Pelabuhan Cinta.

Pelabuhan Cinta.
24. Rencana


__ADS_3

Satu minggu berlalu, Naufal sudah merasa baikan. Selama sakit, dia mengatur jadwal jeguk antara Zahira dan Susanti, agar kejadian yang membuat dirinya berasa lunglai tak terjadi kembali.


Dia berjalan dan melihat rumah besar yang sudah jarang dia singgahi, tangannya terangkat mengetuk pintu. Tak berapa lama, pintu pun terbuka. Seperti biasa, lelaki itu dipersilahkan masuk dan langsung duduk dengan tenang di ruang tamu.


Ia juga menaruh bingkisan berupa buah-buahan segar di meja kaca. Punggungnya ia sandarkan pada sandaram sofa empuk yang diduduki. Wajahnya melihat sekitar, tampilannya masih sama seperti saat terakhir kali mengunjungi rumah besar itu.


"Bentar ya, Mas Naufal. Saya panggilkan Tuan Hasan dulu, " ucap Bi Inah dan berlalu pergi.


Naufal hanya menganngguk sampai Hasan datang bersama Anita yang sedang dia dorong menggunakan kursi roda. Gegas Naufal menghampiri dan langsung meraih tangan Anita dan menciumnya.


Selain dekat dengan Hasan, Naufal juga menganggap Anita seperti ibunya sendiri karena kebaikannya. Dia juga terlihat hawatir melihat kaki Anita dibalut oleh perban, Apalagi lelaki itu juga tau banyak tentang masa lalu keluarga Hasan.


"Apakah kau tak mau kesini bila aku tak sedang sakit begini?" tanya Anita. Dengan wajah sinis dia melihat Naufal yang sudah lama jarang bermain kerumahnya.


Naufal meringis, tak enak hati pada Anita, dia sadar memang dirinya sudah jarang bermain kerumah besar itu.


"Dia sibuk pacaran, Ma. Mana sempet dia maen kesini," ejek Hasan. Sambil bersidekap dengan gaya coolnya.


"Biarin, dari pada jomlo ngennes kayak kamu," kilah Naufal bersungut-sungut.


Anita hanya bisa tersenyum dan mengeleng-gelengkan kepala. Namun, tiba-tiba saja wajahnya menjadi murung. Kedua lelaki tampan itu ternyata juga melihat perubahan ekspresi pada Anita. Mereka berdua malah saling tatap dengan kode mata saling menyalahkan.


"Tante, maafkan ya! Bukannya gak mau sering-sering kesini, tapi aku sekarang lagi sibuk. Mikirin kerjaan, gegara si Hasan tuh buat aturan baru di bengkel, jadinya aku tak sempet buat bermain-main. Belum lagi mikirin soal skripsi, bentar lagi kan aku wisuda." Naufal membuyarkan keheningan dengan mengadukan kesibukannya pada Anita.


"Elah, sok sibuk. Padahal dia gak pernah mematuhi aturan, Ma. Disuruh datang tepat waktu ke bengkel tetep aja dia telat, malah kemaren pake acara sakit segala lagi, " balasnya.


"Sudah-sudah. Fal, Tante kekamar dulu ya, pengen istirahat. Oia makasih oleh-olehnya. Padahalkan gak usah kayak gitu. Datang aja kesini aku udah seneng kok. " Anita menggerakakan kursi rodanya ke kamar. Seketika Hasan dan Naufal menjadi duduk dengan serius.

__ADS_1


"Pasti kamu ada maunya kan datang kesini?" tanya Hasan, sambil mengupas buah apel yang berwana merah tua. Sesekali tangannya terangkat memakan potongan-potongan buah segar itu.


Naufal masih saja diam, memperhatikan Bi Inah menaruh minuman kopi susu di meja beserta cemilan. " Seperti biasa kan, Mas Naufal?" tanya Bi Inah yang tersenyum ramah.


"Makasih, Bi. Kamu memang selalu tau apa yang aku mau," seloroh Naufal.


Setelah dirasa tugasnya selesai Bi Inah pergi dari tempat itu.


"Aku ... Akan putuskan pertunangan dengan Susanti. mungkin, setelah wisuda atau sebelum ujian skripsi, sepertinya pulang ke kampung adalah pilihan yang tepat untuk menyelesaikan semuanya," tutur Naufal.


Lelaki itu memijit dahinya yang terasa pening, mungkin itu sangat berat dilakukan. Akan banyak orang yang kecewa . Namun, ia tak mau mengorbankan perasaannya.


Semua ini menyangkut masa depan, meski harus mengecewakan banyak orang dalam keluarga. Mengikuti kata hati sepertinya lebih baik dari pada pura-pura bahagia, tapi kesengsaraan sangat menyiksa.


