Pejuang Skripsi, Pejuang Cintaku

Pejuang Skripsi, Pejuang Cintaku
episode 6 menjalankan kewajiban


__ADS_3

Hari hari berlalu begitu saja. Vanya sangat berantusias itu menyelesaikan tugas akhirnya itu. ketika dia tidak ada kerjaan diapun langsung mengerjakan tugas akhirnya itu. sekitar 1 Minggu Vanya tidak ada ke kampus. dan Jonathan pun selalu mengirim pesan wa ke Vanya. sesekali mereka juga telponan. karena menurut vanya Jonathan masih ditahap yang wajar.


Vanya pun sudah menyelesaikan revisinya dan akan konsultasi lagi ke pak Riko. Vanya pun berangkat ke kampus. setiba di kampus Vanya menunggu pak Riko dan memberi kabar kalau dia mau konsultasi.


(mahasiswa sekarang gini nih datang ke kampus duluan tanpa janji giliran dosennya tidak datang malah gerutu. mahasiswa mahasiswa 😂)


Dret nada pesan WA berbunyi. dengan semangat Vanya membukanya


"lah saya lagi di luar kota Van. kamu konsulnya nggk bilang-bilang." pesan WA pak Riko.


Vanya menarik nafas kasar. lalu dia pun membalas pesan pak Riko.

__ADS_1


"Iya pak tidak apa apa. Pak Riko kira kira berapa lama disana. " balas Vanya.


"Vanya bapak disini lagi pelatihan tentang pembendaharaan jadi pulangnya tidak cepat. kasian kamu kalo nunggu bapak pulang kamu bakalan lama sidangnya. kamu coba urus ke fakultas minta pergantian dosen pembimbing aja" pesan pak Riko.


Vanya membaca pesan pak Riko rada panik dan dia tidak mau mengganti pak Riko dengan dosen lain sebagai dosen pembimbingnya.


" Pak saya tunggu bapak saja. saya tidak mau ganti dospem. ini juga sebentar lagi selesai pak." jawab Vanya dengan perasaan sedih karena pasti penelitiannya tertunda begitu juga dengan sidangnya.


Vanya pun murung duduk di pinggiran kolam fakultas. Dia berfikir bahwa dia bakalan lulus dengan waktu yang lumayan lama, dia tidak bisa bangun atau berjalan tanpa arahan dospem. Vanya pun menundukkan kepalanya seraya berpikir yang tidak jelas. dia melihat sepasang sepatu pentopel laki laki di hadapannya. dengan spontan dia mendongakkan wajahnya keatas. betapa terkejutnya vanya melihat laki laki didepannya itu.


" Pak Marvin" ucapnya lalu spontan berdiri karena adabnya begitu.

__ADS_1


"Vanya ya, (Vanya mengangguk) tidak apa apa duduk saja, kamu semester berapa" tanya Marvin dan sembari duduk begitu juga dengan Vanya.


"Semester 8 pak. Ini saya mau konsultasi sama pak Riko. tapi pak rikonya lagi ada pelatihan" jawab murung Vanya.


"mana lihat naskah skripsinya" pinta marvin sambil mengambil skripsi yang belum jadi itu di tangan Vanya.


Marvin pun mengoreksi kerjaan Vanya. Dia mengoreksinya tanpa bersuara dia hanya menulis kesalahan di kertas skripsinya Vanya.


" Skripsi kamu sebenarnya sudah bagus tinggal dipoles sedikit lah. judul yang kamu angkat juga sangat menarik. disini sudah ada yang saya corek dan secepatnya kamu revisi ya biar bisa koreksi lagi" ucap dosen itu lalu tersenyum kepada Vanya.


vanya benar benar lupa dengan rasa kagumnya. Vanya sangat serius dengan omongan Marvin karena masalah tugas akhir dia tidak mau main main.

__ADS_1


"Segini aja dulu, besok kalo sudah di revisi bawa aja ke saya ya. saya tinggal dulu saya ada kelas habis ini. semangat ya" ucap Marvin lalu tersenyum dan meninggalkan Vanya. Vanya pun membalas senyum itu. dan dia baru ngeh atau sadar bersama siapa dia tadi berhadapan. Rasa girangnya muncul sehingga menutupi rasa sedihnya.


__ADS_2