Pelabuhan Cinta.

Pelabuhan Cinta.
26. Berbicara serius


__ADS_3

"Apa yang kau lakukan padanya, brengsek!" geram Naufal.


Tangannya masih ia siagakan untuk memukul bagian sebelah yang belum mendapatkan pukulan. Sedang tangan kirinya mencengkram kerah baju lelaki malang itu.


BUG!


BUG!


BUG!


Pukulan bertubi-tubi mampu membuat lelaki itu tak bisa melawan, darah segar keluar dari daerah hidung dan ujung bibirnya. Perhelatan mereka membuat semua orang ketakutan.


Teriakan orang-orang sekitar tak mampu meredam keberingasan amarah yang sedang membuncah. ia seolah gelap mata, tak puduli dengan tangan perempuan yang telah ditolongnya mencoba melerai pertengkaran.


"Aauh, Ssssttt."


Susanti terdorong karena tepisan tangan Naufal yang terlalu keras. Membuat badannya terjungkal kebelakang. Meringis kesakitan. Hingga Tak mampu menahan tangis yang pecah dan membuat Naufal menghentikan serangannya.


Sadar akan keteledorannya, ia langsung merengkuh tubuh yang sedang meringkuk dibawah dengan deraian air mata membanjiri pipi.


"Kamu, tenang," lirih Naufal


"Suusssttt, semua akan baik-baik saja." tangannya menepuk-nepuk punggung yang bergetar, lalu membantunya berdiri dan membawanya pergi dari tatapan mata orang-orang yang tak mengerti permasalahannya.


Kakinya masih sempat melakukan tendangan, yang hanya ia lakukan dengan menendang udara karena kakinya tak mampu menjangkau lelaki yang sudah babak belur karena ulahnya.


Semua orang satu persatu bubar, ada juga yang menolong membantu Roni, laki-laki yang telah membuat keadaan kantin kacau balau.


Sedang Zahira hanya mampu berdiri mematung melihat tingkah naufal yang terlalu berlebihan menuangkan kemarahannya pada Roni. Tenaganya terlalu lemah, antara melihat pertengkaran dan gejolak hatinya yang sedikit mencelos karena bentuk perhatian Naufal pada Susanti membuatnya menggigit bibir.


Entah mengapa Zahira tak ingin mengikuti langkah Naufal yang lebih dulu membawa Susanti. Dia lebih memilih berlalu dan memegangi dadanya yang tak pasti dengan perasaannya.


"Itu normal," gumamnya.


"Dia bersaudara." Ia menepis kegundahan "Saudara ... sepupu." langkahnya tak mampu dilanjutkan.


Ia berdiri menyandar dan menyeka air mata yang sebenarnya tak ingin dikeluarkan. Namun hati tak bisa berbohong bahwa sekarang dia sedang cemburu.


***


"Kamu tak apa?" tanya Naufal hawatir.


Susanti mengangguk seiring isakan tangis yang sudah mulai mereda.


Untuk saat ini gadis itu bisa tersenyum bahagia karena lelaki yang dicintainya begitu membuat perasaannya terpukau.


Perhatian Naufal padanya membuat dia paham bahwa lelaki itu sangat menyayanginya. Meski tak pernah terucap, tapi tingkah peduli mematahkan pikirannya tentang cinta yang tak sampai.


Ini adalah kebahagiaan yang tak pernah ia duga, harapan untuk memiliki hatinya kini telah terkuak bersama arus masa.

__ADS_1


Semoga ini bukan mimpi,


"Aku tak apa. Terima kasih karena sudah perhatian padaku, tapi sungguh, aku sangat takut melihat kamu marah."


Susanti berhambur kedalam pelukannya. Dada bidang inilah sandaran teryaman bagi kepalanya."Bang, Aku mencintaimu," lirih Susanti.


DEG!


Tiba-tiba Naufal merasa sebuah palu menghantam kepalanya. Dia baru tersadar bahwa tadi Zahira sedang bersamannya.


Dimana dia?


Apa yang aku lakukan?


Merasa pelukannya tak terbalaskan. Susanti melepas dan melihat wajah Naufal yang tampak kebingungan.


"Kenapa?"


"Ah, aku, pergi dulu. Ada urusan sebentar." Meski berat, Susanti tetap mengangguk.


Naufal berlari mencari keberadaan Zahira. Dengan nafas terengah dia tak berhasil menemukan sosok cantik dengan bulu mata lentik itu. Gusar, dia merongoh hanphone dan berkali-kali menghubunginya.


Keadaan seperti sedang menertawakan kebodohannya. Padahal ia hanya tak terima bila Susanti diganggu oleh Riko. "Temen brengsek!" Beberapa kali ia mengumpat. "Zahira ... Dimana kamu?"


Ia mulai frustasi. Mengacak-acak rambut dengan terus menggeram, dan entah sebuah keajaiban dari mana, tanpa sadar dirinya sudah berada di taman kampus.


Rambut kuncir kuda menjadi pusat perhatiannya. Ketika letih melanda, tiba-tiba saja kelegaan menghampiri. Ia yakin, wanita yang dicari sedang duduk termenung dibawah rindang pohon besar itu.


"Maafkan aku," lirih Naufal.


