Pashmina Untuk Kupu-kupu

Pashmina Untuk Kupu-kupu
Bab 21: Jadi Sahabat


__ADS_3

Zoya memberikan semangat kepada Zaki, selama persaingan itu sehat kenapa kita harus khawatir. Sesaat Zoya berpikir bagaimana kalau perusahaannya menjadikan ZA Group sebagai teman dan siapa tahu nanti akan menjadi sebuah hubungan kerjasama. 


Ide itu sementara dia simpan sendiri, saat ini bukan waktu yang tepat untuk membahas hal itu dengan suaminya.  Mereka Pun berbincang agak sedikit lama, tapi Zaki tidak banyak mendengarkan kabar tentang Sonia. Hal ini membuat Zaki sedikit gelisah, dia berharap istrinya besok ada pertemuan dengan sang kekasih. 


Pembicaraan akhirnya selesai, Zoya sudah merasa lelah tapi sesaat wanita itu teringat akan Sonia, dia mengirimkan pesan kalau besok dia akan mengajak Sonia makan siang bersama. Pesan sudah terkirim dan si empunya ponsel kini sudah terbang ke alam mimpinya, sementara Sonia sudah tidak peduli lagi dengan ponselnya karena wanita itu sudah duluan terbang ke alam tidurnya. 


*****


Waktu berlalu dan kini kedua wanita cantik yang saling terkait dengan seorang pria bernama Zaki sedang menunggu pesanan makan siang mereka. Zoya yang sudah menetapkan diri ingin menjadikan Sonia menjadi sahabatnya, mulai membangun hubungan. 


Seperti itulah Zoya, dia tidak sembarangan berteman dan dialah yang memilih. Jika sudah menetapkan pilihan, maka dia jugalah yang akan mendekati orang tersebut. Zoya memiliki cara yang unik dan hal itu juga yang membuat dia tidak mudah di khianati oleh orang lain atau rekan bisnisnya. 


Sebenarnya Zaki banyak belajar tentang bisnis dari Zoya, secara garis keturunan, Zoya terlahir dari para pebisnis ulung turun temurun. Kedua orang tuanya dan para leluhur dari garis keduanya memiliki darah pebisnis yang sangat kuat. Semantara Zaki memang tidak memiliki garis keturunan pebisnis dan bisa dikatakan dari semua keluarganya, hanya Zaki yang membuka perusahaan sendiri.


Sonia yang merasa sedikit aneh dengan karakter Zoya berusaha mengimbangi, Hal ini membuat Sonia sedikit gelisah namun semakin kuat tekadnya untuk berpisah dan terlepas dari cengkraman manis Zaki Prameswara. 


“Bu, maaf ada acara apa nih? … Kok ngundang makan siang segala.” Tanya Sonia dengan senyum manisnya. Minuman mereka sudah datang Zoya menggerakkan tangannya tanda mempersilahkan wanita itu untuk segera menikmati minumannya. Sonia yang memang haus dari tadi, segera menyesap minuman itu dengan perlahan.


“Nggak ada sih, eh betewe aku boleh manggil nama aja ya ke kamu? Biar lebih enak aja di denger,” tanya Zoya. Padahal dari kemarin dia sudah memanggil Sonia dengan tanpa embel-embel. Sonia tersenyum dan mengangguk. 


“Kamu juga boleh kok panggil nama aja ke aku,” ucap Zoya lagi. 

__ADS_1


“Eh … jangan lah bu, nggak sopan banget saya kalau sampai begitu,” Sahut Sonia. Wanita itu sungguh tidak enak hati jika sampai Zoya memintanya seperti itu. 


“Nggak papa Nia, kamu tau nggak … aku itu nggak punya banyak temen perempuan dan dari kemaren aku kepikiran kamu. Sepertinya aku ingin kita menjadi teman, bukan seperti atasan dan bawahan, Apa kamu mau menerimaku sebagai teman?” Tanya Zoya. Hal ini sungguh aneh bagi Sonia karena biasanya jika seseorang ingin berteman, ya seiring berjalannya waktu pertemanan bisa terjadi. Tapi sepertinya Zoya jenis manusia yang berbeda, Sonia tersenyum manis dan sedikit lebar. 


“Bu, siapalah saya yang berteman dengan orang seperti ibu. Ibu mah ada-ada aja deh, saya hanya karyawan receh aja bu, ngelunjak kalo saya seakan sejajar sama ibu.” Ucap Sonia sungkan. Cara bicara Sonia yang polos membuat Zoya terkesan, wanita itu tidak pernah salah selama ini dalam menilai orang. 


