
Sementara itu Marvin mengintip jalannya Vanya yang lamban. dia memperhatikan Vanya yang sikapnya mulai berubah. Marvin melihat tiada semangatnya untuk hari ini. pertanyaan-pertanyaaan bermunculan terhadap mahasiswa bimbingannya itu dengan mahasiswa yang baru ia kenal tanpa disengaja.
Marvin mulai berpikir untuk membangun semangatnya lagi, dan mencari tahu apa sebabnya dia begitu.
Marvin keluar dari ruangnya, dan mengejar Vanya yang masih dekat kampus karena jalannya yang lamban itu.
"Vanya" langkah vanya terhenti dan spontan membalikkan badan. ia melihat ada pak Marvin. ada apa pak Marvin memanggilnya dan mengikutinya..
Pak Marvin mulai berjalan menghampiri Vanya.
"Bapak ada apa memanggil saya," kata Vanya heran dengan tingkah pak Marvin yang mengejarnya.
"Saya mau kamu kirim file skripsinya ya " Kata Marvin sambil ngos-ngosan.
"iya nanti saya kirim filenya, bisa minta email bapak" tanya Vanya lagi.
"nggk usah lewat email. langsung aja kirim ke WA saya.. saya tunggu ya" kata Marvin. dan setelah itu meninggalkan Vanya.
Sikap Marvin juga kelihatan aneh. apa dai hanya ingin File skripsinya aja atau ingin tau no WA nya Vanya.. hmmt masih belum terungkap ya.
Malam harinya pun Vanya memindahkan file skripsi dari laptopnya ke Hp nya dan langsung mengirimnya ke Marvin, dosen muda itu.
__ADS_1
"Assalamualaikum, pak Marvin ini saya Vanya
saya mau ngirim file skripsinya." pesan WA Vanya ke Marvin.
"Drett" Suara HP marvin berbunyi.
dia pun langsung membaca pesan itu. Marvin tersenyum saat mengetahui pesan itu dari Vanya. senyumannya masih ambigu. tidak tau apa makna senyum itu, entah dia senang
Vanya mengirim file skripsinya dengan cepat Marvin mengoreksinya. atau bahkan Marvin senang mengetahui WA nya Vanya. hmmt tidak ada yang tau.
"iya waalaikumsalam. iya terima kasih Vanya. saya akan mengoreksinya lagi. semangat terus ya" pesan dari Marvin.
Vanya pun membuka pesan itu, Vanya menganggap pesan Marvin sama seperti dosen pembimbing yang lain. Dosen pembimbing yang memberi semangat buat bimbingannya.
dan pesan Vanya tadi hanya centang biru. Dan tidak dilanjutkan dengan percakapan lagi.
Tidak tau kenapa Vanya mengharapkan Marvin membalas pesannya lagi. namun dia juga berpikir dia sendiri menjawab pesannya singkat sehingga apa lagi yang mau di bicarakan.
sedangkan Marvin juga berharap agar Vanya menanyakan sesuatu yang lain sehingga percakapan mereka masih berlanjut.
namun sayangnya mereka sama sama tidak punya keberanian untuk memulai kembali. sehingga mereka sama-sama dengan kesibukan mereka.
__ADS_1
Hp Vanya berdering. Vanya kegirangan karena dikiranya yang nelpon adalah Marvin. ketika ia mengais hpnya di samping bantal. mukanya kembali datar lagi. iya menarik nafas kasar. dan meangkat telpon itu
"halo assalamualaikum Jon" ucap Vanya
"Waalaikumsalam. bagaimana kabar kamu Vanya" tanya Jonathan.
"iya aku baik kok. kamu?"balas Vanya
"sama aku juga baik kok, oh iya apa kamu perlu bantuan van" kata Jonathan sembari mencari kesempatan untuk ketemu lagi.
"nggk ada sih Jon. aku masih bisa ngerjain sendiri" jawab Vanya lalu berbaring lagi.
"bentar bentar kok suara kamu berubah. kamu sakit ya?" tanya Jonathan sekaligus kasih perhatian.
"Aku sehat kok. nggk sakit. suara aku aja yang lagi serak" jawab Vanya. padahal iya emang kurang enak badan.
"nggak nggak ini kamu sakit Van, kamu sudah makan sudah minum obat" perhatian Jonathan semakin bertambah.
"iya nanti aku makan dan minum obat." jawab Vanya sambil meletakkan tangan di kepalanya.
"ok tunggu sebentar" kata Jonathan dan mematikan telponnya.
__ADS_1
Vanya merasa aneh sekali kenapa harus mematikan telponnya. vanya merasakan sakit kepala dan mencengkeram perutnya yang tiba tiba sakit.