Zahira tak mampu menyembunyikan keterkejutan. Sesegera mungkin wajahnya menunduk menghilangkan aura kesedihan. Ia yakin bahwa ini adalah cobaan.


Sekali lagi Naufal mengakat dagu zahira. Memperhatikan wajah cantiknya, mencari sesuatu yang menjanggal. Namun, tampaknya gadis itu pintar menyembunyikan keresahan.


Zahira tersenyum menampilkan seolah dia sedang baik-baik saja. "Kenapa harus minta maaf, " ucapnya. "Aku baik-baik saja." Tanpa mengurangi senyum palsu yang dibuat senormal mungkin.


"Oh, ya!" Naufal tak menganggap ucapan Zahira tak sesuai dengan hatinya,tapi dia ikuti suasana yang ada.


Memilih aman demi sebuah hubungan, ia berjanji akan segera menyelesaikan problema dari kisah cinta yang rumit ini.


"Kenapa tak mengangkat telephonku?" tangannya meraih poni yang menjuntai menutupi mata, diselipkan di atas telinga. "Begina kan lebih cantik, " sambungnya. Merasa puas dengan yang ia lakukan.


"Apa sih," Keresahannya kini lebur oleh suasana yang Naufal ciptakan. Kali ini senyumnya terlihat murni.


Zahira lalu merongoh hanphone di


dalam tas kecil yang berada di pangkuannya. Ternyata benar, sepuluh panggilan dari nama Nara terlewati. Ia menyodorkan benda itu, memperlihatkan bahwa pengaturan panggilan sedang dibuat senyap.


Namun, perhatian lelaki itu malah tertarik dengan Nama kontak dari sepuluh panggilan tak terjawab disana. Ia tersenyum-senyum sendiri.

__ADS_1


"Nara ... itu siapa? " tanya Naufal. Dia tersenyum miring melihat Zahira juga tersenyum dengan pertanyaanya.


"Jangan sok bloon deh!" ketusnya


"Jadi bener itu nama kita? "


Zahira mengannguk.


"Bagus, kalo di tengah kasih u gimana? Jadi Naura. Haha, ini mah jadiin rencana buat nama anak kita nanti,"


"Itu kan nama perempuan,"


"Yep, karena aku berharap nanti anak pertama kita perempuan, pasti lucu kayak kamu." pandangannya menerawang ke atas, seperti sedang membayangkan apa yang sedang diucapkan.


"kalo yang keluar laki?"


"Gak papa, ubah aja jadi Nauro," jawabnya asal


Zahira berdecak diiringi memutar bola mata.


"Ngeyel,"


"tapi, kamu suka kaaan?"


"Kagak!


Mereka lalu tertawa bersama.


"Mau laki-laki atau perempuan, yang penting anaknya dari hasil buah cinta kita berdua. Ye kaan?


"Apaan sih, Baaang," teriaknya.


Namun, karena panggilan secera reflek itu membuatnya teringat akan panggilan Susanti pada Naufal. Mimik wajahnya menjadi berubah seketika.


"Berdoa saja, semoga kita jodoh. Saling mencintai belum tentu bisa memiliki, karena kita tak tau seperti apakah hidup kedapannya. Berharap boleh, tapi jangan melebihi kapasitas, kalau tak sesuai, nantinya jadinya hancur membludak."


Zahira terlihat murung, dan Naufal seperti menyadari. Tak habis akal, ia meraih tangan halus yang masih memegang hanphone di atas pangkuannya, lalu dengan lembut mengelus jemari serta mengecupnya.


"Kalau aku tetap. Berpegang teguh pada keyakinan. Kalau dari sekarang keyakinannya tak membuncah, dari mana kita mendapatkan kekuatan untuk terus maju dan tanpa menyerah. Kekayakinan yang kuat bisa menembus gunung. Husnudzan saja lah."


"Setelah wisuda, mungkin aku akan kerumahmu membawa Ibuku," lanjutnya. Meyakinkan.


"Aku belum mau menikah, belum sempat membahagiakan Ayah. Setelah ini aku akan cari kerja sesuai jurusanku, bukan jadi pelayan resro terus."


"Kita kan bisa menikah tanpa kamu bekerja, kan sudah ada aku yang kerja."


"itu tak sesuai keinginanku,"


"Kamu cinta gak sih sama aku, aku bisa membahagiakanmu sekaligus ayah, tak perlu kamu susah-susah kerja. Aku akan bekerja keras demi kalian?"

__ADS_1


Keadaan mulai terasa panas, lelaki itu semakin terlihat memaksa pada pendiriannya. Sedang Zahira hanya tertawa sumbang dan berkata. "Aku tak ingin selalu bergantung pada lelaki, membangun keluarga itu bukan hal simple. Mungkin terdengar mudah untuk dibicarakan, tapi tak mudah diaplikasikan. Menikah itu tak hanya menyatukan cinta, tapi menyatukan karekter yang jelas berbeda pun juga dua keluarga yang saling berbeda. Kau seolah mampu memikul semuanya, tanpa melibatkan aku di dalamnya. Ini bukan solusi, butuh kesiapan dan tanngung jawab yang besar. Kita butuh pengangan, pengalaman untuk menjalani semuanya. Agar kita bener-benar siap dengan keputusan."


Naufal mengerutkan kening, berdecek, dan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.


__ADS_2