Pelabuhan Cinta.

Pelabuhan Cinta.
19. Terciduk


__ADS_3

"Ira, kamu dipanggil pak bos tuh," kata Azizah.


"Ada apa?" tanya Zahira.


Azizah mengangkat bahunya seraya menggelengkan kepala.


Zahira menghentikan kegiatannya mengelap meja pelanggan yang kotor. Dia lalu pergi ke ruangan Hasan.


Tangan Zahira terangkat untuk mengetok pintu di ruangan Bos, begitu banyak pertanyaan dikepala gadis itu. Dia takut tanpa disengaja dirinya telah berbuat salah sama Hasan.


Setelah mendengar perintah dipersilahkan masuk, dengan perlahan gadis itu berjalan dan melihat Hasan duduk sambil sibuk dengan telepon yang digenggamnya.


Zahira tak berani duduk meski ada kursi di depan meja Bos. Dia tetap berdiri menunggu apa yang akan diungkapkan Hasan padanya.


Wajah Hasan terangkat setelah merasa Zahira sudah berada di dekatnya. Tanpa sengaja mata mereka saling beradu, Zahira segera menundukkan kepala, menghindari tatapan Hasan yang menurutnya sangat dingin.


"Silakan duduk." Zahira segera duduk setelah mendapat perintah dari atasannya.


"Ini gaji pertamamu," ucap Hasan, seraya menyodorkan amplop warna cokelat ke hadapan gadis itu.


"Terima kasih, Pak," ujar Zahira.


Dia tak menyangka, bahwa dia bekerja sudah sampai satu bulan, ada sedikit kelegaan di hatinya. Bagaikan hawa panas tersiram air dari langit, Adem.


"Sama-sama, kedepannya lebih giatlah bekerja," pesan Hasan. Zahira hanya menganggukkan kepalanya tanpa ingin menjawab permintaan dari Bosnya.


"Sekarang, kau boleh keluar," perintah Hasan.


Zahira lalu beranjak dari tempat duduk, dia ingin segera pergi dan menghitung jumlah uang yang ada di amplop itu. Namun, suara Hasan yang menyuruhnya berhenti membuat dia mengurungkan niat untuk membuka pintu. Dia membalik tubuh dan berjalan mendekati Bosnya lagi.


"Ya, Pak, kenapa? Tanya Zahira.


"Apakah kau mencintai Naufal?" Zahira yang mendengar pertanyaan Hasan menjadi heran.

__ADS_1


Mengapa, Bos tiba-tiba ingin tau perasaanku? pikir Zahira. Namun dia tak mau terlalu banyak berpikir, dia mengannguk memantapkan bahwa dia memang mencintai kekasihnya itu.


"Bila suatu saat kau sakit hati, apakah kau akan memaafkan dia?" Hasan kembali memberi pertanyaan yang membuat Zahira melongo.


"Maaf, Pak. Tapi apa maksud Anda bertanya seperti itu?" tanya Zahira.


"Tak apa, aku cuma pengen tau saja, karena Naufal adalah sahabatku, dan kau karyawanku. Sudah sepatutnya aku memiliki rasa peduli pada kalian berdua," kilah Hasan.


"Terima kasih, Pak. Dan untuk pertanyaannya. Tidak ada manusia yang tak memiliki kesalahan, aku pun juga demikian. Jadi, meski itu akan menyakitkan, aku akan berusaha memaafkan," seloroh Zahira.


Mungkin untuk saat ini perempuan itu mengucapkan dengan pembawaan yang tenang, itu karena dia belum tau rahasia apa yang sedang di sembunyikan Naufal darinya. Hasan hanya bisa tersenyum kecut mendengar penuturan dari Zahira.


"Bijak sekali ucapanmu, Zahira. Semoga kalian berdua selalu bersama dan bahagia," tutur Hasan.


Lelaki itu mengepalkan tangan di bawah meja. Ternyata, hati Kecilnya sedikit tak terima dengan yang dia ucapkan, Hasan pun bingung, apakah itu rasa kasian terhadap seseorang yang telah dibohongi orang lain. Ataukah malah dia tak terima karena dia memang mulai ada rasa pada Zahira. Entahlah, rasa keberatan itu kenapa bisa datang tiba-tiba.


"Terima kasih, pak, atas doanya, semoga Anda juga selalu bahagia, dan memiliki pasangan yang sangat mencintai Anda," seloroh Zahira.


Herman menganngguk dan hanya menyunggingkan senyum yang di paksakan. Selepas itu Zahira pamit keluar dari ruangan Hasan.


"Cie ... Cie ..., yang bahagia dapat gaji pertama. Mau di buat apa buk?" goda Azizah. Sambil cekikikan karena sudah membuat Zahira jengkel.


