
"Tak usah terlalu jauh mereka-reka. Planing a, b, c, yang malah akan membuat hubungan kita tak bergerak dan hanya itu-itu saja. Optimis! Yakin kita pasti bisa. Aku yakin orang tua kita juga bakal bahagia melihat kita bahagia. " lelaki itu mencoba Memberi pengertian agar kekasihnya sesama paham.
Namun, sepertinya mengubah pendirian seseorang itu tak segampang memasak nasi pakai magicom. Zahira tetap keukeh pada pendiriannya, dan pada akhirnya Naufal mengalah dengan menyudahi perdebatan yang tak berujung itu.
***
Dua hari setelah melakukan berbagai kegiatan yang berhubungan dengan skiripsi. Akhirnya kelelahannya terbayarkan dengan peng acc an seorang dosen yang terkenal sangat teliti dalam cek dan riceknya.
Ia sangat bersyukur karena memiliki waktu untuk pulang dan menyelesaikan semuanya. Namun, sebelum itu, ia harus menemui Susanti terlebih dahulu. Satu hal yang tak bisa ditolak.
Yaitu, jantung berdebar, keringat yang dingin, serta tubuh yang kaku hanya untuk menemui gadis lugu itu. Apakah ia mencintainya? Bukan! Mematahkan hati seseorang lebih sulit dari pada membangun cinta. Terutama dengan seorang yang ia kasihi.
Lantas, apa bedanya kasih dengan cinta? Toh, sama-sama memiliki ikatan perasaan yang kuat bagi seseorang yang memilikinya. Dan jelas berbeda dari versi Naufal sendiri.
Karena cinta itu murni rasa tertarik yang inigin memiliki. Berbeda dengan kasih yang akan menimbulkan sayang. Apakah cinta tidak sayang? Tentu dua kata itu tak bisa dipisahkan, tapi kenyataannya lelaki itu masih bisa membagi dan membedakan karena objek yang tak bisa disatukan.
Tak perduli dengan pikiran orang lain tentang cinta dan sayang, ia memiliki definisi tersendiri untuk dua kata fenomenal tersebut. No debat!
demi melancarkan aksi, beberapa kali ia harus mengusap wajah dengan kasar. Belaian sepoi angin malam membuatnya harus mengeratkan jaket yang sedang dikenakan. Matanya nyalang melihat kearah samping dimana kendaraan bersliweran.
Setelah menunggu beberapa saat, cahaya lampu dari sepeda motor matic menyilaukan pandangannya,yang memang berada di posisi pinggir jalan.
"Aku cabut dulu, Bang."
Naufal menganggukkan kepala bersamaan dengan Damenjo membelokkan setir. "Nanti pulangnya gak usah jemput ya, biar aku yang nganterin," pesannya.
"Okeh!" seru Damenjo.
Sepeda pun berlaju dengan Susanti duduk dihadapannya. "Maaf ya, Bang. Jadi nunngu lama. " Susanti lebih dulu berbicara.
Lelaki itu mengangguk. " Mau makan apa?" Menunjuk ke arah tulisan menu di depan gerobak. Yang hanya ada dua rasa. Lalapan dengan nasi goreng.
__ADS_1
"Samain aja deh, Bang." Naufal mengangguk dan memesan dua piring lalapan dengan dua es teh.
Setelah menunggu sebentar, dua hidangan dada ayam dengan aroma khas lalapan telah tersaji di atas meja, lengkap dengan sambal pedas manis, daun kemangi, irisan mentimun, selembar gubis juga dua potek kacang panjang.
Hidangan seperti itu selalu bisa mengunggah seleranya. Namun, untuk malam itu, ia seperti tak memiliki gairah untuk mencubit daging sedap yang menjadi makanan favoritnya.
Gemuruh perasaan tak menentu,membuatnya tak bisa menelan hidangan. Ia hanya memandang nanar Susanti yang lahap memakan daging ayam yang empuk dengan taburan sambal di atasnya.
"Kenapa gak makan, Bang?" Sebelum isi piring ludes tandas tak tersisa, Susanti menghentikan acara makannya karena melihat Naufal hanya memandanginya sedari tadi.
Naufal menggeleng dan menyodorkan makanannya ke hadapan gadis itu, "Enak? " tanya lelaki itu.
Susanti hanya mengangguk heran.
"kalau kurang, bisa nambah punyaku. Sepertinya aku sudah kenyang, " ucapnya dengan seulas senyum.
"Makan yang banyak biar ceper gede," sambungnya lagi. Sambil mengelus ujung kepala yang berbalutkan kerudung pasmina warna merah muda
Naufal tersenyum melihat bibir susanti merah karena kepanasan."Ya udah, bungkus aja bawa pulang."
"Ia," Makanan gadis itu sudah licin tak bersisa, juga es teh yang hanya terisa balok-balok es batu didalam gelas.
