Pejuang Skripsi, Pejuang Cintaku

Pejuang Skripsi, Pejuang Cintaku
episode 23 Mata Yang Bertemu


__ADS_3

# Lanjutan


" Vanya, coba kamu lihat di halaman 78 di Skripsi ini. Kata-katanya harus diubah ya. Ini jelas banget kata sehari-hari. " Kata Marvin sambil fokus ke laptop.


" Yang mana pak kata sehari-hari " Balas Vanya bingung.


" Ketemu nggak Van " Tanya Marvin lagi.


" Nggak ada pak " sahut Vanya lagi.


Marvin bangun dari kursinya dan menuju Vanya.


" Yang ini Van " Kata Marvin dengan langsung menunjuk tulisan di laptop Vanya.


Vanya yang dari tadi fokus ke laptop terkejut setelah tahu Marvin sudah membungkukkan badannya di samping nya.


" Oh iya pak. Ada bahasa lokalnya " jawab Vanya dengan sedikit canggung dengan posisi itu.


" Disini ada lagi nih di halaman 92 " Ucap Marvin sambil memainkan kursor laptop Vanya. Vanya sedikit bingung dengan arah kursor yang ditunjukkan oleh Marvin karena arah kursor bergerak-gerak.


" Vanya "


" Vanya "

__ADS_1


" Vanya " panggil Marvin ketika melihat Vanya terdiam.


" Eh iya pak " Seketika sadar dan langsung mengenyampingkan wajahnya menghadap Wajah Marvin.


Wajah mereka bertemu sangat dekat dengan mata saling menatap. Seketika mereka terdiam dengan kondisi seperti ini. Vanya dan Marvin sama-sama menikmati masa ini. Pertemuan mata yang tidak sengaja berjarak 2 inch itu sungguh memunculkan detak jantung Vanya yang sangat hebat menggebu.


Sampai-sampai suara Marvin menelan air ludah pun terdengar. Mereka tidak mempunyai jarak lagi untuk melakukan keinginan hati. Jantung mereka sama-sama berdebar. Hati bergejolak dan meronta-ronta tak tentu.


Perlahan Marvin Memiringkan kepalanya sesekali melihat bibir Vanya dan kembali menatap matanya. Vanya sudah tahu kemana arah wajah itu menuju. Ia ingin mengelak tapi hatinya menolak dan ingin melanjutkan aksi Marvin.


Ponsel Marvin berdering. Seketika pemandangan itu hilang dan sama-sama sadar dari situasi itu. Mereka saling canggung dan salah tingkah. Mereka berdua sama-sama meneguk air ludah dan saling membuang muka.


" Saya angkat telpon dulu " kata Marvin setelah lama ponselnya berdering.


Setelah itu Vanya menghela nafasnya dengan kasar dan mengusap dadanya. Jantungnya sangat berdebar-debar. Ia takut hal demikian terjadi tapi ia sendiri tidak bisa menolak.


Pesanan pun sudah datang diantar oleh pelayan cafe. Ia langsung menaruh ke meja bundar itu. Dan setelah itu berlalu pergi. Dan tidak berapa lama Marvin kembali.


Mereka berdua sama-sama merasa canggung dengan kejadian tadi. Sehingga mereka hanya diam dan seolah-olah sibuk dengan Laptop masing-masing.


Vanya pun mengambil minumannya untuk menghilangkan rasa gugupnya dan langsung menyeruputnya.


" Ahh panas " Ucap Vanya setelah minum minuman tadi. Ia tidak tahu kalo itu Coklat panas bukan Coklat biasa.

__ADS_1


" Kamu tidak apa-apa, tunggu sebentar " Tanggap Marvin. Ia langsung berlari dan mengambil air mineral di meja kasir.


" Minum ini, pelan-pelan minumnya " Kata Marvin dan menyerahkan Air mineral itu.


" Huhh makasih banyak pak. Saya tidak tahu kalo itu coklat panas saya kira coklat biasa " kata Vanya setelah minum air sembari mengipas-ngipas mulutnya dengan tangannya.


" Ya ampun saya lupa bilang, kalo saya pesan Cokelat panas. Saya minta maaf ya, seharusnya saya bilang dulu " sahut Marvin merasa bersalah.


" Pak Marvin nggak usah minta maaf, saya yang salah. Saya tidak cek dulu malah langsung menyeruput aja. " Kata Vanya lalu tersenyum


" Tapi sekarang udah nggak apa apa Van " Tanya Marvin masih berasa bersalah.


" Iya pak. Udah nggak apa-apa kok. Coklat nya nggak terlalu panas kok pak. Mulut aku aja yang langsung kaget. " Jawab Vanya.


Mereka berdua canggung lagi ketika Vanya bilang begitu. Mereka baru saja melupakan kejadian yang mau terjadi. Jika ponsel Marvin tidak berdering, bisa jadi ciuman itu akan terjadi..


Hmmt.. Ciuman yang tertunda


Foto Marvin



Foto Vanya

__ADS_1



__ADS_2