
"yeah," seru Zahira, tatkala sudah keluar dari dalam mobil Bosnya, dia bersorak gembira sampai melompat-lompat seperti anak kecil. "Aku bebas dari jeratannya. Haha, jiah bahasaku keren," sambungnya lagi.
Sedang Hasan yang melihat tingkah Zahira dari balik spion, wajahnya menjadi buram. Sengaja dia pelankan laju mobilnya untuk melihat kebohongan di mata gadis cantik itu.
Hasan tersenyum miring, melihat tingkah Zahira. Entah apa yang sedang dia pikirkan, Lelaki itu langsung melajukan kecepatan mobilnya setelah memerhatikan apa yang dia lihat dari kaca spion.
Zahira, langsung menelepon seseorang yang akan menjadi tujuannya setelah pulang dari restoran.
"Halo, baiklah kita ketemuan disana," ucap Zahira, sambil membenarkan posisi rambutnya yang sedikit berantakan.
" ... "
"Waalaikum salam." Zahira langsung saja memesan ojek online untuk bertemu dengan lelaki yang baru saja dia telepon.
Tanpa sadar, dalam perjalanan, Zahira di ikuti oleh sebuah mobil berwana silver.
Setelah sampai di tempat tujuan, Zahira turun dan berjalan sambil mengedarkan pandangannya ke segala arah. Ternyata seseorang yang dia tunggu belum juga datang,.
Akhirnya, Zahira mencari tempat duduk di bawah pepohonan yang rindang. Dia merongoh hp yang ada di dalam tasnya, sekali lagi dia memperbaiki posisi rambutnya dan tersenyum sendiri sambil bercermin pada layar teleponnya.
__ADS_1
"Harusnya tadi aku pulang dulu buat make up-an di rumah. Aduh, kenapa sampai lupa bawa alat tempur sih," bisik Zahira pada diri sendiri, suaranya hampir tak terdengar.
Setelahnya Zahira mencium bahu dengan mengangkat ketiaknya, dihirupnya bau asam ala keringat itu.
"Ya ampun, harusnya tadi aku juga mandi dulu, dan berganti pakaian," gerutunya lagi. Dia merongoh resliting tasnya mencari sesuatu di dalam, benda kecil bulat itu pun dia temukan, dia semprotkan parfumnya pada kedua ketiaknya agar bisa meminimalisir bau asam pada tubuhnya.
lima menit kemudian, Naufal datang dan menepuk punggung gadis yang sedari tadi menunggu kehadirannya.
"Eh, kemana aj, aku kira kamu udah nyampe duluan," ucap Zahira, yang wajahnya mulai cemberut karena sudah menunggu.
"Tadi masih benerin sepeda di bengkel, padahal udah mau berangkat. Kamu udah lama nunggunya?" tanya Naufal.
"Tidak juga sih," jawab Zahira singkat.
Zahira menikmati pemandangan taman bunga yang ada di sekitarnya, dia tak berani melihat ke arah samping dimana di sana ada Lelaki yang membuat hatinya kadang berdebar-debar. Sejak kejadian Menyelinap Naufal, gadis itu sering diliputi rasa malu apabila mengingat tubuhnya pernah di peluk.
Dipeluk seseorang yang sekarang berada didekatnya, wajah Zahira merona tatkala ingatan itu kembali hadir dalam benaknya.
Sedang Naufal, pandangannya tak teralihkan, dia menikmati wajah nan cantik alami itu dengan perasaan berbunga-bunga. Sampai dia lupa tujuannya menemui Zahira.
__ADS_1
Zahira yang diliputi kegelisahan, dia beranikan diri wajahnya menghadap samping, niatnya ingin memecahkan keheningan, tapi saat netra mereka bertemu, dengan reflek dia memalingkan wajahnya dan tersenyum malu-malu.
Meliahat tingkah Zahira, Naufal menjadi gemas dibuatnya, ingin sekali laki-laki itu mengulang lagi kejadian dimana tubuh gadis di sampingnya berada di dekapannya. Namun, akalnya masih waras, Naufal tau tempat untuk tidak melakukan hal tak senonoh di tempat ramai, dimana bila sore hari taman bunga yang mereka singgahi akan banyak orang yang berkunjung, hanya sekedar melihat pemandangan indah tatkala sunset.
"Ira, aku minta maaf atas kejadian waktu itu, aku benar-benar tak bisa mengendalikan rasa rindu ini, semakin ditahan, rasanya semakin menyakitkan" ucap Naufal. Dia memang pandai sekali bertutur manis.
"Tidak papa, asal jangan di ulangi lagi, kalau kita berduaan di tempat yang sepi, aku takut akal kita menjadi khilaf. Karena pertemuan kedua orang yang bukan muhrim, akan membangkitkan setan yang selalu mengusik akal normal manusia untuk dijerumuskan kelembah dosa," terang Zahira.
'Eh, perkataanku bijak sekali,' ucap Zahira dalam hati.
Naufal tersenyum mendengar penuturan gadis yang ada didekatnya ini. Lelaki itu memegang dadanya seakan ucapan zahira menjadi penyejuk di hatinya yang sedang panas.
"baik lah, Zahira. Hanya kamu yang bisa mengendalikan akal sehatku, ingatkan jika aku lupa," pesan naufal. Yang senyumnya tak berhenti memudar sedari tadi duduk bersama Zahira. "Jadi, apakah kamu mencintaiku?" Pertanyaannya membuat Zahira membeku.
'Gila, kenapa malah menanyakan itu padaku. Harusnya, ucapanmu diperbaharui dulu, lelaki bermulut manis.' ucap Zahira dalam hati. Gadis itu bingung ingin menjawab apa, ia hanya memainkan jarinya dan menggigit bibir bawahnya.
Sedang Naufal mengernyitkan alisnya, dia baru sadar bahwa tujuan dia bertemu ingin mengungkapkan perasaannya pada Zahira, kenapa dia malah bertanya perasaan Zahira untuknya.
"Oke, sekarang gini. Apakah kamu mau menerima cintaku? Aku sangat mencintaimu gadis cantik!" Zahira semakin merasa grogi, dia hanya bisa tersenyum malu-malu seraya menganggukan kepala.
__ADS_1
Wajahnya mungkin sudah berubah merah marun saking tersipunya dia dengan kondisi yang membuat hatinya berbunga-bunga.
Akhirnya kebahagiaan terpancar di raut antara keduanya. Terlihat Naufal mengangkat hape bututnya dan menghadapkan kamera depan ke wajah mereka.