Pelabuhan Cinta.

Pelabuhan Cinta.
20. Gemuruh dalam hati


__ADS_3

Ciiiittttt!


Brakk!


Suara sepada terjatuh mengagetkan semua orang yang berada di toko sembako milik mbak Nur. Naufal yang kaget melihat kucing di tengah jalan membuat laju motor dengan kecepatan penuh menjadi tidak seimbang. Karena panik, Laki-laki itu menabrak pinggir tembok yang ada di pinggir kanan jalan.


Suara riuh orang berteriak, membuat beberapa orang sudah berkerumun menolong Naufal yang kesakitan. Untungnya kecelakaan kecil itu tak membuat Naufal terluka terlalu parah. Hanya sedikit luka dan memar di daerah kaki dan kepala.


Susanti yang sedari tadi berada di dalam kamar karena suasana hatinya yang risau, juga ikut penasaran melihat siapa orang yang tertimpa musibah. Betapa kagetnya gadis itu melihat lelaki yang dicintai dipapah oleh banyak orang menuju toko Mbak Nur.


"Abang!" pekik Susanti. Gadis itu gegas berlari ikut memapah. Memberi petunjuk untuk membawa Naufal ke dalam rumah.


"Susan, kotak obatnya ada di dalam lemari, Naufalnya cepat di obati. Kasian dia." Seru Mbak Nur. Sambil berlalu pergi keluar untuk menjaga toko kembali.


"Ia, mbak," ujar Susanti.


Setelah semua orang bubar. Susanti memberi pertolongan pertama, dengan membersihkan darah yang masih sedikit mengalir di dahi lelaki itu.


Tak ada kecerian yang tersirat di wajah Susanti. Naufal yang melihat wajah datar tunangannya itu sudah paham apa masalahnya.


"Aaauh, Sakit," ringis Naufal.


Susanti tetap bungkam, dia hanya terus melakukan tugasnya tanpa ingin berbicara dengan lelaki yang sedang diobatinya.


"Kenapa Bang Naufal kak?" tanya Damenjo yang baru datang dari luar. Tanpaknya dia tidak tau kejadian yang menimpa Naufal.


"Ketiban Karma," ketus Susanti. Sambil menekan kapas pada luka lelaki itu.


"Aauh! Pelan-pelan,Susan." Susanti tetap tidak merespon meski Naufal kesakitan.


Damenjo hanya bisa cekikikan dan keluar ruangan. Tak ingin ikut terlibat dengan pertengkaran dingin antara mereka berdua.

__ADS_1


"Susan, Maafkan aku. Itu tak seperti yang kamu lihat, tadi aku cuma ngajarin temen cara mengemudikan sepeda," Jelas Naufal. Namun, Susanti masih tak ingin berbicara. Dia tetap pada pendiriannya. Bungkam seribu bahasa.


"Susan, Ayolah. Apakah kau mau memaafkanku?" bujuk Naufal.


Naufal tetap memaksa Susanti untuk berbicara. Susanti yang merasa tugasnya sudah selesai, beranjak ingin meninggalkan Naufal, tapi sebelum gadis itu menjauh, tangan kekar lelaki itu menangkap pergelangan tangan Susanti.


"Apa sih, Bang. Sudahlah, Susan malas bicara. Mending Abang pulang gih," ketus Susanti.


"Duduk dulu, Apakah kau tak akan mengadu pada bapak tentang kejadian yang tadi?" tanya Naufal. Lelaki itu takut terjadi masalah antara keluarganya dan keluarga Susanti.


Susanti yang mendengar pertanyaan Naufal, wajahnya menjadi memerah. Amarah yang sedari tadi dia tahan, tak bisa dia kendalikan, bulir air mata pun jadi tak terbendung.


"Apakah hanya itu yang Abang pikirkan? Kenapa kau tak memikirkan perasaanku? Mengapa dari dulu kau tak pernah membuka hatimu? Hiks ... Hiks ...," hardik Susanti. Sambil terisak dan mengusap air mata yang tak berhenti berjatuhan.


"Aku tak marah bila Abang tak pernah mengabariku ketika kita sedang berjauhan. Juga tak pernah peduli meskipun sikap Abang cuek kepadaku, tapi setidaknya, lihat aku Seorang. Ingat bahwa kita sudah mempunyai ikatan," jerit Susanti dengan nada tertahan.


Naufal tak bisa berkata apapun,dia hanya diam dengan perasaan tak nyaman. Pikirannya tak menentu, lelaki itu begitu tak tega melihat Susanti harus sakit hati karena ulahnya.


