Pashmina Untuk Kupu-kupu

Pashmina Untuk Kupu-kupu
Bab 14: Perpisahan


__ADS_3

Sonia terdiam sesaat hatinya bimbang tapi juga kesal, Kabir tidak pernah mau koreksi diri dan Sonia tau apa yang ditanyakan oleh Kabir pastiah dorongan dari Ema sang ibu mertua. Sesaat wanita itu menarik nafas dalam, mungkin inilah saatnya dia mengakhiri semua dosa-dosanya dan bersungguh-sungguh ingin hijrah. Harapan Sonia Kabir akan memaafkan semua kesalahannya. 


“Maafkan aku mas, Selama ini aku sudah berdosa. Tapi ….” Belum selesai kalimat Sonia, Kabir sudah memotongnya. 


“Jadi benar apa yang ibu utarakan?!” Tanya Kabir dengan penuh penekanan. Dadanya bergemuruh dan matanya menatap Sonia tajam. Kabir berusaha menahan suaranya agar tidak terdengar oleh ibu dan putranya. 


“Tapi aku sudah mengakhirinya mas, per ….” Jawab Sonia dan kembali Kabir memotongnya. 


“Besok sebaiknya kamu keluar dari rumah ini Nia, bagaimana aku bisa menerima pengkhianatan ini?!” Ucap Kabir dengan wajah yang sudah memerah. 


“Mulai besok aku akan mengurus perceraian kita, inilah jalan yang terbaik.” Ucap Kabir lagi. 


Duuaaarrr!


Bak petir di malam hari, Sonia tidak menduga akan terjadi hal seperti ini dalam pernikahannya. Harapannya kabir bisa mendengarkan keluh kesahnya tapi apa yang terjadi, pria itu tidak sedikitpun memberikan haknya bicara. 


“Mas, sedari tadi kamu terus saja memotong pembicaraanku. Kenapa tidak mau sedikit saja mendengarkan penjelasanku!” Ucap Sonia menekan emosinya. 


“Jangan meninggikan suaramu Sonia, ingat aku ini suamimu!” Ucap Kabir semakin tersulut emosi. 


“Suami, Suami yang tidak pernah peduli dengan istrinya? suami yang tidak pernah perhatian dengan istrinya? Kamu hanya peduli dengan karir mu mas, Kamu bisa memberikan pencerahan agama kepada orang lain, tapi bagaimana aku?! Selama ini aku diam dan berusaha mengerti dengan apa yang ingin kamu raih. Ibu tidak pernah sedikitpun baik menerima ku dan bicara baik padaku, kamu juga tidak peduli. Ketika ada orang yang memberikan perhatian dan kasih sayangnya padaku, apakah itu kesalahan ku? Tidakkah kamu berpikir sedikit saja tentang kesalahanmu terhadapku mas?!” Tumpah sudah semua uneg-uneg yang dirasakan Sonia selama ini. 


Kabir menatap nanar ke arah sepasang netra sang istri yang kini sudah basah dengan air mata. Hatinya semakin terbakar, Selama ini pria yang berwajah teduh itu memang tidak pernah berkata kasar dengan Sonia, tapi memang seperti yang tadi di katakan oleh istrinya bahwa dia lebih fokus mengejar karir, Sehingga melupakan hal terpenting yaitu keluarga. 

__ADS_1


Tapi ego Kabir kali ini benar-benar tampak, tidak sedikitpun hatinya terusik dengan protes panjang sang istri. Hanya kesalahan Sonia yang menutupi akal sehatnya. 


“Apa yang kurang dari aku! kamu saja yang tidak pernah bersyukur, selama ini aku tidak pernah kasar kepadamu Sonia. Pengkhianatan yang kamu lakukan pada pernikahan kita tidak bisa aku toleransi, kamu sudah melakukan dosa besar dan mana bisa aku berbagi tubuh istriku dengan pria lain!” Ucap kabir. 


“Jaga ucapanmu mas! Baiklah sepertinya percumah aku bicara apa yang sudah aku rasakan selama pernikahan kita. Kamu tetap manusia egois, ilmu kamu sangat tinggi, tapi sayang kamu lupa untuk memakainya dalam kehidupan nyata dirimu sendiri. Terserah apa yang akan kamu lakukan, aku akan bawa Ajay besok pagi bersamaku,” Ucap Sonia yang kini sudah berhenti menangis.


