
Satu jam pun berlalu. Materi pembelajaran sudah selesai Vanya ajarkan. Kemudian Vanya tutup materi pembelajarannya. mahasiswa pun langsung keluar dan pulang ke rumah.
Tidak begitu dengan Vanya, Vanya masih sibuk membereskan kertas-kertas coretan di mejanya. Vanya tahu kalau jonathan masih diruangan dan menunggunya.
Jonathan pun berdiri dan berjalan menuju Vanya yang masih membereskan kertas-kertas di mejanya.
"Sibuk banget Bu, ada yang bisa saya bantu" Ucap Jonathan lalu ikut membantu memasukkan buku ke tasnya Vanya."
"Nggk kok. bentar lagi udah siap nih" Kata Vanya dan resleting tas nya.
Jonathan pun langsung mengambil tas Vanya berniat untuk membawanya.
"Sini Jon, biar aku saja" kata Vanya dan merebut tasnya.
"nggk, aku aja yang bawa" ucap Jonathan lalu pergi keluar dengan membawa tas Vanya.
Vanya pun menarik nafas dan menghembuskannya dengan kasar. Lalu ia menyusul Jonathan sehingga ia berjalan bergandengan.
__ADS_1
Ketika sudah sampai ruangan dosen, Vanya berhenti melangkahkan kakinya lalu mengambil tasnya dari pangkuan Jonathan.
"Jon, sini tas aku. Aku ke ruang dosen dulu" ucap Vanya dan Jonathan melepaskan tasnya
"Kamu nggk langsung pulang Van" tanya heran jonathan.
"Tidak Jon. aku mau konsultasi skripsi dulu Jon." Balas Vanya.
"Konsultasi skripsi! bukannya Pak Riko lagi di luar kota ya."Tanya heran Jonathan lagi.
"Iya emang bener pak Riko lagi di luar kota. tapi aku konsultasinya bukan sama buka Riko lagi untuk sementara" Jawab Vanya.
"Sama pak Marvin, dosen baru itu. udah ya Jon aku masuk dulu. Kepo banget sih" Balas Vanya lalu tertawa kecil dan meninggalkan Jonathan.
'Marvin, dosen muda itu rupanya.' gumam batin Jonathan. Jonathan pun pergi dan langsung menunggangi motornya keluar area parkir lalu pergi.
Jonathan kepikiran tentang dosen muda itu yang membimbing skripsi Vanya. ia takut akan ada hubungan antara mereka. karena untuk konsultasi skripsi pasti mereka sering ketemu. Jonathan sangat fokus berkemudi, namun pikiran itu selalu muncul juga.
__ADS_1
Sementara itu Vanya masih menunggu pak Marvin didepan ruangan pak Marvin. Karena pak Marvin belum pulang ngajar. ia pun sambil menunggu sesekali memainkannya ponselnya dan membuka akun sosmednya.
"Vanya" panggil pak Marvin sedikit mengejutkan Vanya yang sedang asyik main ponselnya.
"Eh Pak Marvin, baru selesai ya pak" kata Vanya lalu menyimpan ponsel ke tasnya.
"Iya Van, kamu sudah nunggu dari tadi ya. knapa tidak nunggu di dalam ruangan saja." ujar pak Marvin.
"Tidak terlalu lama kok pak. wajah masa iya saya nunggu di ruangan bapak. sementara bapak lagi nggk ada." balas ku sedikit malu karena tawaran bapak tadi.
"Iya seriusan, yaudah ayo masuk" katanya lalu membuka pintu ruangannya. akupun masuk ke ruangan itu juga.
"Bagaimana pak, bapak sudah koreksi file yang saya kirim" tanya Vanya lalu duduk didepan pak Marvin.
"Iya saya sudah koreksi. kamu sudah memperbaiki semuanya. jadi tinggal di lanjutkan lagi ke BAB 5 ya." kata Marvin sembari membuka laptop nya.
Mereka pun berbincang-bincang masalah kedepannya tentang skripsi. Vanya juga menyimaknya dengan serius. ia tetap fokus dengan apa yang di bicarakan oleh dosen muda itu. walaupun perasaanya sekarang yang campur aduk itu.
__ADS_1
Setelah berbincang-bincang itu selesai vanya pun bersiap untuk berangkat pulang.