"Abang, mau ngomong apa?"
Naufal membenarkan letak duduk. Memandang wajah lugu didepannya. Semoga saja kata-kata yang sudah ia rancang sedemikian rupa bisa membuat Susanti mengerti dan menerima keputusannya. "Susanti, sebelumnya aku minta maaf," ia meraih tangan Susanti. "ini sangat berat, tapi kamu harus tau." Suaranya tercekat.
"Mungkin setelah ini kau akan membenciku, aku tak bermaksud menyakiti. Tapi, sebuah rasa tak bisa dipaksa. Mungkin ... Karena aku terlalu jahat, tak bisa bertanggung jawab. Semua ini salahku, aku ...."
Perkataannya tergantung di udara karena tangan susanti dengan kasar menarik tangannya dari pegangan lelaki itu. Untuk ke tiga kalinya Naufal melihat wajah Susanti Merah padam seperti menyimpan amarah.
"Maafkan aku," Lirih Naufal.
__ADS_1
"Apakah ... Abang akan memutuskan pertunangan kita?" Tanyanya dengan pandangan lurus dan mata sudah berkaca-kaca.
Lelaki itu mengangguk. "Maafkan aku!" ia meraih kembali tangan gadis itu dan meremas jemari lentik yang seperti sudah terasa dingin di kulitnya.
"Apakah, perempuan itu yang membuat Abang memutuskan pertunangan kita?" tuding Susanti.
Sekali lagi lelaki itu mengangguk, menggoreskan luka di hati yang sudah perih. Air mata yang sedari tadi Susanti tahan, kini sudah tak bisa dibendung. Tumpah membajiri wajah dengan ribuan kekecewaan.
Hening, Susanti tak dapat melanjutkan kalimat meski terlalu banyak pertanyaan berputar-putar di kepala. Dia sudah tak memiliki tenaga untuk memasuki perasaan yang sudah tak ada ruang Untuknya lagi.
Diusapnya air mata yang sudah tak berati itu, kini ia sibuk memulihkan emosi dengan memejamkan mata sejenak.
"Baiklah, terima kasih karena sudah jujur dengan perasaanmu, Bang. Benar katamu, cinta tak bisa dipaksakan. sekuat apapun aku berjuang bila hatimu sudah ada yang memiliki, itu akan sia-sia saja. Semoga ... Kau bahagia dengan cinta yang kau pilih." Entah mengapa ucapan susanti malah membuat hatinya sakit.
Meski Naufal sudah merasa lega, tapi rasa bersalah menghujam tubuhnya. Dia tak terima menyakiti susanti. Namun, apalah daya. Hidup tak luput dari sebuah pilihan. Ia harus tega memberi kubangan luka pada perempuan yang disayang.
"Besok aku akan pulang kampung, untuk menyelesaikan semuanya. Aku minta dukunganmu, bila keluarga kita bertanya, jawablah seperti kita sedang baik-baik saja meski kondisinya sudah tak seperti semula," pinta Naufal.
Susanti hanya mengengguk, menenggelamkan wajah pada arah meja di bawah dagunya. Menggigit bibir agar lautan air mata tak kembali tumpah. Sesungguhnya ia tak ingin terlihat rapuh. Apalagi terlihat mengenaskan di hadapan seorang lelaki.
Putus cinta bukanlah akhir dari segalanya, ia cukup bersabar dan menerima torehan luka yang menyesakkan dada. Kebahagiaan tak hanya terletak di satu sisi. Bila gagal, masih ada sisi lain yang bisa mengisi kekosongan kisah yang belum usai.
"Susanti, Apakah kau baik-baik saja?" Naufal hawatir karena sedari tadi Susanti hanya menunduk saja. "Sekali lagi aku minta maaf, kau tak berhak menangisi lelaki pengecut sepertiku, kau berhak bahagia. Aku yakin, kau akan menemukan yang lebih baik dariku,"
Sesaat kemudian gadis itu mengusap deraian air mata, ia donggakkan wajah dan menampilkan senyum seolah ia sedang baik-baik saja. "Aku tak apa," lirihnya.
"Sekarang aku mau pulang,"
"Baiklah, aku antar." Susanti tak menjawab. Naufal gegas menghampiri sepedanya.
Perjalanan pun berlanjut dengan kebungkaman dua insan yang tak saling ingin menyapa. Perasaan hampa membuat keduanya terhanyut Dalam buaian luka. Entah mengapa perjalanan malam itu menjadi sangat lama. Padahal, raga ingin segera sampai untuk memulihkan keretakan jiwa yang sudah hancur lebur menjadi serpihan sampah kecil yang tak berharga. Meski kisah ini bukan akhir dari segalanya, tapi hati siapa? dan seperti apa? yang mampu mengembalikan kubangan luka menjadi kembali utuh seperti sediakala.
__ADS_1