‘Heem … sepertinya pilihanku tepat untuk menjadikan dia sahabatku,’ Gumam Zoya dalam hati.


“Haiis … santai aja kali Nia, dan mulai sekarang panggil aku Zoya. Please jangan tolak ya ….” Ucap Zoya memelas. Sungguh aneh, seorang pebisnis papan atas, dengan prestasi yang moncer cemerlang. Kini meminta dengan sungguh-sungguh, kepada seorang rakyat jelata di perusahaannya untuk menjadi sahabat, aneh bukan? 


“Oke, aku setuju. Zoya … issh kaku rasanya lidahku,” Ucap Sonia mencoba memanggil teman baru hanya dengan sebutan nama. Zoya merasa senang dengan apa yang dikatakan oleh Sonia, akhirnya mereka pun tertawa bersama. 


Makan siang seru, mereka berdua membahas apapun tentang strategi pasar agar supermarket itu bisa mendapatkan member yang banyak. Selesai makan siang yang sambil ngobrol itu membuat kedua wanita itu merasa puas dengan pertemuan mereka yang benar-benar berkualitas. Zoya puas dengan wawasan Sonia dan wanita itu juga senang melihat Sonia yang masih menjaga sopan santun walau mereka  kini semakin dekat. 


“Zoya, aku ingin keluar dari perusahaan.” Ucap Sonia. 


Uhuk … uhuk


Zoya tersedak oleh minuman yang saat ini sedang meluncur manis di mulutnya. Sonia menjadi tidak enak, dengan cepat dia menyurungkan air mineral di dalam botol. 


“Nia, kamu itu jangan aneh-aneh deh? Kenapa kamu nggak betah di supermarket?” Tanya Zoya dengan rasa penasaran yang tinggi. Sonia tersenyum kecut, wanita itu berusaha menekan perasaannya jangan sampai keceplosan nama pria yang berstatus suami sahabat barunya itu. Hufff … rumit memang kisah cinta Sonia ini ya pemirsaah. 

__ADS_1


“Nggak Nia, aku susah merencanakan ini jauh-jauh hari. Aku akan tetap menjadi sahabatmu, itu pun kalau kamu masih mau … hehehe. Aku ingin mencari pengalaman baru Zo, Setelah event aku akan meletakkan jabatan ya Zo, ucap Sonia dengan hati-hati. 


“Apa ada masalah Nia? apa kamu nggak betah karena sesuatu?” Tanya Zoya dengan raut wajah dan tatapan menyelidiki. Wanita yang kini menjadi sahabatnya itu, tidak melepaskan tatapan tajam ke sepasang netra Sonia. Wanita itu jadi gelagapan dan kembali menyesap minumannya untuk sekedar membasahi tenggorokannya. 


“Nggak ada Zoya, percaya deh … aku tu betah banget di perusahaanku, tapi aku juga ingin mencari pengalaman di perusahaan lain. Aku mohon tolong tanda tangani ya permohonanku ….” Ucap Sonia dengan wajah mendungnya. Dengan cepat wanita itu menyurungkan surat pengunduran dirinya, Zoya awalnya bersikeras tidak mau merestui Sonia untuk keluar dari perusahaannya dan masuk ke perusahaan orang lain. 


Zoya membaca dengan pelan, sebenarnya isinya sama saja dengan karyawan lain yang mengundurkan diri, tapi entah kenapa wanita itu ingin sekali membacanya dengan teliti. 


Setelah membaca dengan teliti, Zoya akhirnya membubuhkan corentan tangannya di lembaran kertas yang disodorkan oleh Sonia. Dia tidak pernah berpikir akan mendapatkan kesempatan seperti ini, tapi itulah Allah, tidak sulit baginya untuk mengabulkan permintaan hambanya.


“Haiish kau ini Nia, cerdas juga otakmu dalam melihat sebuah kesemptan. Jika seperti ini bagian HRD, tidak akan banyak bicara dengan mu Nia.” Ucap Zoya bersungut-sungut. 


“Terimakasih sahabatku yang baik dan cantik,” ucap Sonia.  


Cup!


“ Nia!” Teriak Zoya meng kini mengusap pipinya karena ulah teman barunya itu.    


❤️❤️❤️


Lancaaarrr nih proses pindahannya. babang ganteng, i'm coming 🤣🤣🤣.

__ADS_1


Yuukk mari jempolnya yang rame ya, komennya jg, vote dan hadiah. jgn lupa subscribe ya pemirsaaahh. tengkyuuhh.


❤️❤️❤️🤣🤣🤣🌹🌹🌹


__ADS_2