“Tidak bisa, Ajay akan tetap disini. Kau yang sudah mengkhianati pernikahan kita, tidak akan mungkin pengadilan memberikan hak asuh anak padamu. Lagian Ajay sudah berusia 10 tahun, Sadarkan dirimu sebelum kau bicara Nia. Ucap Kabir dengan penuh kebencian. 


Malam yang menyakitkan bagi wanita cantik yang baru saja, memantapkan hatinya untuk hijrah dan meninggalkan perselingkuhannya. Tapi semua kini sudah terjadi, wanita itu menguatkan hatinya untuk mengemas semua barang miliknya dan menata hati untuk meninggalkan sang putra tercinta. 


Sonia tidak akan menang di pengadilan untuk hak asuh anak karena benar yang dikatakan oleh suaminya, saat ini dialah yang melakukan kesalahan. 


Malam berlalu, kabir memilih untuk tidur di kamar Ajay, karena sang pemilik kamar saat ini sedang tidur bersama neneknya. Sonia memaksakan diri untuk memejamkan mata, karena besok dirinya akan memulai hidup baru, dengan keluar dari rumah yang sudah 11 tahun ini menjadi identitasnya. 


Malam berlalu dan kini pagi pun menjelang, semua orang di rumah berukuran lumayan besar milik Kabir itu tidak ramai seperti biasa. Ajay merasa heran dengan ibunya yang sudah menyeret dua koper berukuran besar di tangannya. 


“Mama mau kemana?” Tanya Ajay. Bocah itu sudah siap dengan seragam sekolahnya begitu juga dengan Kabir yang sudah siap dengan baju koko dan kopiah. Pria itu bersiap untuk melakukan rutinitas seperti biasa untuk mengajar di pondok pesantren. 


“Ajay, duduk sini sayang.” Panggil Sonia yang kini sudah sampai di ruang tamu, dan duduk di sofa lalu diikuti oleh bocah kecil berwajah tampan itu.


“Mama mau pergi keluar kota? Kerjaan mama kenapa pergi-pergi?” Tanya bocah itu lagi. Kini tubuhnya sudah duduk di sebelah sang mama. 


“Anak mama, begini … mama tidak bisa tinggal disini lagi bersama kalian. Karena mama sudah tidak bisa lagi bersama papa. Ajay nanti kalo kangen mama, bisa kok minta papa antarkan. Ajay yang nurut sama papa dan nenek ya sayang,” ucap Sonia dengan menahan rasa sesak di dada dan menahan air matanya agar tidak luruh. 

__ADS_1


Ajay masih terlalu kecil untuk memahami arti perpisahan atau perceraian, Dalam pikirannya mama dan papa pasti ada masalah dan mereka tidak berteman lagi. Hal ini persis seperti yang terjadi dengan dirinya dan Ara, sahabat di kelas dan sekarang mereka tidak saling tegur sapa karena adanya perbedaan pemikiran. 


“Kenapa mama seperti Ajay dan Ara? Kami juga gak bicara sekarang. Tapi Ara tidak pindah kelas ma,” Ucap Ajay. 


“Sayang, hubungan mama dan papa kan sudah besar nih, nah masalahnya kan juga pasti besar. Kalau Ajay dan Ara tentu saja tidak akan pisah kelas, karena kalian hanya berteman di sekolah saja.” Jawab Sonia. Wanita cantik itu sedikit kelimpungan harus menjawab apa. Dirinya tidak menyangka kalau sang anak akan berpikiran seperti itu, Sementara Ajay yang mendengar penjelasan sang mama merasa tidak puas. 


“Papa, sini dong. Papa kenapa musuhan sama mama dan mama harus pergi?” Panggil Ajay pada Kabir. Pria itu sedikit gugup menghadapi sang anak, Tidak mungkin dia menjawab dengan asal-asalan tapi Kabir pun bingung harus menjawab apa dengan kebingungan sang putra.


Kabir melangkah ke ruang tamu, dan akhirnya dia pun menuruti sang putra untuk duduk di sofa. Pria itu tidak ingin bersitegang dengan sang istri di hadapan sang putra, jadilah dia pun memasang wajah seperti biasa dan senyum hangat seperti biasanya juga. 


“Papa, kenapa nggak nggak minta mama untuk nggak pergi? 


Deg!    


❤️❤️❤️


Andai keduanya bisa saling mengerti 😥


Yuukk pemirsaahh mana jempolnya, komen yang banyak, vote dan hadiah. jgn lupa subscribe yaaahh. tengkyuuhh pemirsaaahh.


❤️❤️❤️😥😥😥🌹🌹🌹  


   

__ADS_1


__ADS_2