Pejuang Skripsi, Pejuang Cintaku

Pejuang Skripsi, Pejuang Cintaku
Episode 27


__ADS_3

Terlihat Marvin sudah tiba terlebih dulu, duduk di taman kampus di depan kolam kecil. Ia memandangi jembatan kecil di atas kolam itu. Jembatan yang di bikin sangat kreatif dari batang pohon sehingga terlihat lebih alami dan menciptakan suasana yang damai berada di taman ini.


Vanya pun menghembuskan nafasnya dengan kasar lalu berjalan ke arah dosen muda itu.


Ini adalah pertemuan kesekian kalinya mereka. Seketika batin Vanya mendadak sedih karena mengingat waktu sudah konsultasinya bersama dosen muda itu akan segera berakhir.


Vanya pun berjalan semakin mendekati Marvin. Marvin merasakan kehadiran Vanya saat itu. Sehingga ia mengenyampingkan pandangannya ke arah Vanya. Marvin tersenyum kepada Vanya dari kejauhan yang mana saat itu Vanya masih berjalan ke arahnya.


Senyum yang sangat tulus.


Senyum itu terbentang indah di bibir kecil pak Marvin. Senyum itu terlontar dengan sendirinya, seperti bawaan hati yang merasakan kebahagiaan saat melihat seseorang yang ditunggu dan kemudian dia datang.


Vanya pun membalas senyuman Marvin dengan sedikit malu-malu.


" Sore Pak. Bapak sudah dari tadi " Tanya Vanya lalu duduk di depan Marvin.


" Sore juga. Tidak begitu lama kok. Kamu baru selesai ngajar " Balas tanya Marvin karena merasa Vanya telat 15 menit dari janjinya.


" e..e... iya pak tadi ada sedikit yang susah di jelasin makanya telat keluar kelasnya" Ngeles Vanya, karena di saat itu Vanya tengah mengobrol sebentar dengan Evan.

__ADS_1


" Pak Marvin maaf ya saya telat datangnya " Kata Vanya lagi.


" Iya tidak apa apa kok, Mungkin saya yang buru-buru datang kesini " Jawab Marvin. Marvin memang keluar cepat dari kelas ajarnya. Ia ingin segera menemui mahasiswi satu ini. Perasaan rindu dengan mahasiswanya sangat menuntunnya untuk segera bertemu.


" Oh iya pak. Ini sudah saya revisi hasil koreksi kemarin." Kata Vanya sembari menyodorkan naskah skripsi yang belum di jilid dan hanya di jepit clip besar di atas tumpukan kertas itu.


" Cepet juga kamu revisi ya. Hmmt ok ini kayanya sudah bagus. Kata-katanya sudah ok, penulisannya sudah ok, Narasumbernya sudah pas juga, Kesimpulannya sudah ok juga Sudah bagus sih ini Van." Jelas Marvin sembari membuka naskah skripsi itu.


" Beneran pak sudah bagus, terus harus di apain lagi nih pak " Kata Vanya sangat bahagia dan semangat.


" Kamu bikin Abstrak Indonesia dan Inggris ya, terus kata kata persembahan skripsi kamu untuk siapa. Udah itu aja, kalau sudah di kerjain kamu ke saya lagi. Saya periksa lagi, Kalau sudah bagus kamu bisa urus untuk pendaftaran sidang. " Kata Marvin kemudian tersenyum lalu menutup naskah itu dan mengembalikan ke Vanya lagi.


" Wahhh seneng banget akhirnya sudah mau selesai. " Kata Vanya dengan wajah yang bahagia.


" Saya dapat kabar Minggu depan pak Riko sudah kembali, jadi kamu selesain ya sebelum pak Riko datang. Pas Riko sudah datang kamu hanya konsultasi terakhir saja ke dia " Kata Marvin. Terdengar nada Marvin pelan seolah-olah dia sedih karena akan ada sesuatu yang akan hilang.


" Minggu depan pak! Bukannya masih ada 2 minggu lagi ya pak." Kaget Vanya.


" Iya seharusnya memang begitu. Tapi karena urusan pak Riko bisa diselesaikan dengan cepat. Jadi pak Riko akan pulang Minggu depan " Jawab Marvin lalu mengalihkan pandangannya ke jembatan kecil didepannya.

__ADS_1


Vanya juga langsung menundukkan kepalanya. Ia sangat paham apa yang akan terjadi. Hari harinya akan berbeda. Ia tidak bisa lagi ketemu dosen muda itu. Bagaimana dengan perasaannya itu, apakah dia hanya menahannya saja. Vanya selalu bertanya-tanya dengan dirinya sendiri.


" Oh yaudah kalau gitu kita pulang aja, Sudah tidak ada yang di tanyakan lagi kan Van? " Jaka Marvin ketika mereka saling membisu.


" Iya pak " Kata Vanya.


" Iya apa? Ada yang kamu tanyakan?" Tanya Marvin lagi karena jawaban Vanya yang ambigu itu.


" Ehh bukan gitu maksudnya. Maksud saya iya pulang saja " Kata Vanya lalu tertawa kecil. Begitu juga Marvin juga tertawa kecil.


Mereka pun berdiri dan bersiap pulang. Marvin merasa bingung kenapa Vanya beda arah dengan jalannya.


" Van, Kamu mau kemana?. Parkiran kan disana!" Kata Marvin dengan menunjuk arah parkir.


" Saya nggak pakai motor tadi pak. Tadi naik Gojek ke kampusnya. Motor saya mogok, nggk mau nyala dia " Ucap Vanya lalu memutar badannya lagi.


Vanya pun terkejut ketika tangannya di tarik dari arah belakang. Marvin menarik tangan Vanya membuat Vanya memutar badannya.


" Ada apa pak" Kata Vanya dengan sedikit kaget.

__ADS_1


" Biar saya antar pulang " Kata Marvin sambil menatap mata Vanya. Tanpa mendengarkan jawaban Vanya, Marvin langsung berjalan ke arah parkir dengan tangan yang tidak di lepasnya.


Semangat Membaca ya 💪💪💪


__ADS_2