
*****
1 Jam berlalu, jam mata kuliah Vanya sudah berakhir. Pagi ini ia tidak dibantuin oleh Jonathan, karena yang ia ajar bukan kelas Jonathan.
Vanya pun keluar dari ruang kelas dengan sambil memeluk buku dan tangan menenteng tas laptop. Setelah ia keluar, ia melihat Evan duduk di depan ruang kelas yang ia ajar.
'Kenapa ada Evan disini. Apa yang ingin ia kerjain' Tanya batin Vanya.
" Kamu ngapain ada disini? ". Ucap Vanya dan berjalan mengarahnya.
" Eh Vanya ngagetin aja ". balas Evan yang sedikit terkejut karena ia dari tadi sibuk memainkan ponselnya.
" Ahhaha iya iya sorry spontan tadi manggil kamu. Kamu ngapain kesini? Kamu lagi nunggu dosen aja ". Tanya Vanya lagi sambil mengejeknya.
" Iya bener. Aku lagi nunggu Bu dosen. Ibu Vanya" Jawabnya sambil cengengesan.
" Ishh apaan sih. Yang bener jawabnya." Kata Vanya sedikit tidak enak di panggil Bu dosen.
" Haha.. Sini lah kamu. Duduk dulu Van ". Ucap Vanya sembari memukul kursi di sampingnya. Dengan maksud menyuruh Vanya duduk di sampingnya.
__ADS_1
Vanya pun duduk di samping Evan.
" Ada apa Van? " Tanya Vanya semakin serius.
" Kamu tadi ngegantiin pak Riko ya. Emang pak Riko kemana?." Tanya Evan
" Iya aku gantiin pak Riko sementara ini. Dia lagi ada pelatihan di Jakarta." Jawab Vanya santai.
" Lalu yang bimbing Skripsi kamu siapa dong kalo pak Riko ke Jakarta.? " Tanya Evan yang menjadi sumber pertanyaannya itu.
" Aku di bimbing sementara dengan Pak Marvin. Dia dosen baru di fakultas kita " Jelas Vanya.
" Iya masih muda sih. " Kata Vanya sambil mengangguk. Terlihat Evan terdiam dan berpikir. Ia sangat penasaran dengan dosen yang namanya Marvin.
" Kamu kenapa jadi diam? " Kata Vanya menyadarkan diamnya Evan.
" Ehh. Nggak apa-apa kok. Aku hanya asing aja dengan namanya. Jadi penasaran sama itu dosen." Jelas Evan yang mengutarakan kebingungannya.
" Kok kamu jadi kepo sama dosen baru itu sih (ketawa kecil). Udah ahh aku mau ke ruang pak Riko dulu " Kata Vanya lalu berdiri dan hendak berjalan pergi.
__ADS_1
" Ehh Van, aku masih kangen sama kamu ". Kata Evan dengan menarik tangan Vanya sehingga Vanya berhenti jalannya.
Vanya pun berbalik badan dan menghadap Evan. Ia menatap Evan. Dari tatapan Evan penuh dengan harapan dan keseriusan. Vanya berpikir apa yang ingin ia katakan.
" Jangan aneh-aneh. Selesaiin Skripsi kamu dulu tu ". Ucap Vanya sambil memukul pelan kepala Evan dengan buku yang dari tadi di peluknya.
" Ishh kok di pukul sih. Kalo aku bilang kangen, emang salah ya. ". Kata Evan lagi sambil mengusap kepalanya.
" Iya salah lah. Waktunya nggak pas tau ". Kata Vanya dan melanjutkan jalannya.
Vanya paham sekali kenapa Evan bilang seperti itu.
Evan adalah temen Vanya dari SMA di Sampit. Mereka berteman begitu akrab. Sampai-sampai kampus, jurusan bahkan prodipun ia sama. Evan sudah lama menyimpan perasaan ke Vanya semenjak ia duduk di kursi SMA tapi belum pernah ia ungkapkan perasaan itu pas masih bersekolah.
Saat mereka menginjak di semester 4, Evan sudah mengutarakan perasaannya. Namun, Vanya menolaknya. Ia tidak mau merusak persahabatannya dan alasan lain, Vanya tidak mempunyai perasaan lebih kepada Evan. Ia hanya menganggap Evan sebagai sahabatnya saja.
Vanya pun pergi meninggalkan Evan yang dari tadi menunggunya di depan ruang ajarnya.
Evan pun pergi dari tempat itu. Mereka jalan saling membelakangi karena mereka memang berbeda arah.
__ADS_1
*******