Pejuang Skripsi, Pejuang Cintaku

Pejuang Skripsi, Pejuang Cintaku
Episode 22 Zona Nyaman


__ADS_3

"Eee.. terserah bapak aja kapan bapak bisa" Jawab Vanya dengan mengharapkan hari Senin yang ia dengar.


"Ok kalo gitu, sore ini ya Van. Saya mau kamu Skripsi kamu cepat selesainya. Jadi pas pak Riko pulang Skripsi kamu siap di sidangkan." balas Marvin lalu ia tersenyum.


" Sore ini ya pak.. e..e.. yaudah deh pak sore ini kita diskusikan lagi." balas Vanya dengan berat hati mengiyakan.


" Nanti kita bertemu di Cafe ujung jalan Kampus itu ya." balas Marvin.


'Kok pak Marvin ngajakin ketemunya di cafe sih, bukannya di perpustakaan atau kampus. kan Hari Sabtu perpustakaan masih buka, di kampus juga ada meja bundar untuk diskusi'. gumam hati Vanya lagi.


" Siap pak. Saya tau kok tempatnya." balas Vanya.


" Ok kalo gitu, assalamualaikum" salam Marvin.


" Waalaikumsalam" balas salamnya. Lalu telpon pun mati.


Vanya pun jadi kesal karena tidak jadi istirahat hari ini. Ia terpaksa bangun membereskan kosnya dan mandi.

__ADS_1


*******


Sore harinya.


Vanya sudah tiba di cafe Zona Nyaman. Cafe ini sangat pas untuk mengerjakan tugas sekolah dan tugas kampus . Mejanya berukuran besar sehingga bisa menampung tas, laptop, buku dan makanannya. Sehingga banyak pelajar dan mahasiswa yang berkunjung ke cafe ini.


Bangunannya juga dirancang dengan lucu. Tembok yang mirip dengan batang kayu. Bahkan meja dan kursinya dibentuk seolah batangan kayu juga. Belajar disini bikin hati damai dan pikiran pun sangat tenang.


Vanya masih terdiam di parkiran motor. Seketika ponselnya berdering lalu ia angkat telpon itu.


" Iya Pak" Jawabnya angkat telpon.


" Eh iya Pak. Ini saya mau masuk" Jawabnya. Lalu Marvin mematikan telponnya.


Marvin sengaja datang lebih awal dari janjinya. Ia ingin pesan makanan terlebih dahulu. Ia memesan Coklat panas dan beberapa makanan kecil seperti tahu balado, kentang balado dan pisang coklat. Ia paham perlakuannya ini sudah di luar batas yaitu perlakuan seorang dosen ke mahasiswanya itu. Ia tidak dapat memungkiri lagi rasa simpatinya yang kian hari menuntunnya untuk melakukan hal yang bukan-bukan.


Vanya pun masuk ke cafe itu, ia memandang penghuni cafe tersebut sambil mencari Marvin. Lalu matanya tertuju dengan laki-laki yang sibuk dengan ponselnya, ia memakai baju kaos hitam dan celana jeans hitam. Ia juga memakai sepatu jalan layaknya seperti mahasiswa saja.

__ADS_1


Vanya tersenyum kecil melihat Marvin, lalu menghampirinya.


" Pak Marvin sudah lama nunggu " Tanya Vanya mengagetkan lalu duduk di hadapan Marvin. Marvin lalu duduk dengan posisi tenang lagi.


" Saya bukannya datang lebih awal, tapi memang kebiasaan perempuan yang datangnya telat " sahutnya lalu tertawa kecil.


Vanya juga tertawa mendengar kata Marvin barusan.


Lalu Vanya mengambil list makanan dan minuman kemudian menyimak list itu.


" Van, saya sudah pesan makanan " kata Marvin sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


" Ohh pak Marvin sudah pesan, berarti saya aja lagi ya " kata Vanya yang tidak peka lalu lanjut menyimak lagi.


" Maksudnya saya sudah pesankan makanan buat saya dan buat kamu " Kata Marvin dengan sedikit canggung mengatakannya.


" Wahhh Pak Marvin baik banget, seneng ketemu dosen baik kayagini " balas Vanya yang tidak mengerti maksud Marvin.

__ADS_1


Vanya lalu mengambil tasnya lalu mengeluarkan tas dari tasnya dan membuka laptop tersebut.


Begitu juga dengan Marvin, ia juga membuka laptopnya. Karena ia juga punya file skripsi Vanya.


__ADS_2