Pashmina Untuk Kupu-kupu

Pashmina Untuk Kupu-kupu
Bab 19: Sebuah Pertemuan


__ADS_3

Ameer seperti mendapatkan rejeki nomplok, baru kemarin rasanya dia membayangkan wanita itu dan kini dia datang sendiri tanpa susah payah Ameer mencarinya. 


Seulas senyum membuat wajah tampannya semakin bersinar, seperti sabun cuci piring. 


"Ahh … kebetulan sekali kami memang membutuhkan karyawan, kapan anda akan mengirimkan lamaran kerja nya nona?" Tanya Ameer. Asal readers tau apa yang sekarang sedang Ameer lakukan, pria itu jejingkrakan tak karuan saking bahagianya.


Syam yang baru saja memasuki ruangan bosnya itu melihatnya dengan bingung, apa yang sedang Ameer lakukan sambil bicara formal di telepon sementara gerakannya seperti orang sedang zumba.


Tidak lama pembicaraan berakhir, Ameer yang melihat kehadiran Syam di ruangannya hanya tersenyum kecut. Pria itu sedikit salah tingkah karena dia sudah bisa memastikan pasti Syam melihat apa yang tadi dia lakukan. 


Sementara di ruangan Sonia, wanita itu tersenyum cerah, dia sudah menyiapkan lamaran kerja dan curriculum vitae nya dan hanya tinggal mengganti kop surat nya saja. Lega mendapatkan tempat kerja yang baru, Sonia pun kini bersiap untuk menyelesaikan misi acara pembukaan supermarket sesuai keinginan Zoya. 


Sonia menghubungi management ustad Zaid dan dengan cepat dia pun mendapatkan kesepakatan untuk tanggal 27 Juni 2023 ini acara akan diselenggarakan. Setelah membahas semuanya wanita itu pun menyudahi komunikasinya dan tidak lupa dia memberikan nomor orang yang akan mengurusi keperluan sang ustad saat berada di lokasi dan sepanjang acara. 


Tanpa terasa hari sudah sore, Sonia mengemas semua barangnya dan berniat untuk pulang. Rumah kontrakannya sangat membuat wanita itu merasa nyaman, selama ini Sonia memang sedikit tertutup sehingga dia tidak memiliki teman dekat atau sahabat. 


Hujan tiba-tiba turun dengan derasnya, wanita itu melajukan mobilnya dengan hati-hati. Tidak butuh waktu lama, Sonia pun sampai dirumah. 


“Ya Allah, hujannya deres banget. Sebaiknya aku mandi terus sholat dulu, abis tu baru makan.” Ucap Sonia lirih dengan dirinya sendiri. Tidak lupa wanita itu mengunci semua pintu, setelah memastikan terkunci barulah dia beraktifitas seperti yang dia rencanakan tadi. 


Sonia kini sedang menyiapkan lamaran kerja untuk ke perusahaan ZA Group, di temani dengan cemilan yang sempat dibelinya di tempat dia bekerja dan teh hangat. Tiba-tiba bel rumahnya berbunyi, Dengan cepat Sonia berdiri untuk melihat siapa yang datang. 


Ting tong!

__ADS_1


Sonia mengintip dan setelah memastikan orang yang datang dia mengenalnya, lalu wanita itu pun membukakan pintu. Ternyata bu Ida, pengurus panti asuhan yang ada di sebelah rumahnya. Setelah mengucap salam dan Sonia pun menjawabnya, wanita cantik itu mengajak tamunya untuk masuk. 


“Maaf mbak Sonia, saya mengganggu anda malam-malam. Eh ini kenalkan dulu mbak, keponakan saya Rima.” Ucap bu Ida setelah berbasa-basi di awal pembicaraan.


“Nggak papa bu, oya kenalkan saya Sonia.” Ucap Sonia mengulurkan tangan kepada gadis berhijab yang di kenalkan oleh bu Ida. 


“Rima, maaf sudah mengganggu mbak Sonia.” Ucapnya ramah. 


“Maaf bu Ida, ada apa ya, kok malam-malam kesini?” Tanya Sonia dengan sopan. 


“Ini mbak Sonia, saya mau minta tolong. Keponakan saya dari kampung mau nyari kerja di sini. Kemaren sudah masukin lamaran kerja dan besok sudah mulai ada yang manggil untuk di interview, Nah karena di panti sudah nggak ada tempat, saya sendiri di kamar kan sudah berdua dengan Surti. Jadi saya minta tolong bisakah untuk sementara Rima numpang disini?” Tanya bu Ida dengan sungkan. 


