Pejuang Skripsi, Pejuang Cintaku

Pejuang Skripsi, Pejuang Cintaku
Episode 30 Truth or Dare


__ADS_3

Mereka berdua keluar dari studio teater 4 bioskop. Mereka sangat bersenang-senang sampai tidak ingat dengan keadaan perut mereka. Cacing peliharaan mereka merengek minta makanan. Setelah turun dari lantai 3, Marvin pun mengarahkan jalannya ke restoran di lantai 2. Tanpa mengajak dan meminta izin Marvin langsung memegang tangan Vanya dan menyeretnya berjalan mengikutinya.


"Kita makan dulu, kamu lapar juga kan?" tanya Marvin.


Vanya hanya menganggukkan kepalanya membenarkan pertanyaan Marvin.


Marvin dan Vanya pun menuju meja no 5 kemudian memesan makanan.


Vanya ketika melihat menu makanan di restauran itu dengan teliti sambil terteguk karena harganya yang mahal.


Karena Vanya memilih pesanan lama, Marvin pun merebut menunya.


"Biar aku saja yang memilihkan untuk mu. kamu pasti suka." Kata Marvin lalu mencatat pesanannya dan pesanan buat Vanya.


Setelah itu Marvin pergi ke kasir dan memberikan catatan pesanannya. Setelah itu kembali duduk lagi.


"Nggak terasa sudah jam 10 malam aja ya. Benar-benar cepat nih jam nya." Kata Marvin sambil memperhatikan jam tangannya.


"Iya pak. Tadi kan saya sudah bilang ke bapak kalau nggak usah nonton. Bapak malah ngajakin nonton." sahut Vanya.


"Sebenarnya saya juga nungu film itu tayang Van, makanya saya ngebet buat ngajakin kamu nonton." Jelas Marvin.


"Ohh bapak juga nungguin ya. Sama banget berarti sama aku pak. Sangat ditunggu banget jadwal tayangnya." Sahut Vanya lagi.


"Iya Van. Ternyata hobi kita sama juga ya suka nonton film action. Bisa dong kapan-kapan kita nobar lagi Van." Ajak Marvin sambil senyum malu.


"Wahh dengan senang hati pak. Biasanya aku sama teman aku nonton film di bioskop. Tapi sekarang mereka pada pulkam pak jadi nggak ada teman." Kata Vanya bersemangat.


'Apa Vanya tidak mengerti maksud aku apa? apakah aku sedang berhadapan dengan perempuan yang polos dengan taktik seperti ini. Baiklah kalau dia tidak mengerti akan lebih mudah buat aku mendekati perempuan ini.' Kata Marvin dalam hati sambil tersenyum.


"Vanya sembari kita menunggu pesanannya datang. Kita main game yuk!" Kata Marvin ketika melihat Vanya sibuk dengan ponselnya.


"Game apa itu pak" Tanya heran Vanya ketika melihat tingkah dosen didepannya.


"Kita main Truth or Dare dengan suit aja. Gimana, biar seru aja, biar nggak diam-diam." Kata Marvin.

__ADS_1


Marvin membuat permainan ini karena ada maksud tertentu.


"Ok bisa. Tapi Dare nya jangan yang macem-macem." kata Vanya sedikit takut.


"Siap, nggak macem-macem kok. Kita mulai ya."


" 1...2...3..."


Mereka berdua pun berduit. Marvin batu dan Vanya kertas.


" Hehe Bapak kalah nih. Truth or dare. " Tanya Vanya dengan sedikit cengengesan.


" Ok truth. "


"Bebaskan ini pak. Emmmt... cita-cita bapak dari kecil tapi tidak kesampaian itu apa pak" Tanya Vanya.


Terdengar seperti pertanyaan anak kecil untuk menanyakan pertanyaan itu kepada dosennya. Vanya belum mendapatkan pertanyaan yang berbobot yang bisa mengorek kehidupan dosennya itu sekaligus orang yang dia sukai.


"Aku itu dulunya kepengen jadi TNI seperti almarhum ayah aku. Cuma Ibu aku ngelarang. Dia takut kenapa-kenapa dengan aku ketika menjadi TNI." Kata Marvin


"Oh ya. Terus cocoknya apa Van" Sahut Marvin memotong omongan Vanya.


"Cocoknya seperti oppa oppa Korea itu pak" kata Vanya sedikit bercanda. Sebenarnya bukan itu yang mau di jawab sama Vanya tapi seperti kata gombalan gitu. Cuma karena Marvin memotong omongannya Vanya segan untuk mengutarakannya.


" hahaa iya iya.. kok gitu. Ayuk kita mulai lagi." Kata Marvin


" 1...2...3..."


Sekarang Vanya yang kalah.


"Ayo tanya aja pak sama aku. Aku mah jujur orangnya. Aku pilih Truth" Kata Vanya.


"Bagaimana kesan kamu pertama ketemu sama aku.?" Kata Marvin.


Vanya mendadak diam. Lidahnya kelu dan mendadak mati rasa. 'kenapa pertanyaan itu terlontar dari dia.' Gumam Vanya dalam hati.

__ADS_1


"Jujur ya. Tadi bilangnya jujur" Kata Marvin lagi.


"E... saya seneng ketemu dengan bapak, orangnya baik, pinter, dan nggak pelit sampai-sampai aku sering ditraktir hehe". Kata Vanya dengan tidak serius.


"Kalau perasaan kamu ke aku gimana Van" Tanya Marvin lagi.


"Itu pertanyaan buat game selanjutnya lah. Masa iya langsung 2 pertanyaan." kelak Vanya. Ia sangat takut pertanyaan itu, untung ia punya cara untung menghindari pertanyaan itu.


"Ok baiklah. Kalau kamu kalah lagi, aku bakalan nanyain itu. Yuk mulai lagi."


"1..2..3..."


Mata Vanya melotot, ketika tahu ia kalah lagi.


"Ok aku nanya yang tadi Vanya kalau.."


"Aku pilih Dare pak, bukan Truth lagi." Kata Vanya memotong pertanyaan Marvin.


Ia takut kalau Marvin menanyakan hal yang sama. Vanya memberanikan diri untuk memilih tantangan agar Marvin tidak i menanyakan hal itu.


"Kamu serius pilih Dare." Tanya heran Marvin ketika melihat sikap Vanya yang menjadi aneh.


"Iya pak. Aku yakin seyakin-yakinnya memilih tantangan." Kata Vanya dengan tegar menjawabnya.


"Ok. Karena kamu memilih tantangan, saya tantang kamu untuk menjadi asisten saya selama 3 hari. Atau kamu bisa memilih selama 3 hari kamu jangan memanggil aku "Bapak" tapi di ganti dengan kata "sayang" gimana?." Kata Marvin sambil tersenyum licik.


"Apa"


Vanya sangat terkejut ketika mendengar tantangan dari Marvin. Kenapa Marvin menantang Vanya seperti itu. Vanya sangat heran.


"Bagaimana Vanya kamu bersedia tidak. Tapi bersedia atau tidak bersedia kamu tetap harus mau karena ini adalah game." kata Marvin dan ketawa licik.


"Baiklah saya mau jadi asisten bapak" Kata Vanya usai berpikir panjang.


Marvin pun ketawa jahat mendengar ucapan Vanya.

__ADS_1


__ADS_2