
Tampak seorang wanita berumur 20 tahun, sedang berjalan di pinggir lorong, pandangannya kosong, rupanya dia tengah melamun..
tett ...! tett ...!
Bunyi klakson pun tak dia hiraukan. Wajahnya fokus dengan jalanan aspal yang hitam, entah apa yang tengah dia pikirkan.
"Zahira!"
Seorang pemuda tampan menghentikan laju motornya, dia mengenakan celana jin dengan lutut yang sedikit sobek dan hoody warna hitam.
"Naufal, maaf aku tadi tidak dengar," ucap Zahira
"Ia gak papa, butuh tumpangan tidak?" tawar Naufal
Wanita itu tersenyum seraya menganggukkan kepalanya.
"Oke ayo naik! kamu mau kemana?
" Hmm ... itu ...." tampaknya gadis itu enggan untuk berbicara. Wajahnya tersimpan kehawatiran
"Ia kemana?" desak Naufal
"Ke rumah pak sudirman, bapak-nya tony"
"Apa!" ngapain kamu kesana, dia kan rentenner.
"Begini Fal, ayahku sakit. Aku butuh uang buat pinjam biaya obat ayahku, kasian dia jadi tidak bisa bekerja. Belum lagi biaya Kuliahku. " ucapnya sendu.
"Begini saja, gimana kalau aku pinjamkan uang buat beli obat ayahmu? tawar Naufal
__ADS_1
"Tapi, aku sudah banyak berhutang budi sama kamu."
Lelaki itu tersenyum lalu berucap.
"Sudahlah, jangan sungkan. Lagian aku gak suka lihat cewek cantik mukanya kayak patung berjalan, gak ada ekspresi."
Naufal memang sangat baik pada Zahira, karena dia menyimpan rasa pada gadis cantik yang ada di depan nya.
Ya ... namanya Mohammad Naufal, orang tua nya dari madura. Dia pergi ke jakarta untuk kuliah sekaligus bekerja untuk menambah biaya kuliahnya, dan disinilah dia bertemu dengan tambatan hatinya.
Zahira Azzahir seorang wanita cantik ,dengan bulu matanya yang lentik, hidung kecil, bibir yang seksi dan dagu yg manis, semakin menambah rasa kagum di hati seorang Naufal.
Lelaki itu turun dari sepeda yang di naikinya, merongoh saku yg ada di pinggangnya, uang dua lembar berwarna merah ia sodorkan kedepan wanita cantik itu.
"Ini buat mu, semoga aja dapat membantu. Kau tak usah memikirkan bagaimana cara membayarnya, karena kapan pun itu, aku akan mencarimu untuk menagih hutangmu hehe,"
Naufal tertawa cekikikan melihat zahira mencebikan bibirnya, tanpa sadar tangan nya terulur memegang pipi Zahira yang menggemmaskan.
"Eh, itu tadi lalat di pipimu." Naufal menggaruk rambutnya yang tidak gatal, dia salah tingkah dengan perbuatannya sendiri.
"Ya udah yok kita lanjut"
"Oki dokki," bertingkah dengan suara bencong
"Apaan sih, gellaaaay tau," Zahira terkikik
"Silahkan naik tuan putri," ucap Naufal
"Baik lah pak ojek, keppakkanlah sayap kudamu itu," jawab zahira
__ADS_1
Sesaat mereka tertawa bersama.
"Kenapa jadi pak ojek?" ucap naufal bersungut-sungut
"lantas ...?"
"Calon imamku, kan lebih enak kedengerannya."
"Mimpi aja sana, yuk ah cuuss." Seraya mendaratkan pantatnya ketempat duduk sepada yang di kendarai naufal. sepedapun berjalan.
Perbincanganpun berlanjut.
"Benerran loh ra' kalau kita di takdirkan untuk bersatu, tak akan ada rintangan yang menghadang, pasti kita akan dipertemukan sampai kita bisa bersama," ucap Naufal serius
"Udah ah jangan bahas itu. "
Seketika tak ada obrolan di antara mereka, mereka terhanyut dengan pikirannya masing-masing. Sampailah Mereka tiba di depan rumah Zahira.
"Naufal, makasih ya..,
"Oke lah."
"Gak mampir dulu.?"
"Gak ah, sampaikan saja salamku sama bokap."
"Hati-hati di jalan ya."
Sebenarnya Zahira bukan tidak menyukai Naufal, namun laki-laki itu tak pernah mengungkapkan perasaan nya. Dia hanya memberi kode-kode dan rayuan gombalnya terhadap Zahira. Zahira hanya takut baper sendiri, sehingga dia malas menanggapi rayuannya Naufal, biarlah waktu yang menjawab semuanya. karena dia tak mau terbebani dengan urusan cinta.
__ADS_1
"Ayah, semoga cepet sembuh" gumamnya sendu, pandangan nya terfokus pada tubuh yg tergolek lemas d atas tempat tidur.
***