
"Berani sekali ya kamu ngebayangin aku gigit orang!. Kamu mau aku tuntut karena sudah berpikir yang tidak-tidak sama aku," ucap hasan tegas.
Wajah Zahira menjadi pucat dibuatnya, dan tanpa pikir panjang, gadis itu mengatupkan tangannya di depan dada dan meminta maaf dengan mata terpejam, seakan-akan bos yang ada di sampingnya sedang menyidangnya di pengadilan.
"Ma--maaf pak, saya tidak berani lagi ngebayangin Bapak gigit orang, Anda kan orang baik, perhatian, tidak sombong dan suka menolong," jawab nya ngelantur. Mata yang dari tadi terpejam seketika menjadi terbuka dan membulat, zahira baru sadar kalau dia sedang dikerjain oleh bosnya.
"Buhahahaha, dasar bodoh!" ejek Hasan, yang meresa puas membuat gadis di sampingnya menjadi jengkel.
Zahira hanya bisa meringis mendengar ejekan Hasan yang membuatnya jengkel dan malu.
'Dasar bos tembok nyebelin, untung kamu kaya, kalo tidak udah aku benyek-benyek itu mulut. Lagian kenapa aku bodo banget sih, cuma ngebayangin juga, gak bakal bisa nuntut dia' dumel Zahira dalam hati sambil memonyongkan bibirnya.
"Udah, gak usah merutukukiku dalam hati, atau gajimu aku potong," ucap Hasan menyeringai. Lelaki itu seolah mengerti apa yang di pikirkan Zahira.
"Ha? Kok bapak tau?" kata Zahira lagi."
Untuk kedua kalinya dia memperlihatkan tingkah bodohnya di mata Hasan
Citttttt ... !!!
Decitan rem yang tiba-riba berhenti mengagetkan Zahira, membuat dahinya terbentur ke dashboard mobil.
"Jadi bener apa yang aku katakan?" tanya hasan sarkas, dia mulai emosi.
Zahira cengengesan melihat bosnya yang susah di tebak.
"Hehe, bercanda Pak, habis Bapak tadi ngusilin saya, jadi gak papa dong sekali-kali di bales" jawab Zahira cengengesan.
Untuk sesaat Hasan hanya terdiam memikirkan tingkahnya. Tidak biasanya dia secepat itu dekat dengan seseorang. Apalagi dia adalah karyawannya sendiri.
Berbicara dengan Zahira menjadi hiburan tersendiri bagi lelaki tampan itu. Dia seolah suka dengan tingkah Zahira yang menurutnya bodoh dan konyol. Biasanya dia akan bersifat cuek pada orang-orang di sekitarnya.
__ADS_1
Dahi Zahira berkerut, melihat bosnya yang diam tanpa ekspresi, mukanya memang sulit di tebak, ahkirnya Zahira memberanikan diri bertanya.
"Hem, maaf Pak, apakah Anda jadi mengantar saya pulang,? tanya Zahira, dia bingung dengan tingkah bosnya yang diam tak ingin menggerakkan mobilnya lagi.
"Tidak, turun disini, kamu sudah membuat moodku hancur malam ini," jawab Hasan ketus, membuat Zahira menampakkan wajah lugunya.
"Sekali lagi , saya minta maaf Pak, telah membuat Anda marah. Apa bapak tega membiarkan seorang gadis berjalan kaki malam-malam begini, bagaimana kalau ada yang berbuat jahat pada saya?" ucap Zahira.
Dia memperlihatkan wajah semelas mungkin agar si bos berbaik hati mengantarnya sampai rumah.
"Baiklah." Hasan mulai menghidupkan lagi mesin mobilnya.
Wajah Zahira menjadi berbinar, senyum manisnya terpancar mendengar perkataan bosnya, 'ternyata tidak sulit mengubah mood bosnya, yang sering berubah-ubah' pikir zahira.
Sedang Hasan, terpaku memandang senyum manis zahira melalui kaca spion depan. dia baru sadar bahwa gadis yand berada di sampingnya memang sangat cantik.
Dan tiba-tiba saja dia teringat perkataan sahabatnya naufal.
"Pak. Bapak baik banget sih."
"Apaan, gak usah memuji, jangan seneng dulu. Kamu akan tetap di hukum. Siapa suruh isi hatimu tidak menyukaiku."
'Emang parah ni orang, kenapa juga harus memaksakan hati, terserah hatiku dong mau suka atau enggak sama seseorang' batin zahira.
"Ya sudah Pak, terserah bapak aja yang penting hukumannya jangan dipotong gaji ya?" Bujuk zahira, memelas
"Terserah aku, aku kan bosnya!" jawab Hasan dengan sombong.
Zahira hanya bisa pasrah dengan tingkah Hasan yang membuatnya jengah. Dia tidak menyangka bisa melihat sisi lain dari bosnya yang nyebelin. Padahal kata temen-temen restoran lelaki itu terkenal dingin,
dan tak mudah bergaul.
__ADS_1
"Jadi dimana rumahmu? Tanya hasan lagi, karena dari tadi wanita cantik yang ada di sampingnya belum mengatakan di mana arah rumahnya.
Pandangan Zahira yang sedari tadi menunduk menjadi melihat sekitar, dia baru inget kalau dia belum mengatakan rumahnya dimana.
"Jadi, Bapak lurus aja terus, nanti ada sepertiga jalan di depan. Terus belok kiri sekitar lima puluh meter, terus belok kanan lagi. Sampai deh," ucap zahira menjelaskan.
"Ribet banget."
"Maaf pak ngerepotin," jawab zahira tidak enak hati.
Hasan hanya fokus dengan jalanan di depannya, tanpa ingin menjawab pembicaraan Zahira. Setelah mereka berdua sampai depan rumah dimana zahira tinggal, akhirnya gadis cantik itu turun dan mendapati ayahnya sedang menunggunya di teras depan rumah.
"Tadi siapa yang nganter kamu nak?" tanya ayah pada Zahira.
"Pak bos yah, dia mungkin kasian ngeliat Ira nunggu kendaraan lewat tengah malam." Zahira meraih tangan Ayahnya untuk di cium. Dan menggandeng ayahnya masuk ke dalam rumah.
"Wah, bos mu baek banget ya sama karyawannya. Pasti dia baik gitu karena ngeliat kamu seperti anaknya sendiri. Ayah juga kadang kalo ngebantu orang emang suka keinget sama kamu Za" ucap ayah.
Zahira hanya bisa melongo dengan perkataan ayahnya, lelaki paruh baya itu menganggap kalau bosnya sudah tua, tiba-tiba saja zahira cekikikan membayangkan.
"Kenapa tertawa. Apakah ucapan ayah lucu?" tanya ayah, yang melihat tingkah anaknya jadi aneh.
"Eh, engak kok Yah, Ayah bener dia baik" jawab Zahira cengengen.
'Ayah belum tau aja kalau pak bos nyebelin' batin zahira.
Gadis itu langsung berjalan ke arah kamarnya. Rasanya tidak ada yang lebih enak dari pada tidur, mengingat pekerjaannya memang menguras tenaga, belum lagi terkadang dia harus cepet bangun untuk tetep bisa belajar, mengingat waktunya kalau sudah terbit matahari aktivitasnya full diluar rumah.
Zahira memutuskan untuk belajar sebelum subuh, untuk bisa menyeimbangkan antara pekerjaan dan palajaran kampus. Dia harus benar-benar semangat dan sabar menjalani kehidupan yang keras.
Bersusah-susah dahulu bersenang-senang kemudian. Itulah yang selalu Zahira ucapkan tatkala semangatnya mulai redup.
__ADS_1