Pashmina Untuk Kupu-kupu

Pashmina Untuk Kupu-kupu
Bab 15: Ke Apartemen Zaki


__ADS_3

Kabir menoleh ke arah Sonia sekilas dan kembali menatap ke sepasang netra sang putra. Pikirannya sedang buntu, karena masih kesal dengan sang istri yang tadi malam baru saja di talaknya, Sonia tidak bereaksi sedikitpun dan dia lebih memilih Kabir yang menjelaskan kepada putranya. 


“Ajay, Mama ada tugas penting yang harus dikerjakan. Dan itu dalam waktu yang lama, papa juga nggak tau sampai kapan. Ajay disini sama papa dan nenek ya,” Jawab Kabir. Pria itu sebenarnya sangat bingung harus menjawab apa, tapi untuk sementara Ajay terpaksa menganggukkan kepala. 


Sonia sudah siap berangkat dan kini wanita itu, harus mati-matian menahan air matanya agar sang putra tidak berat melepaskannya. Ajay memeluk lama sang mama, seakan bisa merasakan kesedihan namun tidak bisa mengungkapkannya. 


Kabir dan Ema berusaha seperti biasa dengan senyum terkembang melepas kepergian wanita itu yang sudah melajukan mobilnya meninggalkan rumah milik calon mantan suaminya. 


“Sebaiknya aku kembali ke penginapan kemarin, setelah itu baru aku akan menentukan kemana langkah ini akan ku bawa. Ya Allah … inikah hukumanmu kepada hamba, Jika iya maka berikan hamba hati yang kuat menjalaninya ya Allah ….” Ucap Sonia lirih. Wanita itu berusaha untuk tetap stabil, agar hari ini dia tetap bisa konsentrasi bekerja. 


Bukan hal mudah melakukan semua itu, tapi Sonia yang terbiasa hidup di panti dengan banyaknya tekanan, menjadikan dirinya sebagai wanita yang tidak mudah menjatuhkan air mata.  


Sonia sudah memasuki ruang kerjanya dan setumpuk dokumen pun siap untuk dia pelajari satu persatu. Para distributor siap bekerjasama dengan supermarket yang kini dikelola oleh Sonia, Wanita dengan kecerdasan yang tidak bisa di ragukan itu pun kini mulai berkutat dengan pekerjaannya sampai tidak dia sadari seseorang kini sudah berada di hadapannya. 


“Serius sekali sampai aku datang kamu tidak tau?” Tanya Zaki dengan senyum menawan mengalahi iklan odol di televisi. 


“Astaghfirullah, Zaki! kamu membuat jantungku copot saja. Ada perlu apa sampai bos besar datang kesini?” Tanya Sonia datar. Wanita itu tiba-tiba merasa moodnya jadi buruk saat bertemu dengan orang yang selama ini selalu membuatnya bahagia. Tapi kali ini tidak, kejadian yang menimpanya dari semalam dan sampai akhirnya hari ini dia harus keluar dari rumah sang suami dengan tidak hormat. 


“Hey, aku datang dengan membawa rindu, tapi kenapa wajahmu masam seperti itu sayang?” Tanya Zaki yang kini sudah duduk di meja tempat Sonia mengerjakan pekerjaannya. Wanita itu merasa malas sekali meladeni gombalan Zaki yang rasanya sekarang membuat dirinya muak. 


“Zaki, aku mohon jika tidak ada urusan penting mengenai pekerjaan, maka pergilah. Aku akan menyelesaikan pekerjaan ku dan hari ini aku akan sangat sibuk, jadi aku mohon jangan menemui ku selain urusan pekerjaan.” Jawaban Sonia sungguh membuat Zaki merasa aneh dan mulai tersinggung. Selama ini dirinya tidak pernah ditolak oleh wanita yang sudah mengisi separuh ruang di hatinya itu.


“Sonia … aku merasa kamu sudah banyak berubah. Jangan pernah berpikir untuk menjauh atau pergi dariku, karena aku tidak akan pernah melepaskanmu.” Nanti malam temui aku di apartemen dan aku minta kejelasan dari semua sikap konyolmu ini.” Ucap Zaki kesal. Pria itu merasa sangat jengkel hari ini dan tanpa menunggu jawaban atau penolakan dari Sonia, Zaki pun pergi begitu saja. 

__ADS_1


Sonia menatap punggung tegap yang kini sudah menghilang di balik pintu yang dibanting kasar oleh pemilik perusahaan besar itu. 


Brak!


