
Pada malam hari, suasana di ruang tamu tempat Emmak dan keluarga bernaung dengan rumah yang berukuran 6 kali sembilan itu telah ramai dengan celotehan septi. Yang entah membicarakan apa sehingga menjadi seheboh ini. Padahal yang diajak bicara hanya menanggapi sekenanya saja.
Pikirannya melayang dengan keputusan yang sedang ia rancang untuk memulihkan kehidupan yang akhir-akhir ini membuat ia risau.
Mereka-reka kata dan bahasa untuk memulainya dari mana. Hatinya berdebar seakan dihadapkan dengan situasi mencekam.
Padahal tinggal satu hari lagi ia harus tinggal di rumah Emmak, dan itu akan dipergunakan untuk memberi pernyataan pada keluarga Susanti.
"Bang, aku jadi geli sendiri tau gak, waktu itu sebelum kak Susanti mengejarmu ke jakarta. Masak dia nginep disini terus peluk-peluk aku, katanya wajahku agak mirip kayak Abang, jadi dia gemmes sendiri malah aku dijadiin guling. Haha, ya ampun kalo sudah bucin tingkahnya jadi konyol ya." Sekelebat lelaki itu mendengar nama Susanti di sebut, wajah yang sedari tadi datar sekarang malah menatap wajah adiknya dengan serius.
Entah mengapa pandangannya itu malah seperti memyeramkan di hadapan Septi. Sedang Emmak sedari tadi hanya menyimak saja. Beliau merasakan ada yang sedang membelenggu pikiran putranya. Insting seorang ibu memang sangat kuat ternyata pemirsa.
mereka bicara dengan bahasa madura.
"Kamu kenapa, Cong?" Emmak yang sedari tadi hanya diam melihat perubahan tingkah putranya menjadi tadak tahan untuk tidak bertanya.
"Ha? Aku sebenarnya ...." Masih ragu untuk mengatakan. Wajah Naufal masih melihat wajah Emmak yang menunggu ucapannya, juga merasakan suasana seperti kelam karena Septi sudah berhenti berceloteh dan malah menghentikan aktivitas makannya. Demi untuk melihat dia terlihat gugup.
"Jadi sebenarnya ... Aku datang kesini, bukan cuma ingin mengobati rasa kangenku sama Emmak juga Septi, tapi ...." Menarik nafal dalam, mencari sebanyak-banyaknya oksigen untuk menguatkan pendiriannya.
"Ah, Abang lama banget. Ya ampun, hihi," Sergah Septi.
Ingin rasanya Naufal menyumpal mulut Septi agar tak merecoki keadaan, dengan kasar lelaki itu mengembuskan nafas dan berdecak.
"Sep, berhenti bicara." Bila Emmak sudah memberi ultimatum cegahan, maka heningkah keadaan. Percayalah biar Septi banyak bicara dia juga anak yang patuh. Seketika wajahnya menunduk. " Lanjutkan, Cong," perintah Emmak.
__ADS_1
"Sebelumnya, aku ingin minta maaf, Mak. Mungkin keputusanku ini akan merubah hidupku juga hidup Emmak kedepanya. Namun, aku berharap semoga keputusanku tidak berdampak pada hubungan Emmak juga keluarga Paman Karim."
"Sebenarnya, aku ingin jujur bahwa aku tidak mencintai Susanti, ada wanita lain yang sudah mengisi hatiku selama ini. Maafkan aku mak, sebelum terlambat besok aku akan pergi kerumah Paman Karim dan jujur untuk memutuskan pertunangan dengan Susanti." Sangat jelas terlihat Mimik wajah Emmak yang kaget dengan ucapannya. Bahkan Septi sampai tertegun dengan semua yang dia dengar.
Namun, Emmak adalah orang tua yang hebat, meski Naufal tak bisa membaca pikiran ibunya, dia yakin bahwa Beliau akan menerima keputusannya.
"Pikirkan baik-baik dulu, Cong. Perbanyaklah berdoa dan meminta petunjuk pada Sang-pembolak balik hati. Apakah keputusanmu sudah yang paling tepat atau tidak. Emmak hanya bisa berdoa dan mendukung apa yang terbaik buatmu. Semoga kamu menemukan pilihan yang tepat untuk pasangan hidup." Emmak menepuk-nepuk punggung lelaki itu dan beranjak pergi ke kamar mandi. Sepertinya beliau akan berwudu'.
"Abang ... "
Naufal tak menghiraukan mulut Adiknya yang sudah terbuka untuk melanjutkan berbicara, lelaki itu malah memotongnya"Sudah lah, Sep. Aku sedang puasa ngomong sekarang." Beranjak pergi meninggalkan Septi sendirian dengan meninggalkan banyak pertanyaan di kepala gadis itu, yang sedang greget melihat tingkah Abangnya.
