
Deg!
Kabir yang mendengarkan kalimat pertama dari ibunya langsung kaget dan sesaat jantungnya berpacu dengan cepat. Pria itu tidak tau apa yang sudah terjadi, bukannya Sonia Tidak tinggal di rumah? Itu artinya tidak akan ada pertengkaran kan antara istri dan ibunya? Sesaat Kabir terdiam dan berusaha mengatur nafasnya yang tiba-tiba sesak.
“Ibu, ada apa? Kenapa malam-malam begini ibu marah,” Ucap Kabir dengan nada bicara lembut seperti biasanya. Ema terisak menangis karena sedari tadi wanita bermulut pedas itu menahan rasa sesak yang membuatnya susah bernafas.
“Kabir, apakah kau masih percaya dengan ibu mu ini?” Tanya Ema. Alih-alih menjawab pertanyaan sang putra, kini Ema malah bertanya di sela isak tangisnya. Kabir sedikit bingung menebak ke arah mana pembicaraan sang ibu.
“Ibu, jangan menangis bu … Aku mohon. Orang yang paling aku percaya di dunia ini adalah ibu, kenapa ibu sampai menanyakannya seperti itu?” Tanya Kabir setelah membujuk dan manjawab pertanyaan Ema. Wanita itu mulai menarik nafas panjang beberapa kali, tampak sekali dia sedang menenangkan diri.
“Terimakasih kamu masih mempercayai ibu, dan sekarang ibu ingin kamu membuktikan ucapanmu. JIka ibu mengatakan, ibu tadi melihat Sonia sedang berjalan bergandeng tangan seorang pria dan memasuki mobil mewah saat pulang kerja tadi, apakah kamu percaya dengan ucapan ibu nak?” Ucap Ema dengan suara datar.
Jleb!
Jantung Kabir seakan jatuh menyentuh bumi. Pria itu terdiam, saat ini ingin sekali rasanya dia membantah ucapan sang ibu. Tetapi hal itu sangat tidak mungkin, karena tadi dia sudah membuat pernyataan bahwa didunia ini hanya ibunya yang dia percaya dan memang seharusnya seperti itu.
“I-ibu … aku mohon maaf karena aku tidak bisa mendidik istriku. Aku bingung bu,” Ucap Kabir dengan suara yang lemah. Ema bisa merasakan kehancuran hati sang putra dan sebenarnya Ema tidak ingin melihat hal itu terjadi pada putranya.
“Kapan kamu pulang?” Tanya Ema. Wanita itu ingin sekali memberikan pelukan kekuatan untuk sang putra, bisa Ema bayangkan saat ini Kabir pasti sedang hancur.
“Besok aku pulang bu,” Jawab Kabir lirih. Tidak ada semangat di suaranya, pria itu sedang terduduk di pinggiran ranjang hotel tempatnya menginap.
__ADS_1
“Baiklah, jangan sedih nak, Mintalah petunjuk dari Allah, kau seorang laki-laki yang kuat dan ibu percaya padamu. Jaga dirimu untuk Ajay, kasihan dia. Ibu menunggumu di rumah nak.” Ucap Ema. Tidak ada jawaban dari Kabir, dan setelah mengucap salam mereka berdua kini sudah terputus dari sambungan telepon.
Kabir mengusap wajahnya kasar, ada rasa rindu sekaligus sakit di hatinya mengingat wanita yang sudah memberikannya seorang putra tampan dan pintar. Haruskah semuanya berakhir, apakah Sonia sudah tidak menginginkannya lagi? Lalu apa yang dia rasakan beberapa hari yang lalu. Sonia berubah menjadi istri penurut dan solehah lebih tepatnya belajar untuk menjadi wanita solehah.
Kabir baru saja teringat, beberapa hari ini dia jarang sekali berkomunikasi dengan istrinya. ada rasa bersalah di hati Kabir, sesaat pria itu merasa kalau Sonia mungkin sedang membutuhkannya tapi dia tidak bisa memberikan waktu untuk sang istri. Koreksi diri, itulah yang saat ini sedang dilakukan oleh Kabir.
Kabir mengambil benda pipih yang sering di bilang orang benda paling pintar di dunia ini, Tangannya menekan nama istrinya dan berusaha menghubunginya. Entah sudah beberapa kali panggilan, tapi tidak juga diangkat oleh sang istri. Kabir melihat ke arah jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah jam 10 malam, mungkin Sonia sudah tidur, itulah yang ada di pikiran Kabir.
