Pelabuhan Cinta.

Pelabuhan Cinta.
18. Memberi Hadiah


__ADS_3

"Tamatlah riwayatmu Kawan! Di belakangmu, aku seperti melihat wajah tunanganmu itu," lirih Hasan pada Naufal. Yang bibirnya dia dekatkan ke telinga sahabatnya agar Zahira tak mendengar.


Zahira tak paham dengan bisik-bisik kedua sahabat yang menurutnya aneh itu. Entah apa yang terjadi, keadaan seperti terbalik, bahkan sekarang Hasanlah yang terlihat mengejek Naufal.


"Ira, aku ke toilet bentar." Dengan cemas Naufal bangkit dari tempat duduknya.


Zahira yang melihat ada yang aneh pada lelaki itu, ingin menanyakan apa yang terjadi. Namun, punggung Naufal sudah tak terlihat lagi dengan pandangan matanya.


Keadaan menjadi semakin canggung, Hasan lebih banyak ekspresi datarnya, menyibukkan diri lagi dengan laptop.


Lelaki itu tak menghiraukan gadis yang sedang gelisah karena dibiarkan berdua dengannya.


Sedang Naufal yang berada di toilet menjadi memutar otaknya keras, mencari cara agar kedua gadis itu tidak bertemu.


Lima menit kemudian, Naufal merongoh Hanphone yang berada di saku jaketnya.


Naufal menekan menu panggilan. Dia sampai lupa cara mencari Nama dengan tekan huruf abjad yang dia inginkan. Dari saking paniknya, laki-laki itu mencari nama Susanti satu persatu mulai dari atas sampai menemukan nama yang di inginkan


Naufal menarik nafas dalam-dalam sebelum dering teleponya diangkat.


"Susan, Kamu ada dimana?"


" ... "


"Temui aku di rumah, sekarang,"


" ..."


Naufal bergegas mengintip kepergian Susanti, setelah dirasa aman dia menghampiri Zahira yang sedari tadi gelisah ditinggal kepergiannya.


"Kenapa lama banget," hardik Zahira kesal.


"Maaf sayang, tadi aku lagi, eeaahhh!" Naufal memberi penekanan pada kata terakhir, Ekspresi Naufal memperlihatkan dia seperti sedang mengejan. Tandanya laki-laki itu beralasan buang air besar.


"Zahira sayangku, sekali lagi, Aku minta maaf ya. Kayaknya kencan kita malam ini harus ketunda, soalnya kekasihmu ini lagi ada urusan." Naufal mencoba membujuk Zahira.


"Sepenting itukah urusanmu? Kenapa harus sekarang urusannya?" Zahira tak terima.


Gadis itu mulai merajuk. Naufal dengan keras menbujuk Zahira, dengan mengeluarkan jurus rayuan gombalnya agar pacarnya itu bisa mengerti.

__ADS_1


Hasan yang melihat tingkah kedua sejoli itu berasa ingin muntah, dan hanya mengeleng-gelengkan kepala.


Akhirnya, acara bujuk membujuk pun usai, mereka pulang bersama meninggalkan Hasan yang masih betah dengan pekerjaannya.


***


Di kontrakan Naufal.


"Abang ... Bang ... Abang .... " Tak ada tanda-tanda ada seseorang dirumah.


Susanti mencoba mencari kesegala arah, sambil lalu memanggil penghuni rumah.


"Bang ... Susan datang, dimana kamu?"


Susanti lagi-lagi menyaringkan Suaranya, berharap orang yang dimaksud menjawab panggilannya. Namun, tetap tak ada orang di kontrakan itu.


"Jo, duduk dulu yuk," ajak Susanti pada pemuda yang umurnya lebih muda tiga tahun darinya.


Dia adalah Anak dari Nur Halimah yang tadi ikut dengan Susanti ke cafe tempat Naufal ngedate dengan Zahira.


"Gimana sih kak, katanya Bang Naufal sakit, kenapa nyampek sini orangnya malah kagak ada. Dia sakit apa pura-pura sakit," gerutu Jojo.


" Sabar, mungkin dia lagi keluar bentar." ujar Susanti.


"Kenapa bengong? Ayo dibuka. Aku sengaja beli ini untuk kalian," ucap Naufal.


Susanti dan Jojo saling pandang, seperti ada pemikiran yang sama diantara mereka. "Sebenarnya, Abang dari mana? Sakit kok keluyuran," tanya Susanti.


"Lagi lapar, makanya beli ini. Aku cuman agak meriang dikit, nanti juga sembuh kok." tukas Naufal.


