itu merasa sedih tapi dirinya harus tetap konsentrasi dengan pekerjaan barunya menjadi direktur di supermarket milik perusahaan induknya.
Sebagai seorang pimpinan, Sonia memiliki seorang sekretaris yang lumayan rame. Hal ini membuat Sonia nyaman di posisinya yang baru, Karena ini anak perusahaan baru, jadi Sonia harus bekerja lebih keras dan berpikir keras sehingga membuat dirinya sering sekali lembur.
Sesaat Sonia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, ternyata sudah jam 8 malam dan perutnya sudah terasa lapar. Paray karyawan yang shift siang akan selesai pukul 10 malam, jadi Sonia tidak sendirian di gedung itu.
Perutnya mulai keroncongan, tapi sesaat dia teringat Ajay, sedang apa putrnya sekarang, tadi mereka sempat melakukan panggilan video call, tapi hanya sebentar karena Ema memintanya untuk menyudahi karena harus berangkat mengaji.
Beberapa kali Sonia memanggil melalui aplikasi hijau namun tidak juga diangkat, apakah sang putra sudah tertidur? Sonia berusaha berpikiran positif dan kakinya kini melangkah ke kantin khusus karyawan. Saat membuka pintu kembali ponselnya berdering tanda ada pesan masuk. Dengan semangat Sonia membuka ponselnya dengan harapan sang putra yang menghubunginya namun sesaat seyum itu memudar.
pesan dari Zaki yang mengatakan dia sudah berada di restoran samping supermarket dan menunggunya disana. Dengan langkah berat Sonia akhirnya memilih untuk menemui Zaki, wanita cantik itu tahu bagaimana jika seorang Zaki mendapatkan penolakan darinya. Tidak ingin membuat masalah kini Sonia sudah duduk berhadapan dengan pengusaha sukses yang selalu lembut dan perhatian kepadanya.
“Kamu lembur?” Tanya Zaki sambil membuka buku menu yang disiapkan. Sonia yang sedari tadi diam pun mengangkat wajah, wanita itu menghentikan gerakan tangannya yang membolak balik buku menu.
“Iya,” Jawabnya singkat. Entah mengapa kali ini dirinya tidak bersemangat bertemu dengan Zaki, padahal ada rindu yang menguasai relung hatinya. Tetapi peristiwa malam itu yang membuatnya menahan diri untuk menjaga jarak dengan pria yang berstatus kekasih gelapnya itu.
“Kenapa? Apakah ada yang salah? Apa aku berbuat salah padamu?” Pertanyaan Zaki bertubi-tubi dan kembali membuat Sonia menarik nafas dalam. Wanita cantik itu bingung harus bicara apa, ingin meminta berpisah, tapi pasti Zaki tidak akan melepaskannya. Dan semua ucapannya pasti tidak lagi berguna.
Zaki mengambil tangan Sonia dan mengusapnya lembut, ada kenyamanan di hati wanita yang sedang dilanda kesepian itu. Kabir sudah 2 hari ini hanya mengirim pesan singkat dan tidak ada menghubungi Sonia seperti suami-suami orang yang lain akan berkali-kali menghubungi suaminya jika sedang berjauhan.
__ADS_1
“Jangan seperti ini, aku tidak ingin ada yang melihatnya dan akan menjadi salah paham.” ucap Sonia lirih sambil menarik tangannya. Zaki tersenyum. Sonia yang melihat senyum Zaki semakin membuat jantungnya berdebar. Sungguh Zaki adalah pria idaman, selalu memperlakukan wanita dengan lembut dan penuh perhatian.
“Ehem … maaf Nia, aku sulit mengkondisikan tanganku untuk tidak menyentuhmu.” Ucap Zaki dengan tatapan penuh arti. Sonia segera memesan makanannya dan ingin segera mengakhiri pertemuan itu.
“Tolong Zaki, jaga bicaramu. Ini tempat umum,” Ucap Sonia lirih namun penuh penekanan. Zaki terkekeh mendengar kepanikan dalam kalimat Sonia. Pria itu selalu suka dengan raut wanita yang sudah mulai bertahta di hatinya itu.