“Maafkan aku sayang, ternyata seharian tadi aku tidak ada menghubungimu dan Ya Allah … ternyata selama aku di luar kota aku hanya berkirim pesan dengan mu dan bicara hanya sebentar saja. Apakah kau marah padaku Nia?” Gumam Kabir lirih.
Pria itu sibuk mengulang kembali memori nya beberapa hari yang lalu dan setelah dia melihat ponselnya pada aplikasi hijau. Kini terlihat disana percakapannya yang singkat dan Kabir baru sadar kalau dia memang tidak memberikan perhatian sedikitpun dengan sang istri.
Kabir mengusap wajahnya kasar, ini adalah kesalahan fatal yang dia lakukan, sementara tiap hari dia bisa bicara lama dengan sang putra. Memang sih … Ema yang selalu menghubungi sang putra agar bisa bicara dengan Ajay, tapi hal itu seharusnya membuat Kabir juga bisa memikirkan Sonia.
Di tempat Sonia menginap, wanita itu lupa menghidupkan nada dering di ponselnya dan kini Zaki nekat mengikuti wanita pujaannya. Sonia merasa tidak nyaman dengan si bos yang kini duduk di sofa ruang tamu yang disediakan oleh penginapan.
Mereka berdua sudah menghabiskan waktu sangat lama duduk dengan lebih banyak diam. Entah apa yang dikehendaki Zaki saat ini, Sonia sendiri merasa enggan untuk banyak bertanya atau sekedar bicara seperti kemarin-kemarin.
Zaki merasakan perubahan drastis dari Sonia terus bertanya-tanya dalam pikirannya. Ada apa sebenarnya dengan wanita yang sudah mengisi ruang hatinya? Tapi tiap kali Zaki menanyakan hal itu Sonia selalu menghindar dan mengatakan semuanya baik-baik saja.
Saat ini Sonia merasa akan terjadi hal besar akan menimpa dirinya dan saat dia mengangkat botol minumnya, tiba-tiba potongan ingatan Sonia muncul. Sebuah kata cerai menggema di ruang pikirannya dan dia melihat Kabir yang mengatakan itu dengan wajah sedih. Ajay menangis dalam pelukan sang nenek dan betapa terkejutnya Sonia melihat dirinya sendiri dalam potongan ingatan itu sangat menyedihkan.
__ADS_1
Sonia berlutut memohon maaf dan kesempatan, botol minum itu masih berada di tangan Sonia dan belum juga sampai di bibir. Sonia seakan terdiam seperti patung dengan tatapan kosong, Zaki yang melihat itu berkali-kali melambaikan tangan ke arah Sonia namun manik mata wanita itu tidak bergeser sama sekali. Zaki bangkit dan mendekat ke arah Sonia lalu mengusap pundak wanita itu dengan pelan.
Pyorr!
Botol minum Sonia terjatuh dan sesaat wanita itu menghirup oksigen sebanyak-banyaknya sampai memenuhi paru-parunya. Zaki menatap Sonia heran, selama ini dia tidak pernah melihat Sonia bertingkah seperti ini.
“Sayang … kamu kenapa? apa yang terjadi?” Ucap Zaki dengan wajah khawatir. Sonia menoleh dan kini sepasang netranya bersilang padang dengan sepasang netra pria tampan yang mati-matian ingin dia hindari.
“Sonia … ada apa denganmu sayang? Kamu sakit?” Tanya Zki lagi. Pria itu mengambil botol yang sudah terjatuh dan membasahi lantai. Beruntung air di dalam botol tidak banyak, sehingga tidak terlalu membuat lantai itu basah.
“Eh zaki … pergilah, Aku baik-baik saja.” Ucap Sonia masih dengan kebingungan. Zaki yang mendapatkan pengusiran itu merasa bingung dan sedikit tercubit hatinya.
“Nia, kamu mengusirku? kenapa akhir-akhir ini kamu seperti menghindariku. Aku melihat kamu berubah tiba-tiba sayang, tolong jelaskan Nia.” Ucap Zaki dengan penuh penekanan. Pria itu merasa tidak nyaman dengan perubahan sikap Nia yang selama ini mampu membuatnya bahagia. Tapi kebahagiaan itu seperti menguap begitu saja.
“Kabir akan menceraikan ku Zaki,”
❤️❤️❤️
🤔🤔🤔 sungguh permainan iblis yang menggoda hati manusia, sehinga dosa pun terlihat indah dalam pandangan mata.
Yuukk like, komen, vote dan hadiah juga subscribe ya pemirsaahh. tengkyuuuhh.
__ADS_1
❤️❤️❤️🤔🤔🌹🌹🌹