“Huuufff … Aku harus mengakhirinya. Berpisah dari Kabir dan Zaki, begitulah sepertinya takdir yang aku alami. Apakah aku juga akan kehilangan Ajay? Ya Allah … kuatkan aku.” Ucap Sonia lirih dan tanpa terasa setetes air bening itu pun menganak sungai di pipi mulusnya. 


Tanpa terasa waktu dengan cepat berlalu, Sonia sudah menyelesaikan pekerjaannya dan kini wanita itu bersiap untuk pergi ke penginapan yang kemarin sempat dia tempati selama Kabir keluar kota. Sesampainya di kamar yang sudah dia pesan, Sonia pergi membersihkan diri dan melaksanakan kewajiban sebagai umat muslim. 


Teringat akan janji sang bos besar, wanita itu berusaha untuk menata hati. Inilah waktu yang tepat untuk menyelesaikan semuanya, Entah mengapa Sonia merasa gelisah dengan apa yang sudah dia lakukan selama ini. Mengakhiri semua kisahnya dengan dua orang laki-laki yang selama ini menemaninya dalam menjalani hidup adalah pilihan yang terbaik.


Bayangan kematian yang menakutkan berhasil membuat dirinya sadar untuk berhenti bersenang-senang dengan pria yang tidak halal disentuhnya. Setelah memasukkan beberapa makanan untuk mengganjal perutnya, Wanita itu kini sudah membelah jalanan ibu kota. 


Mobill yang di kendarai oleh Sonia melaju dengan kecepatan sedang dan jarak penginapan dengan apartemen tidak terlalu jauh, sehingga wanita itu tidak membutuhkan waktu lama sudah sampai di parkiran gedung hunian yang menjulang tinggi itu. Dengan cepat Sonia menuju lift dan karena pikirannya sudah fokus dengan tujuan sampai tanpa sadar dirinya tidak memperhatikan sekitar. 


“Aww … Ssshh, Ma-maaf tuan, saya tidak sengaja.” Ucap Sonia yang mendesis karena dirinya sudah menubruk seseorang. Seorang pria tampan dengan tatapan teduh kini beradu pandang dengan sepasang netra Sonia. Senyum ramahnya membuat siapapun yang melihat merasa tenang. 


“Anda tidak apa-apa nona?” Tanya pria itu. alih-alih menanggapi permintaan maaf Sonia pria itu malah mengkhawatirkan wanita yang merasa tidak enak saat ini. 


“Tidak apa, Maaf tuan.” Ucap Sonia canggung. 


“Alhamdulillah kalau anda tidak apa-apa.” Sahut pria itu. 


Ting!

__ADS_1


Pintu lift pun terbuka dan Sonia pun bergegas keluar setelah berpamitan dengan pria yang tadi sudah dia tubruk. 


Sonia sudah hafal dengan password apartemen Zaki, tanpa membuang waktu lama wanita itu kini sudah berada di unit yang cukup mewah itu. Pandangannya mengedar dan tidak mendapati pria yang sudah memintanya untuk datang. 


“Zaki … aku sudah datang!” teriak Sonia. Biasanya wanita itu langsung masuk ke kamar Zaki tapi kali ini dia memilih untuk duduk di sofa ruang tamu. Zaki yang berada di dalam kamar pun merasa heran kenapa Sonia berteriak memanggilnya, biasanya wanita itu akan langsung mendatanginya ke kamar. 


Zaki semakin heran dengan perubahan drastis yang ditunjukkan oleh wanitanya itu. Dengan langkah lebar pria yang sudah menggunakan celana pendek serta kaos oblong itu kini sudah mendekati Sonia dan duduk di sebelah wanita yang selalu membuatnya mabuk kepayang itu. 


“Kau sudah makan?” Tanya Zaki dengan tangan yang dengan cepat meraup pinggang sonia dan tubuh ramping itu pun langsung menempel pada tubuh Zaki. Mendapat perlakuan yang biasanya, Sonia pun berusaha melepaskan tangan kekar milik pria itu. 


“Jangan seperti ini Zaki, Tolong kondisikan tanganmu. Lepas!” Ucap Sonia pedas. Zaki menatap penuh selidik ke wajah wanita yang semakin membuatnya bertanya-tanya. 


Cup! 


“Zakiiii!”    


❤️❤️❤️


Harus tegass deh Sonia 😏.


Yuukk jempolnya pemirsaaahh, komen, vote dan hadiahnya ya. maafkan othor masih sering libur karena sibuk nginem di rmh. 🤭. tolong semangati diri ku iniiihh... tengkyuuhh pemirsaaah.


❤️❤️❤️😏😏🤭🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2