
Jam menunjukkan pukul 07:00, hari selasa 14 Oktober 2019. Vanya sudah sudah tida di kampus. Badan Vanya benar benar sudah sehat. pusing, mual dan demamnya sudah hilang. ia menyadari ia sembuh seperti ini atas pertolongan Jonathan. ia merasa sangat berhutang nyawa dengan Jonathan.
Vanya pun melangkahkan kakinya ke ruang TU menemui pak Imam, seperti biasanya untuk menanyakan jadwal masuknya.
" Pak imam, mau tanya jadwal masuk saya" tanya manja Vanya dengan pak imam yang tak sungkan lagi.
"Lahh.. kemarin pak Marvin sudah minta dan sudah di print outkan. katanya pak Marvin mau di kasih ke kamu. belum di kasih ya" kata pak imam sekaligus bertanya.
"Belum pak, kemarin saya tidak ke kampus pak" jawab Vanya sambil ketawa bingung.
" coba kamu langsung minta aja ke pak Marvin.. ayoo dekatin dosen muda itu" ucapnya sembari menggoda Vanya.
Vanya hanya tersenyum melihat pak Imam menggodanya seperti itu.
'kenapa pak Marvin bisa minta jadwal juga dan di print out kan segala. aku sudah biasa tanya langsung dengan pak Imam. nggk biasanya lewat perantara seperti ini' gumam batinnya Vanya.
ia pun menuju ruang pak Marvin. lalu mengetok pintu ruangan pak marvin.
__ADS_1
"Tok tok assalamualaikum" ucap vanya sembari mengetok pintu ruangan.
"waalaikumsalam masuk saja" jawab pak marvin dari dalam ruangan.
Vanya pun membuka pintu ruangan itu, ia melihat pak Marvin lagi sibuk memilah-milah berkas. sehingga Vanya masuk pak Marvin tidak langsung menghadap ke arahnya. Vanya pun berjalan mendekati pak Marvin.
"iya ada apa ya" tanya Marvin ia tidak melihat dengan siapa ia berbicara karena masih fokus dengan berkas atas mejanya dan posisi nya membelangi pintu luar.
"Pak Marvin saya mau minta jadwal ajar saya" jawab Vanya dengan sedikit canggung.
" Iya Van, kamu sudah sembuh" kata Marvin sembari mengambilkan hasil print out jadwal kemarin. lalu menyodorkan ke arah Vanya.
"Iya Alhamdulillah sudah baik. terimakasih ya pak sudah di pintakan dan sudah di print out kan jadwalnya. biasanya saya cuma mondar-mandir aja ke pak imam buat bertanya jadwal" kata Vanya lalu ketawa kecil.
Marvin tidak tahu alasan apa lagi ia buat untuk menjelaskannya. ia merasa senang vanya sudah bisa tersenyum dan tertawa seperti ia baru kenal kemarin.
"oh itu, saya tidak tau sebelumnya seperti itu. saya langsung inisiatif saja pas disuruh pak Riko" kata Marvin lalu ketawa kecil juga.
__ADS_1
Marvin pun lanjut memilah-milah berkas di meja belakangnya.
Vanya melihat Marvin yang kesibukan dan kebingungan, Vanya mengecek di jadwalnya jam berapa ia masuk ngajar.
"Pak Marvin, sibuk sekali. ada yang bisa saya bantu pak" ucap Vanya menawarkan bantuannya.
"iya lumayan sibuk van. nggk ada jadwal masuk ngajar" tanya pak Marvin dan menghadap ke arah Vanya.
"nggk ada pak untuk pagi ini. adanya jam setengah 2 siang nanti pak." balas vanya dan meletakkan tas dan jadwalnya ke tempat kursi. lalu mendekati pak Marvin dan juga ikut memilah-milah berkas juga.
" terimakasih ya Van, ini berkasnya kita pisahkan tahunnya ya. berkas tahun 2016,2017,2018 itu dipisahkan jadi satu tahun." ucap pak Marvin sambil melanjutkan kerjaan.
" Terus tahun yang di bawahnya pak seperti 2015&2014 ini" tanya Vanya sambil menentengkan kertas.
"Kalo kertas tahun itu kamu kumpulkan kesini nanti di buang" balasnya dan menunjukkan kardus besar.
"Oh iya pak" jawab vanya singkat. lalu mereka pun sudah mulai sibuk dan jarang berbicara.
__ADS_1