"Itu lebih baik, jangan mempermainkan hati wanita, kau pun tau bahwa kecewa itu sakit rasanya, jadi kalo emang yakin sama satu orang, ya sudah selesain aja pokok permasalahannya. Gampang kan? " ucap Hasan yang mengangkat bahunya seolah semua itu adalah perkara mudah.


Setelah tandas memakan buah apel, dia mengambil satu buah lagi. Sepertinya ia sedang lapar atau mungkin hatinya sedikit tak terima bila Naufal lebih memilih dengan Zahira dari pada Susanti, tapi apa hak dia ingin melarang, akhir-akhir ini dia hanya merasa nyaman bersama dengan Zahira.


Ia harus menata rencana agar semuanya berjalan sesuai kehendaknya, dia lupa bila yang menentukan kehendak adalah Tuhan yang berkuasa. Mungkin untuk saat ini dia hanya berharap agar hubungannya dengan Zahira bisa dimengerti oleh Susanti.


"Terus, rencanamu apa?" tanya Hasan yang sudah berhenti dengan kegiatan mengunyah.


"Sini aku bisikin." Naufal malah menarik telinga Hasan untuk dia dekatkan dengan Bibirnya. "Aaah, pake acara gituan." Hasan tak terima.


"BUGH!"


"Aduh, pantatku," pekiknya. Naufal terjatuh dari dudukan karena dadanya didorong.

__ADS_1


"Hahahaha, syukurin! Siapa suruh pake acara cium-cium segala," gerutu Hasan.


"Siapa yang mau cium, brengsek! Aku mau berbisik," teriak Naufal sambil berdiri memegangi pantatnya yang sakit lalu duduk dengan memyenggol punggung Hasan dari lengannya.


Hasan yang merasa kasihan dengan kegelisahan Naufal terpaksa mendengarkan curhatannya, sekali-kali dia menyela memberi pencerahan pada sahabatnya, sampai tanpa sadar pembicaraanpun berlangsung sampai pukul sebelas malam.


Sampai pada saatnya, Naufal menemukan titik terang dari permasalahannya. Dia berharap rencananya berjalan dengan lancar.


"Oke! Aku setuju. Oh, makasih ya brooo, kalau gak minta pendapatmu mungkin aku sudah setres mikirin masalah ini," adunya.


Naufal pun bernafas lega, setelah menceritakan semuanya pada Hasan, mereka baru ingat kalau cemilan di atas meja belum tersentuh sama sekali.


Minuman yang di sediakan Bi Inah pun hanya dia cicipi.


"Santay aja, meski setelah ini kau akan melupakan bantuanku, itu sudah biasa, " sindir Hasan yang menyandarkan punggung dengan tangan ia lipat dibelakang kepala.


"Ah, kamu kok gitu sih, buat aku tak enak saja. Aku kan jadi seeeedih, sini aku peluk." Kedua tangan Naufal dia julurkan pada Hasan yang langsung ditangkis dengan pelototan tajam olehnya.


Naufal semakin terkikik melihat tatapan membunuh dari sahabatnya itu, dan tak membuatnya takut, lelaki itu malah mencubit pipi Hasan hingga membuatnya marah seketika.


"Faaaaal! Enyahlah dari hadapanku!" teriaknya.


Hasan lalu memberi tonjokan pada lengan Naufal, tapi sayangnya lelaki itu bisa menghindari pukulan dan berlari menjauhi. Hasan yang marah memejamkan mata dan mengusap dadanya.


Sungguh dia menyesali telah menjadikan Naufal sebagai sahabatnya. Namun, ia tak bisa menyalahkan takdir. Setelah membuka mata, ternyata Naufal masih berada di sana, sedang mengambil cemilan yang sedari tadi lupa mereka makan.


"Aku pulang dulu, ketemu besok. Bilang sama Tante, semoga cepat sembuh." Tanpa merasa bersalah dia membawa tiga biji cemilan yang terbuat dari kacang itu. Seraya berpamitan dan meninggalkan senyum manis pada Hasan yang sedang menatapnya tajam.

__ADS_1


Itulah yang membuat keduanya bersahabat akrab. Meski dalam keadaan susah ataupun darurat, mereka lebih memilih mencari solusi bersama dan jelas saja di akhiri dengan canda tawa yang kadang membuat salah satunya menjadi jengkel.


Hasan juga beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju kamar. Sedang Bi Inah yang melihat mereka berdua dari kejauhan menjadi tersenyum-senyum sendiri dan melanjutkan pekerjaannya.


__ADS_2