
*******
Vanya sudah tiba di kosnya.
Perasaannya sungguh campur aduk. Dia merasa kegirangan ketika melihat respon positif Marvin terhadap perasaannya. Dia juga sempat berpikir kalau Marvin juga menyukai dirinya.
Vanya yang tidak bisa tidur malam ini. Ia terus-menerus memikirkan kejadian di cafe. Ia mengingat saat Marvin menatap matanya lalu mencoba untuk menciumnya. Ia senyum-senyum sendiri dengan memeluk erat gulingnya. Ia ingin sekali mengulang kejadian seperti tadi. Entah kapan lagi ia bisa berada di situasi seperti tadi.
Namun, kegirangannya terhentikan oleh ingatan Vanya tentang seorang perempuan yang makan bersama dengan Marvin. Ia sangat berharap dapat bersatu dengan Marvin. Tapi ia merasakan rasa sakit ketika ingat perempuan itu. Walaupun Vanya tidak tahu kebenarannya tentang perempuan itu. Apakah memang benar pacarnya Marvin atau tunangannya! hmmt.. tiada yang tahu.
Vanya pun langsung mengais ponselnya dan membuka akun sosmednya agar pikirannya bisa beralih ke lain. Ia membuka akun Instagram, namun malah foto Marvin muncul di beranda pencarian. Ia mencoba untuk menghiraukan itu, dengan mencoba mengetik nama temennya.
__ADS_1
Namun Vanya tidak bisa, ia mengakui perasaannya selalu mengarah ke Marvin. Vanya pun membuka akun Instagram. Rasa penasaran pun bermunculan tentang perempuan itu.
'Kalau perempuan itu emang ada hubungannya dengan pak Marvin. Pasti Marvin akan upload fotonya' batin Vanya.
Ia semakin penasaran, ia pun langsung scroll ke bawah melewati foto-foto Marvin yang sebelumnya sudah ia lihat. Tangannya pun berhenti scroll ke bawah. Pandangannya tertuju pada sebuah foto Marvin dengan perempuan itu. Dari foto itu mereka terlihat sangat bahagia, senyum di foto tersebut bukan di buat-buat tapi memang bawaan suasana hati.
Seketika Vanya murung dan menyingkirkan ponselnya dari penglihatannya. Ia sangat bersyukur ciuman tadi tidak terjadi. Ia takut perlakuan dosen itu akan memunculkan rasa yang lebih lagi padanya. Ia akan menjadi orang ketiga yang akan menghancurkan hubungan Marvin dengan pacarnya.
Vanya pun memejamkan matanya yang sebenarnya tidak ngantuk itu. Ia paksa sampai benar-benar tidur.
******
__ADS_1
Di waktu yang sama, Marvin juga tidak bisa tidur, ia selalu memikirkan kejadian di cafe bersama Vanya. Ia kadang tersenyum dengan ulahnya yang tidak bisa menahan gejolak hatinya.
Marvin selalu teringat saat ia yang mencoba mendekatkan wajahnya ke wajah Vanya untuk mencoba mencium bibirnya. Namun misinya gagal oleh ponselnya sendiri. Ia merasa sebal karena ponselnya berdering tidak di waktu yang tepat. Marvin mengetahui di saat itu Vanya ketakutan tapi sepertinya Vanya juga menginginkan ciuman itu.
Marvin tersenyum lagi sambil menggelengkan kepalanya saat mengingat ulahnya itu. Ia mencoba untuk tidur karena malam sudah larut sekali. Tapi ia tidak bisa dapat tidur. Pikirannya saat ini benar-benar tertuju kepada mahasiswa bimbingannya itu.
Ia mencoba mengubah posisi tidurnya, dengan berbalik kanan lalu berbalik kiri, dan telentang tapi tetap saja tidak bisa. Ia tidak bisa menghilangkan pikirannya tentang Vanya. Ia pun mengambil ponselnya dari meja samping ranjangnya. Ia melihat What's up nya, untuk mengetahui Vanya online atau tidak. Ternyata Vanya tidak online dan terakhir dilihat setengah jam yang lalu.
Marvin pun mengalihkan dengan menonton YouTube, sehingga pikirannya dapat tenang dan bisa mengantuk agar dpat tidur. Karena sekarang benar-benar udah larut malam.
******
__ADS_1