Perbincangan antara mereka pun berlangsung sambil menikmati makan malam. Pembahasan tentang grand opening dan berbagai tawaran kerjasama distributor untuk memasukkan barang ke supermarketnya. Selesai pembahasan itu semua, Sonia berniat untuk langsung pulang ke penginapannya.
“Aku antar saja, ini sudah malam.” Ucap Zaki yang juga berniat untuk pulang ke rumahnya. Sonia sedikit bimbang dan ingin menolak, tapi sedang berpikir apa alasan yang tepat.
“Sudah jangan terlalu banyak berpikir, aku tidak mau kamu kenapa-napa di jalan. Jadi sebaiknya aku antar saja,” Ucap Zaki lagi dan kini tangannya sudah menarik pelan tangan Sonia dan siap untuk melangkah. Sonia yang mendapatkan perlakuan mendadak itu tidak bisa berpikir lagi.
Dengan cepat Ema mengalihkan perhatian Ajay agar tidak melihat sang mama yang sedang bersama pria lain memasuki sebuah mobil mewah. Hati Ema semakin sesak dengan apa yang dia lihat, Kepercayaannya yang selama ini tidak pernah ada semakin kuat dan bahkan kini sudah semakin membenci.
‘Apa yang aku lihat malam ini semakin membuatku yakin bahwa wanita itu memang tidak pantas untuk putraku Kabir. Suami sedang bekerja di luar kota, dia malah enak-enakan hidup bebas dengan pria itu. Apa dia tidak pernah berpikir bagaimana nasib nama baik putraku? Kabir sudah di butakan oleh cinta dan kecantikan wanita ib-lis itu!’ Geram Ema dalam hati. Wanita itu terus saja merutuki nasib putranya.
“Nenek ayo kita pulang, Ajay ngantuk ….” Ajak Ajay yang membuat Ema tersadar dengan kesalahannya telah melamun terlalu lama. Dengan wajah kembali seperti biasa, Ema tersenyum melihat wajah tampan cucunya.
“Ayo sayang, kita pulang sekarang.” Sahut Ema dan kini menggenggam tangan sang cucu kesayangan menuju mobil yang di parkirnya di pelataran parkir supermarket.
__ADS_1
‘Kamu adalah pelita hati nenek sayang, nenek tidak akan membiarkan kamu dididik oleh wanita ja**ng itu. Kasihannya kamu cu, kamu terlahir dari rahim seorang wanita pendosa.’ Gumam Ema dalam hati, tanpa terasa setetes air bening kini lolos dan menganak sungai di pipinya yang mulai tampak keriput.
Sampai di rumah Ema mengurus Ajay dan menunggunya membersihkan diri dan menemaninya sebentar sampai bocah laki-laki itu tertidur di kamarnya. Ema mengusap sayang kepala Ajay dengan rasa sedih yang membuat dadanya sesak.
Ema kini sudah berada di kamarnya dan bersiap untuk menghubungi sang putra, kali ini dia tidak ingin dibantah lagi. Kesempatan untuk memberikan maaf kepada Sonia, sudah di ambang batas toleransinya sebagai ibu.
*****
Kabir yang baru saja menyelesaikan dakwahnya kini sudah berada di dalam kamar hotel yang di siapkan oleh panitia. Pria tampan itu melihat ponselnya yang berkedip dan ada nama sang ibu dilayar pipinya. Ponsel Kabir memang di silent setiap kali dia menjalankan pekerjaannya dan dengan senyum terkembang pria itu menggeser icon hijau dan panggilanpun tersambung.
“Assalamualaikum bu,” Ucap Kabir senang. Pria itu sangat merindukan putra semata wayangnya, dan seperti biasa sang ibu akan menghubunginya untuk bisa berbincang dengan sang putra.
“Waalaikumsalam, Kabir ibu minta kali ini Ceraikan Sonia!”
❤️❤️❤️
Waahh mentok nih kesabaran Ema. 😰
Yuukk mari like, komen, vote dan subscribe yaahh. tengkyuuh pemirsaahh.
__ADS_1
❤️❤️❤️😰😰😰🌹🌹🌹