Pashmina Untuk Kupu-kupu

Pashmina Untuk Kupu-kupu
Bab 23: Pemakaman Ajay


__ADS_3

Tidak butuh berdandan, dengan wajah yang pucat dan mata sembab kini Sonia sudah berada di jalan. Dia ingat apa yang dikatakan ustad, menangisi orang yang meninggal boleh, tapi tidak boleh meratapinya. Sonia terus berdzikir dan menguatkan hati. Rima yang menyetir mobil Sonia berusaha untuk tetap fokus pada jalanan, sesekali Rima melihat ke arah Sonia yang berusaha membendung air matanya.


‘Ternyata berat juga hidupnya Mbak Nia, berpisah dengan suami dan kini harus berpisah dengan putra tercinta untuk selama-lamanya. Aku akan selalu ada untukmu Mbak, Semoga pertemuan kita ini membawa kebaikan dunia akhirat.’ Gumam Rima dalam hati. Gadis itu sudah memasuki jalan yang menuju rumah Kabir, terlihat orang mulai ramai memenuhi rumah itu. 


Sonia dan Rima keluar dari mobil, rasa sesak semakin memenuhi dadanya. Rima memeluk pundak Sonia untuk menyalurkan kekuatan agar wanita itu tidak limbung. 


Jenazah Ajay sudah rapi, dan kini di baringkan di ruang tamu. Kabir menoleh saat Sonia mengucapkan salam, langkah kaki wanita itu seakan berat untuk masuk. Matanya hanya tertuju ke arah jasad yang sudah di bungkus kain kafan, hanya wajahnya saja yang kini terlihat. 


Ajay tersenyum dan nampak tenang dalam tidur panjangnya, Sonia tidak bisa menahan tangisan yang sedari tadi ingin meledak. Kabir mendekati Sonia, mata pria itu nampak sembab sisa menangis. Ema yang biasanya bermulut pedas, kini sedang khusyuk membaca yasin. 


“Ikhlaskan dia Nia, Allah sangat menyayangi putra kita.” Ucap Kabir dengan suara yang serak. Kini pria itu duduk di sebelah Sonia yang sedang membelai wajah sang putra dengan diam seribu bahasa. 


Hati seorang ibu akan hancur saat melihat sang putra berangkat meninggalkannya pergi terlebih dahulu, itulah yang saat ini dirasakan oleh Sonia. Bayangan saat melahirkan bayi lucu itu dan membesarkannya, kembali menghiasi pikiran Sonia. 


“Apa yang menyebabkan dia meninggal Mas? Tanya Sonia tanpa menoleh sedikitpun ke arah Kabir. 


“Ajay tidak mengalami apapun Nia, dia sehat. Beberapa hari terakhir ini dia sering menanyakan kehidupan setelah kita meninggal, awalnya aku menganggap dia sedang mempelajari hal itu di sekolahnya. Tapi ternyata, itu adalah tanda dia akan pulang. Saat sholat Ashar tadi, Ajay tidak bangun dari sujudnya. Sampai sholat selesai dan saat kami bangunkan, ternyata Ajay sudah berpulang dengan senyum menghias bibirnya. Kepergian yang indah, di saat sedang sholat dan tidak merasakan sakit sedikitpun saat malaikat maut mengambil ruhnya.” Ucap Kabir panjang lebar. 


Nia menoleh ke arah Kabir, pria itu pasti tidak sedang berbohong. Di belakang mereka orang-orang yang melayat pun membenarkan apa yang Kabir ucapkan. Ajay ikut sholat berjamaah di masjid, jadi saksi yang melihat hal itu sangat banyak. 


Sonia menangis tergugu, wanita itu semakin merasa dirinya kotor dan memohon ampunan kepada Allah. Semua doa terbaik untuk sang putra, dia langitkan dengan sepenuh hati.


‘Maafkan Aku mas, aku ingin di antara kita kelak tidak ada yang saling memberatkan karena ada rasa yang belum termaafkan. Kepergian Ajay membuat ku sadar, bahwa kematian tidak memandang usia. Tidak peduli tua atau muda, tidak peduli itu anak-anak atau orang dewasa. Aku selama ini banyak melakukan kesalahan, di depan jenazah anak kita, aku mohon Mas Kabir mau memaafkan aku. Jika pun aku berumur pendek maka aku tidak akan terhalang langkahku saat menemui Rabbku.” Ucap Sonia. 

__ADS_1


Kabir terpaku mendengar kalimat tulus dari wanita yang sudah dia talak itu, saat ini sungguh berat bagi kabir dalam menjalani hidup. Rumah tangganya hancur dan kini sang buah hati pun berpulang kepada sang pencipta untuk selamanya. 