Sonia merasa senang karena dengan sangat mudah Allah mengabulkan doanya, tadinya dia merasa kesepian saat dirumah sendirian. Dengan senyum manisnya Sonia mengangguk. 


“Nggak papa mbak Nia, itu ibu masih ada kasur kapuk bisa nanti di bawa kesini. Untuk baju-baju, biar sementara di dalam tas aja dulu.” Ucap bu Ida. Wanita itu kini sudah bernafas dengan lega karena keponakannya berada di tempat yang aman.


Berasal dari panti asuhan dan dibesarkan di panti asuhan membuat Sonia memahami dengan baik bagaimana hidup di panti. Tanpa ada prasangka buruk, akhirnya mereka pun menyudahi pembicaraan dengan masuknya Rima ke dalam rumah Sonia.  


Hujan mulai reda, Bu ida di bantu oleh mang Ijul membawa kasur kapuk yang di gulung dengan seprei ke rumah Sonia dan menempatkan di kamar yang berhadapan dengan kamar Sonia. Setelah semuanya beres, kini tinggalah Sonia dan Rima. 


Ternyata Rima anak yang ramah dan periang, hal ini membuat Sonia merasa terhibur. Mereka Pun berbincang ringan sampai akhirnya tanpa mereka sadari, dengan cepat seperti sudah saling kenal lama. 


“Jadi mbak mau pindah kerja?” Tanya Rima setelah obrolan panjang mereka. 

__ADS_1


“Iya Rim, biar ada kemajuan karir lah, kalo di situ-situ aja ntar nggak berkembang dong.” Sahut Sonia dengan menutupi masalah yang sebenarnya. 


“Iya juga sih mbak, besok Rima mau interview di dua perusahaan mbak, doain ya mbak. Eh iya kalo misalnya Rima sudah kerja, sebaiknya Rima bayar uang kos aja ke mbak, gimana mbak?” Tanya Rima. Gadis itu merasa tidak enak, kalau menumpang dan menjadi beban buat orang yang baru saja dikenalnya. 


“Hmm … Gini aja, kamu kerja aja dulu. Kalau mbak ngerasa perlu bantuanmu, maka mbak akan utarakan. Rima … mbak sangat tau gimana merintis karir dari awal, karena mbak juga mengawali semuanya dari nol. Kamu tau, mbak juga berasal dari panti asuhan.” Jawab Sonia dengan ringan dan senyum tulus yang menghiasi wajahnya. 


Rima terkejut mendengar apa yang barusan di ucapkan oleh Sonia, gadis itu menatap kagum wanita yang sudah menolongnya. Rima merasa senasib dengan Sonia, tanpa terasa kedua matanya kini sudah berembun. 


“Mbak, berarti kita sama ya. Sebenarnya saya bukan keponakan bu ida kandung. Saya yatim piatu yang diangkat menjadi keponakan oleh bu Ida, karena ibu saya sahabat bu Ida. Beliau yang mencarikan donatur untuk membiayai sekolah saya mbak,” Ucap Rima dengan mata yang sudah memerah. Sonia terkejut mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh gadis cantik itu.  


Greb!


Sonia memeluk Rima, dia tidak menyangka sama sekali kalau ternyata dirinya tidak sendiri. Saat kemarin dia di usir oleh Kabir dan di cerai lalu dia bertekad untuk berpisah dari Zaki, Sonia merasa sendiri. Allah maha kasih dan dengan cepat kesedihannya digantikan dengan seseorang yang sama-sama sendiri untuk menemani hari-harinya. 


“Rima, kita adalah orang-orang yang beruntung. Kita dipertemukan Allah dengan latar belakang yang sama dan mbak berharap pertemuan ini membuat kita bisa saling mengisi dalam kebaikan.” Ucap Sonia sambil memeluk erat tubuh Rima. 


❤️❤️❤️


Lembaran baru di buku yang baru, semangaatt hijraaahh Sonia. 🥰


Yuuukk ramaikan like, vote, komen, hadiah dan subscribe nya ya pemirsaahh. tengkyuuuhh.


❤️❤️❤️🥰🥰🥰🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2