Lelaki itu semakin merasa terdesak, dia tak ingin mengakui kenyataan yang sesungguhnya dalam kedaan seperti ini. Mulutnya terasa kelu untuk berbicara.


Dia bingung ingin mengatakan apa. Melihat Susanti menagis di depannya, membuat hatinya sakit, sebagai seorang lelaki dia merasa gagal menjaga hati seorang yang dia kasihi.


Padahal bukan niat Naufal memyakiti Susanti, tapi mungkin, ini adalah takdir hidup yang harus dia lewati. Terjerat cinta segitiga menjadikan dia seperti seorang pecundang. Berani bermain-main dengan cinta dua wanita sekaligus.


"Maaf, beribu kali maaf. Bukan itu maksudku, aku hanya ...." Naufal tak dapat melanjutkan perkataanya. Dia memilih merengkuh tubuh kecil Susanti.


Naufal sadar. Ternyata, dibalik senyum cerah yang selalu Susanti berikan padanya, tersimpan luka yang teramat dalam. Naufal memeluk erat Susanti yang tak berhenti terisak. Dia mencoba memberi ketenagan padanya.


"Hanya apa? Apakah perasaanmu tetap seperti dulu? Ataukah sekarang kamu bisa mencintaiku? Jawab Bang! Kenapa kau seperti orang bodoh yang bingung untuk berkata." Susanti menekan


"Sudahlah, ini sudah malam, aku pulang dulu, Kamu tak perlu banyak berpikir. Sekarang kamu masuk kamar dan tidur." pinta Naufal. Sambil terus memberi belaian hangat pada kepala gadis itu. Namun, Sekali lagi Susanti harus di buat kecewa oleh perkataannya.

__ADS_1


Lelaki itu tak memberikan kejelasan apapun, dia menggantungkan jawaban atas segala perasaan yang sudah susanti curahkan.


Ceklek!


Seorang dari luar membuka pintu. "Wah, ada yang sedang bermadu kasih nih. Maaf ya, kak. Jojo ganggu, cuma pengen ambil sesuatu." ledek Damenjo, sambil mengankat barang yang sedang dia ambil. Padahal cerita sesungguhnya bukan seperti yang dia pikirkan.


Lelaki remaja itupun keluar lagi tanpa ingin mengganggu dua sejoli yang menurutnya sedang terbui dengan nuansa cinta.


pelukan dengan tujuan menenangkan pun sudah terlepas. "Sudah, kita bicarakan ini nanti, sekarang kamu tidur." Naufal sekuat tenaga berdiri. Meski kakinya masih sedikit sakit, tapi dia juga ingin pulang dan menenangkan diri.


Setelah punggung Naufal tak terlihat. Susanti pun masuk kedalam kamar membawa perasaan yang penuh dengan pertanyaan.


"Naufal, kenapa gak minta dianterin saja sama Jojo, kan kakinya masih sakit," ujar Mbak Nur pada Naufal yang berjalan terpincang-pincang melewatinya.


"Gak usah mbak, lukanya juga tak terlalu parah. Aku bisa kok sendiri," tolak Naufal.


"Oh, ya sudah. Hati-hati. Sepedanya masih bisa dipakek kan ya?" tanya Mbak Nur yang melihat sayap sepeda Naufal sudah hancur.


"Bisa kok mbak, Aman. Aku pulang dulu ya. Makasih mbak Nur," tutur Naufal. Seraya menghidupkan mesin sepeda motornya dan berlalu meninggalkan tempat itu.


***


Malam itu, Zahira tak bisa memejamkan mata, dia gelisah. Tak biasaya Naufal lupa mengirimi pesan padanya sekadar mengucapkan selamat tidur. Sudah banyak tumpukan bungkus jajanan snack yang sudah dia makan.


Sambil lalu menunggu kabar dari gebetan. Dia mencoba membuka buku pelajaran, tapi bentuk-bentuk tulisan yang ada di buku seakan ambyar. Otaknya tak bisa memahami apa yang sedang dia baca.


Zahira mengembuskan Nafas kasar. " Beginilah resikonya bila sudah berpacaran," gumamnya.


Meski tak bisa di pungkiri bahwa dia bahagia mencintai Naufal, tapi dia juga menyayangkan keputusan itu. Padahal dulunya gadis itu tak ingin memikirkan cinta. Menurut dia, Cinta hanya akan mengganggu Kehidupannya. Dia ingin fokus belajar dulu tanpa ada perasaan berlebih pada lawan jenisnya.


Namun, kebaikan yang Naufal berikan, tak mampu menolak perasaan laki-laki itu. Raganya seolah lemah saat cinta Naufal memenuhi relung hatinya.

__ADS_1


__ADS_2