Para pelayat yang ikut mendengarkan obrolan mantan suami istri itu pun ikut terharu, masing-masing hati kini merasa sedang teriris. Pasalnya mereka tanpa sadar selama Sonia keluar dari rumah itu, saling melempar ghibah. Berita Sonia selalu menjadi trending topic di wilayah mereka, tapi sekarang mereka pun mulai introspeksi diri. 


“Nia … jangan bicara begitu, maafkan aku yang mungkin belum bisa menjadi imam dan pelindung yang baik untuk dirimu. Aku banyak andil kesalahan untuk kesalahan yang kamu sudah lakukan, Maafkan aku Nia … semoga kita bisa saling ikhlas menerima takdir yang Allah tetapkan.” Ucap Kabir dengan suara bergetar. Pertemuan yang sungguh mengharu biru, beberapa orang yang bisa mendengarkan obrolan mereka merasa ikut bersedih. 


Air mata duka itu bercampur dengan air mata penyesalan, bagi masing-masing hati yang merasakan dosa. Ternyata kepergian Ajay membawa hikmah yang besar, banyak pelajaran yang diambil oleh Kabir dan Sonia. 


Sesuai permintaan Ajay semasa hidup, dia ingin ketika nanti meninggal, langsung dikuburkan walaupun hari sudah malam. Hal itu pun dipenuhi oleh Kabir dan Sonia. Setelah makamnya di siapkan, malam itu juga Ajay dibawa ke peristirahatan terakhirnya. 


Rima selalu berada di sisi Sonia, Kabir sempat melihat Rima yang begitu dekat dengan mantan istrinya. Pria itu ingin bertanya, tapi saat ini dirasa waktunya belum tepat. Semua pelayat sudah kembali ke rumah masing-masing. Tempat pemakaman yang tidak jauh membuat Ajay dengan mudah mencapai tempat tinggalnya yang baru. Sonia dan Kabir serta Rima masih setia berada di pemakaman, jika area kuburan menyeramkan tidak dengan kuburan di wilayah tempat tinggal Kabir. 


Area pemakanan yang tertata rapi, serta terang benderang membuat siapapun yang melayat di jam malam merasa aman. Setelah puas melantunkan ayat suci, kini Kabir dan Sonia serta Rima mulai berjalan untuk keluar dari area pemakaman itu. 


“Mas, aku pamit pulang. Sekali lagi maafkan semua kesalahanku.” Ucap Sonia dengan suara yang parau karena terlalu banyak menangis. Kabir pun mengangguk. 


“Oh iya mas, kenalin ini adik angkat ku, Rima.” Ucap Sonia. Rima tersenyum dan langsung menjatuhkan pandangannya. Gadis itu tidak ingin menatap pria yang ada di depannya itu berlama-lama. 


“Rima,” ucap Rima. 


“Kabir,” Sahut Kabir. 


Setelah berbincang sejenak Kabir dan Sonia berpisah. Kini kedua wanita beda status itu sudah berada di dalam mobil dan siap membelah jalan raya yang masih terlihat ramai. 

__ADS_1


Sesekali mereka berbicara, Rima berusaha membuat Sonia tidak larut dengan kesedihannya. Sonia bersyukur di pertemukan dengan gadis yang bijak seperti Rima. Walau usia mereka terpaut beberapa tahun, tapi Rima nampak matang dalam bersikap. 


Karena tadi belum sempat makan, kini mereka berdua merasa perutnya sudah meronta untuk meminta haknya. Rima mengajak Sonia untuk makan di luar, tapi Sonia ingat kalau dirinya tadi sempat masak. 


“Mbak kita makan dulu yuk,” Ucap Rima. 


“Eh … Rim, tadi Mbak sempat masak untuk kita makan malam. Gimana kalau kita makan di rumah aja. Lagian ini kayaknya mau hujan suara gluduk mulai bersahutan,” sahut Sonia. Rima tersenyum, dan mengangguk. 


“Oke mbak, kita langsung pulang aja ya, Mbak ada mau beli sesuatu mungkin?” Tanya Rima lagi. 


“Emmm Nggak kayaknya Rim, kita pu–” belum sempat Sonia menyelesaikan ucapannya tiba-tiba mobil mereka ditabrak dari belakang dan seperti di dorong oleh sang penabrak. 


Braaakk!


Sreeett!


“M-mbak ada apa ini?” Tanya Rima panik. Sonia membuka jendela dan menoleh kebelakang, dia melihat seseorang sedang melambaikan tangan di bangku penumpang dan berteriak. 


“Tolooong kami, rem kami blooong!”


❤️❤️❤️


Waduuhh ayooo tolongiiin ... 😱

__ADS_1


Yuukk jempolnya di banyakin pemirsaaahh, komen, vote subscribe ya. Jangan lupa hadiahnyaa. Tengkyyyyuuuh pemirsaah.


❤️❤️❤️😱😱😱🌹🌹🌹


__ADS_2