
Suara lirih Sonia memecah keheningan ruangan yang berisikan 3 orang, Sonia menatap Ameer dengan semua beban yang ada dalam hati dan pikirannya.
Pria itu mengusap wajahnya kasar, Amerr berusaha menerka-nerka apa yang sebenarnya dialami oleh Sonia.
"Sonia, siapapun hamba Allah yang menyadari kesalahannya dan bertaubat dengan sungguh-sungguh, berjanji tidak mengulangi lagi. Allah maha pengampun dan Allah menyukai orang-orang yang bertaubat, Nia ada apa sebenarnya?"
Tanya Ameer lembut, pria itu sangat berhati-hati kali ini dalam bicara. Seorang wanita yang sedang terluka, akan sangat mudah untuk hancur berantakan.
Sonia menatap Ameer sesaat, lalu pandangannya pun peralih pada sosok wanita paruh baya yang diminta Ameer untuk ikut duduk. Jangan ditanya saat ini bagaimana detak jantung Ameer, namun pria itu berusaha untuk menjaga pandangannya. Sebagai orang yang memahami tentang agama, Ameer berusaha untuk menjaga dirinya. Tapi sekali lagi tiap manusia tidak luput dari salah, khilaf dan dosa. Begitu juga dengan Ameer dengan identitas samarannya sebagai ustad, yah … ustad juga manusia kan?
“Sonia, jangan pernah berpikir tentang putus asa. Percayalah setelah kesulitan, maka akan ada banyak kemudahan. Semua itu akan kita dapatkan, ketika kita ikhlas dan mau terus bersandar kepada Allah.” Ucap Ameer berusaha menguatkan. Sonia mengusap air matanya yang kembali meleleh, wanita itu berusaha mengerti dengan kalimat yang barusan di berikan Ameer kepadanya.
“Kak Ameer, sebaiknya Nia pulang saja. Jangan pernah temui Nia lagi kak. Nia tidakk ingin nanti kak Ameer terkena keburukan, yang ada pada diri wanita hina ini.” Ucap Sonia dengan tangis yang kembali terdengar.
“Sonia, bukankah kita berteman? Seorang teman akan menjadi pelindung bagi teman yang lainnya. Ceritalah Sonia, kita akan mencari solusinya bersama.” Ucap Ameer. Pria itu tidak ingin menuruti permintaan wanita yang sedang rapuh itu.
Tangis Sonia kembali terdengar pilu, ingin sekali rasanya Ameer memeluk dan memberikan ketenangan pada wanita yang sedang rapuh itu. Tapi semua tidak bisa dia lakukan, Ameer mengambilkan gelas yang berisikan air mineral dan memberikannya pada Sonia yang kini sudah mulai reda tangisnya.
“Kak Ameer, apakah setelah semuanya Nia ceritakan ini, kakak akan berubah kepada Nia?” Tanya Sonia ingin memastikan. Ameer tersenyum, dia sudah menyiapkan hatinya untuk apapun yang akan dia dengar. Entah apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya, tapi rasa ingin melindungi sangatlah kuat terhadap wanita yang ada di hadapannya itu.
__ADS_1
Sonia mengatur nafasnya dan mengeluarkannya perlahan, wanita itu bersiap utuk menceritakan semuanya dengan gamblang dan tidak ingin dia tutupi. Saat ini Sonia ingin mengeluarkan semua beban yang selama ini dia bawa dengan menutupi apapun itu, apakah ini keputusan yang bijak? Sonia tidak peduli, dia ingin keluar dari bayangan masa lalu.
Cerita Sonia mengalir dari awal dimana dia seorang istri dari Kabir, sesaat wajah Ameer berubah. Seakan familiar dengan nama itu, tapi Ameer tidak menyala sama sekali apa yang diceritakan oleh Sonia.
Perlakuan Ema kepadanya dan sikap Kabir terhadap dirinya dan pernikahannya. Kepergian Ajay yang selama ini menjadi semangatnya sampai dengan perselingkuhan Sonia dengan Zaki dan akhirnya terbongkar semua hari ini.
Semua mengalir begitu saja, Sonia benar-benar menumpahkan semua beban di hatinya kepada pria yang baru saja dia kenal. Ameer terus saja mendengarkannya, rasa iba menguasai hati pria tampan dengan status bujangan itu.
‘Jadi Sonia Janda, ya Allah kasihan sekali wanita ini. Hidup sebatang kara dengan beban hidup yang tidak semua wanita akan sanggup menerimanya.’ Gumam Ameer dalam hati. Sonia masih setia dengan ceritanya dan sesekali wanita itu meluapkan dengan pertanyaan dan dia jawab sendiri.
*****
Ceklek!
Mereka berdua masuk dan Zaki pun menutup pintu kamar mereka dengan tidak lupa menguncinya. Zoya melempar tas tangannya di sembarang tempat, jangan ditanya bagaimana dengan wajah wanita itu yang sudah tidak ada ramah-ramahnya.
“Zoya, sudah bisakah kita bicara?” Tanya Zaki.
“Aku ingin ini adalah hari terakhir kita saling bicara Zaki,” Jawab Zoya. Wanita itu sudah tidak lagi menggunakan kata sayang untuk suaminya.
__ADS_1
“Aku mengaku salah, semua itu aku lakukan dengan sadar dan memang aku mencintai Sonia. Hal itu bukan berarti aku tidak mencintaimu Zoya, kau adalah hidupku dan aku tidak ingin kehilanganmu.” Ucap Zaki dengan berani. Semua sudah kepalang tanggung, tidak ada lagi gunanya menutupi. Zaki tidak ingin Zoya menyerang Sonia, walau bagaimanapun Zaki tidak ingin membuat wanita yang sudah mengisi hatinya itu semakin susah dan hancur.
Duaaaaarrr!
Bagai petir yang menyambar tubuhnya, Zoya merasakan hatinya tergores dan luka itu terasa sangat dalam. Wanita itu merasakan rasa sesak di dada saat mendengarkan pernyataan suaminya, Sonia menghembuskan nafas kasar dan menghempaskan tubuhnya di pinggiran kasur empuk berukuran king size.
“Apa kau sadar dengan ucapanmu Zaki?” Tanya Sonia. Tampak jelas oleh Zaki saat ini istrinya benar-benar terluka. Pria tampan dengan bentuk tubuh sempurna itu mengangguk lesu, dalam pikirannya tidak bisa dia memprediksi apa yang akan dilakukan oleh istrinya.
“Apa tujuanmu menjalin hubungan dengannya Zaki?” Tanya Zoya dalam. Wanita itu tidak meledak-ledak sama sekali, hal ini yang justru membuat Zaki kebingungan dan sulit menebak.
“A-aku tidak punya tujuan apapun Zoya, karena semuanya mengalir begitu saja. Tolong jangan salahkan sonia, karena dia sudah meminta ku untuk meninggalkannya.” Sahut Zaki lirih, pria itu kembali tertunduk. Tatapan mata Zoya lurus dan tajam menatap pria yang sudah lama menjadi suaminya itu.
“Zaki, aku minta kamu bawa Sonia kesini dan nikahi dia. Itu keputusanku,”
**********
Waduuhh Zoya keputusannya kok gitu???
Yuuukk Like, komen, vote dan hadiahnya ya pemirsah, jangan lupa subscribe. tengkyuuhh pemirsah. Love buat semua.
__ADS_1