Astaga Abang.
Tak berkutik dengan keadaan. Gadis itu masih bingung, siatuasi seperti apakah ini?
Naufal telentang di atas kasur kasar legend pada masanya. Tatapanya menerawang jauh melewati celah atap yang ada di kamar. Dia memijit pelipis yang mulai terasa pening.
Berharap hujan dalam hati menemukan titik terang hingga menimbulkan cerah dalam hidup. Matanya dipaksakan tertutup. Namun, ia mendengar suara Emmak yang sedang mengaji di sebelah kamarnya. Disana memang tersedia satu kamar kecil hanya di peruntukan Emmak untuk beribadah.
Perbanyaklah berdoa dan meminta petunjuk pada Sang-pembolak balik hati. Apakah keputusanmu sudah yang paling tepat atau tidak.
Suara Emmak bagaikan slow motion yang selalu terulang terngiang-ngiang di telinga. Dengan langkah gontai lelaki itu pergi berwudu'. Sepertinya cara paling akurat adalah meminta petunjuk dengan mengadukan keresahannya pada Yang-kuasa.
***
__ADS_1
Pukul tiga pagi hari, suasana kampung sudah ramai dengan lantunan ayat-ayat penenang jiwa. Entah apa yang sedang di baca para takmir di setiap masjid di penjuru kampung itu. Karena Suaranya terdengar remang-remang. Terbesit kebanggaan dalam hatinya, bersyukur karena telah dilahirkan di tempat yang kental akan keagamaan.
Namun, bangga saja tidak cukup bila mana ibadahnya hanya itu-itu saja, bahkan hari sekarang sama dengan hari esok itu tandanya kita rugi, ia bukan tak sadar dengan kelalaiannya dalam beribadah, bahkan setiap harinya lelaki itu sering bangun ketika di luar rumah sudah temaram. Definisi dari sadar tapi tak mau menyadari.
Berbeda dengan malam ini, hatinya terlalu gelisah hingga tidur pun harus terjaga Karena malasah yang belum usai. Di sela-sela kegundahan. Ia masih mendengar suara Emmak sedang mengaji.
Ah, Emmak memang is the best! Sebelum tidur, ia mendapati Ibunya sedang mengaji. Bangun pun juga hal sama yang didengarnya, ia berjalan untuk melihat keadaan ibunya, tapi tunggu! Ada sedikit yang berbeda dengan Emmak.
Tiba-tiba saja mata lelaki itu berembun, ternyata mata sembam Emmak mengiris hatinya saat ini. Oh, Tuhan ... Betapa berdosanya ia telah memberi kekhawatiran yang mendalam pada orang tua kuat tapi renta itu.
"Emmak." Berjalan menghampiri Emmak yang sedang menunduk.
Sekuat tenaga ia tahan kesedihan. Mendaratkan kepala di pangkuan Emmak, meminta tangan yang keriput itu membelai rambutnya seperti saat dulu ketika ia sedang bersedih.
"Emmak, menangis?" Mengusap-usap tangan Emmak.
Beliau masih saja bungkam. Membelai kepala sesuai keinginan lelaki itu. Tangannya berarih memeluk perut Emmak, "Kenapa harus bersedih, Mak? Aku bisa menyelesaikan masalahku hari ini. Emmak tak usah khawatir,"
"Aku tidak begitu mengkhawatirkanmu, tapi aku kepikiran dengan perasaan Susanti, "
Ah, Emmak. Aku kira ... Dia mengkhawatirkanku, tapi ternyata dia lebih kepiran dengan Susanti. Iya, ya, Susanti sudah seperti Septi bagimu
"Emmak tau perasaan gadis itu sedang hancur, tapi Emmak tak bisa memaksakan perasaanmu, Cong. Kamu berhak memilih dengan siapa akan berlayar mengarungi bahtera rumah tangga. Dan ingat! Siapapun wanita yang kamu pilih, jaga dia dan perasaannya." Lelaki itu mendongak melihat lekat-lekat mata Emmak yang selalu menjadi penyejuk di kala hatinya sedang gerah.
"Bila ingin berangkat ke rumah Paman Karim, bawa makanan yang sudah Emmak persiapkan di atas meja. Sampaikan salam maaf Emmak pada keluarga mereka,"
__ADS_1
Mengapa setiap kata-kata yang Emmak untaikan selalu bisa membuatnya tertohok, tapi aku janji, Mak. Ini untuk yang terakhir kali aku memgecewakan orang-orang yang aku sayangi.