"Eh, ini Damenjo kan? Udah besar aja kamu," sambungnya lagi.


Jojo tersenyum memperlihatkan barisan gigi atasnya yang rata. Dia membersihkan sisa makanan kue yang berada di ujung bibirnya.


"Iya Jojo kan makan banyak, makanya cepet gede, Abang sih gak pernah ke rumah Emmak meski ada di Jakarta," gerutu Damanjo.


"Maaf, Jo. Abang gak sempat, di sini kan Abang kerja sama orang, jadi gak bisa sembarangan main pamit aj kalo dibengkel gak ada yang ganti," Jelas Naufal. Damenjo hanya bisa mengangguk-nganggukan kepalanya sambil terus makan jajanan yang berada di depannya.


"Bang, Aku ada sesuatu untukmu." Susanti membuka bungkusan kardus yang di taroh di plastik berwana hitam, lalu dia sodorkan kehadapan Naufal.

__ADS_1


Tanpa bertanya lelaki itu langsung membuka isi dari kardus yang dibawa susanti, terlihat sebuah figura berukuran sedang dengan tulisan kaligrafi di dalamya, sangat indah perpaduan antara warna hitam dan hijau yang gadis itu lukiskan atas Namanya.


Susanti berharap hadiahnya akan disukai Naufal, pandangan gadis itu menyelisik rona wajah lelaki yang ada di depannya.


Setelah melihat Naufal menyunggingkan senyum, hatinya menjadi lega, dia sudah bisa memprediksi, kalau tuangannya memang menyukai hadiah yang dia buat.


"Ini bagus, Susan. Apakah kamu yang membuatnya sendiri?" tanya Naufal


"Ia, Abang suka? Susanti balik bertanya, dia belum puas sebelum Naufal bilang suka meski lelaki itu sudah menyerukan kalau lukisannya memang bagus.


"Ia, aku suka. Terimah Susan," tutur Naufal.


mereka lalu makan bersama tanpa ada yang bersuara, hanya ada dentingan sendok yang beradu dengan piring.


Ditengah asiknya makan, Naufal mendengar hanphondnya berdering. Dengan perlahan dia mengambil benda persegi panjang itu dibalik kantong jaketnya.


Ia melihat seorang yang menelepon, ternyata itu adalah Zahira. Naufal beranjak dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan Damenjo dan Susanti.


Susanti mengikuti Naufal dari belakang, tapi sayangnya dia tak bisa mendengar apa yang sedang dibicarakan Naufal, karena posisinya yang memang agak jauh, dia hanya bisa melihat ekrpresi dari tunangannya itu yang terlihat bahagia.


Terlihat senyuman sumringah di bibir lelaki itu, Susanti yang melihat merasa tak pernah mendapatkan perangai Naufal yang tak seperti biasanya bila sedang bersamanya.


Gadis itu menjadi melamun dan menyandarkan punggungnya pada pintu dinding yang pintunya sedikit terbuka.


Tanpa disadari Susanti, acara teleponan Naufal sudah usai. Gadis itu terperanjat saat tunangannya sudah berada didepannya dengan tatapan tak suka.


"Apa yang kamu lakukan disini?" hardik Naufal pada susanti yang wajahnya sudah pias karena kepergok.


"Tadi ... Susan mau kekamar mandi, Bang." Wajah Susanti celingak-celinguk mencari toilet yang reflek dia ucapkan tadi.


"Kamar mandinya bukan disini, tapi disana," tunjuk Naufal. Dia lalu pergi tanpa ingin memperpanjang masalah.


"Bang, bolehkah Susan minta sesuatu?" pinta Susanti yang langsung menghentikan langkah Naufal yang ingin pergi.


"Apa?" tanya Naufal.


"Besok, kekampusnya kita berangkat bareng ya." Susanti berharap Naufal mengiayan permintaanya, dengan cemas dia menunggu jawaban Naufal yang wajahnya tetap datar.


Naufal tak langsung menjawab. Tampaknya dia sedang berpikir kalimat apa yang akan diungkapkan agar Susanti menerima keputusannya.

__ADS_1


"Maaf ya, Susan. Besok aku gak ada jam kuliah. Minta anter saja kamu sama damenjo," ucap Naufal. Dengan berat hati Naufal harus mengatakan itu pada Susanti, agar hubungannya masih bisa terselamatkan.


Untungnya lelaki itu memang tidak ada jam kuliah besok. Jadi alasannya memang tidak dibuat-buat meski sebenarnya dia takut ketahuan selingkuh.


__ADS_2