"kenapa gak bilang! Aku kira, sudah berbuat salah lagi, awas ya kamu," pekik Zahira.


"Sengaja," kekeh Azizah. Sambil berlari menghindari tatapan membunuh dari teman seperjuangannya itu.


***


Pulang dari kerja, seperti biasa. Naufal selalu menjemput Zahira bila ada waktu luang untuk menjemput. Zahira pun sering pulang belakangan, karena menunngu Naufal yang kerjanya juga sampai malam.


Suara deru sepada motor mengalihkan pandangan Zahira yang sedari tadi bermain game di handphonenya. Ternyata itu Adalah Naufal yang sedang dia tunggu. Lelaki itu langsung memberikan helm sebagai perlindungan kepala.


"Kenapa gak jalan,? Protes Zahira. Padahal bokongnya sudah dia daratkan pada dudukan sepeda di belakang.

__ADS_1


"Kamu bisa mengemudikan sepeda motor kan?" tanya Naufal.


"Enggak, kenapa? Jangan bilang, kamu akan menyuruhku berada di depan?" Tebak Zahira.


"Emang ia,kita kan gak pernah mencobanya. Tenang, kalo gak bisa aku ajarin." Naufal lalu berdiri dan menyuruh Zahira duduk di depan untuk mengemudi. Dengan keras Zahira menolak keinginan Naufal. Namun, Zahira selalu bisa mengalah bila Naufal sudah merayunya.


Sengaja Naufal membawa sepeda motor matic untuk memudahkan Zahira belajar mengendarai.


"baik lah, tapi pegangin ya. Awas kalo aku sampe jatuh, nanti kamu ganti rugi," sungut Zahira.


"Pasti, nanti kalo kamu jatoh sekalian aku tanggung jawab buat nikahin. Haha ...," goda Naufal.


Zahira menjadi tersipu mendengar godaan dari Naufal, meski dia sedikit gugup dan takut memegang setir gas yang dia tarik, tapi pegangan dan pelukan Naufal dari belakang membuatnya merasa aman.


Perlahan laju sepeda masih berjalan teratur. Naufal pun begitu semangat memegangi setir dari belakang, laki-laki memang pandai mencari kesempatan.


Zahira pun tak mempermasalahlan itu, mereka sangat menikmati perjalanan indah itu. Di tengah perjalanan, keasikan mereka terpecahkan oleh suara klakson sepeda motor yang ada di pinggir kanan mereka.


Betapa terkejutnya Naufal saat melihat yang memberi isyarat itu adalah damenjo yang tengah membonceng Susanti. Sangat telihat jelas gurat kekecewaan di mata gadis cantik itu. Naufal pun wajahnya serasa terbakar.


Suasana hati laki-laki itu menjadi gelisah tak karuan. Naufal yang tadinya bergurau dengan Zahira, seketika sirna saat sepeda Damenjo melewatinya. Meski Zahira bercerita ini dan itu, pikirannya sudah tak bisa fokus menangkap apa yang sedang di bicarakan gadis yang ada di depan kemudi itu.


"Fal, apa yang sedang kamu pikirkan? Kamu dengar kan apa yang aku bicarakan dari tadi?"


Zahira menjadi heran pada tingkah Naufal yang tak biasa. Padahal sebelumnya laki-laki itu terlihat seperti biasa-biasa saja, tapi mengapa tiba-tiba keceriaan itu sirna begitu saja.


"Hah, enggak kok! Gak ada apa-apa," bohong Naufal. Padahal dia ingin segera menghampiri Susanti yang sudah dia buat hancur perasaannya.


Hatinya tak tenang sebelum bertemu dengan Susanti. Dia takut Susanti akan mengadu pada keluarganya apa yang tadi dia lihat. "Ira, belajarnya udah dulu ya, aku buru-buru."


Segera Naufal mengganti posisi mereka sebagai mana mestinya. Zahira menjadi tidak mengerti dengan sifat Naufal yang sering berubah-ubah akhir-akhir ini. Gadis itu tiba-tiba saja teringat akan pembicaraannya dengan Hasan kala itu.


Apakah benar, ada sesuatu yang Naufal tutupi dariku? Tapi apa?' Begitu banyak pertanyaan yang menganggu kepalanya. Hingga tanpa sadar, gadis itu sudah berada di depan rumahnya.

__ADS_1


"Maaf ya, sayang. Aku buru-buru." meski dalam keadaan genting, Naufal tetap memberikan senyum secerah mentari. Dia pun membelokkan setir sepeda motornya sambil lalu memberi kecupan jauh.


Tak lupa lelaki itu masih memainkan sebelah matanya. Membuat Zahira tergelak serta mengangkat tangan lalu dia lambai-lambaikan.


__ADS_2