
Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu telah tiba. Namun hari itu adalah hari yang mendebarkan bagi lelaki pengecut yang akan mengubah statusnya menjadi lajang kembali. Ya! Begitulah pikiranya sekarang, ia rela menyandang gelar pengecut demi meraih cita dalam asa.
Sejauh mata memandang Naufal berdiri di bawah pohon jati, melihat rumah tua yang masih sama seperti terakhir kali ia singgahi. Hanya warnat cat tembok yang mulai memudar. Ditambah tanaman sayur kangkung dan cabai di pinggir rumah, juga tanaman berbagai rempah yang ia sendiri tak tau namanya.
Hatinya semakin menghangat, tatkala melihat tubuh wanita paruh baya dengan khas kerudung oblong tengah mengibas-ngibaskan lengan dengan selonjor sapu lidi ditangannya. Punggungnya membungkuk untuk menjangkau sampah-sampah daun kuning yang berjatuhan
rindu yang selama ini tertahan, kini membuncah bagaikan air terjun mengalir di lembah sungai. Indah, adem, menenangkan. Tak terasa matanya menjadi memanas, sepersekian detik kemudian, bulir bening jatuh dari kelopak mata yang sudah memerah sedari tadi.
Ia sesegukan sendiri tanpa beranjak dari tempatnya berdiri. Masih di liputi kenangan indah bersama Emmak dulu. Saat ia berlari berkeliling rumah dengan Emmak mengejarnya dibelakang sambil membawa sapu lidi, siap untuk menimpuk betisnya. Yang sudah berulang kali membuat wanita dengan sejuta kasih sayang itu tengah jengkel karena sikap bandelnya.
Oh, entahlah. apakah ia harus bangga dengan kisah bandelnya dulu, tapi mengapa mengingat masa itu menjadi kenangan termanis yang membuat ia sekarang sesegukan sambil nyengir sendiri seperti orang gila.
Sungguh, sekarang ia harus menepuk jidat berkali-kali agar menyudahi riwayat waktu itu, dengan senyum terkembang, ia usap air mata yang bila dilihat orang lain, pasti akan mengundang banyak pertanyaan tentang sikapnya hari ini. Oh my god.
Ia mengambil nafas dalam dengan megembuskannya perlahan. Lalu, "Emmmmaakk!" teriaknya dari kejauhan.
Ia berlari menghampiri meski yang di panggil tak menyadari kehadirannya. Hampir saja tubuh tua nan renta itu terjatuh. Namun, tangan kekarnya mendekap dengan kuat. " Been raa, cong?(Ini kamu, cong?)" pekik Emmak.
Cong/kacong (panggilan untuk anak laki-laki di madura)
"Engki, Maaak.(iya, Maaak.)" Pelukannya semakin dieratkan dengan mata yang terpejam. Sampai ia tak sadar seorang yang direngkuhnya tengah sesak nafas sampai terbatuk.
__ADS_1
"Uhuk! Uhuk! Uhuk!" Tangan yang sedikit keriput menepuk-nepuk punggung tegap yang sedang terbuai oleh lahar kerinduan.
"Paburuh luh, cong. Sengkok tak ning nyabeh, (Lepaskan dulu, cong. Aku tidak bisa bernafas,)" tuturnya. Dengan suara tertahan dan nafas tersenggal.
Mendengar emmak sedikit kesulitan berbicara, ia baru tersadar bahwa dekapannya begitu erat. Segera ia melepaskan pelukannya seraya mencium tangan dengan takdzim di susul dengan kecupan pipi kanan dan kirinya.
"Saporanah, Mak!(mita maaf, Mak!) Guleh kerrong (saya kangen) !" Ia tergelak melihat wajah emmak masih masam karena efek dari pelukan berlebihannya.
Emmak geleng-geleng kepala melihat tingkah lakunya yang tak merasa bersalah dengan yang diperbuat. Dengan gemmas wanita tua itu mengangsurkan pukulan sapu lidi pada betisnya yang masih berlapis celana. "Auuh! Sakek (sakit) , Mak" Ternyata sikap Emmak masih sama seperti 20 tahun yang lalu.
"Ampun, Maaaaak," teriaknya. Ia tertawa-tawa karena Emmak malah memeluknya kembali dan menangis bahagia.
Hingga membuatnya tak kuasa untuk tak ikut dalam nuansa sedih bahagia dan berakhir dengan derai air mata.
Membuat ia tergelak dan menyusut hidung dan berkata, " Emmak, sami. Sanaos seppuh kik nangisan (Emmak, sama. Meski sudah tua tetep saja masih nangis)" Sekali lagi lelaki itu harus mengaduh karena sekarang Emmak malah mencubit paha bagian dalamnya.
Sampai pada saatnya, temu kangen mengharu biru pun usai saat mereka sadar bahwa sedari tadi hanya berdiri bercakap-cakap di luar rumah. Kini ia bisa melihat kembali suasana rumah yang juga tak banyak berubah. Masih sama, seperti pada warna gorden merah, yang warnanya sudah tak memyala seperti dulu lagi.
Juga tembok yang banyak mengelupas. Meski begitu, sepertinya Emmak rajin sekali membersihkan rumah hingga debu dari serpihan klupas tembok tidak ada. Melihat keadaan sekitar, ia jadi teringat akan ucapan Zahira waktu itu.
Harusnya, ia tidak terburu-buru dengan penyatuan cinta. Melihat kehidupan Emmak, hati dan otaknya menjadi pedih sendiri. Uang yang ia kirim tiap bulan sepertinya belum bisa memenuhi kebutuhan Emmak.
__ADS_1
"Kamarah kitak perseen, Cong. Sambin mole tak akabher. "( kamarnya belum dibersihkan, Cong. Siapa suruh pulang tidak kasih kabar)." Emmak sibuk membersihkan tempat tidur yang terbuat dari kayu itu. Menepuk-nepuk kasur yang tak dipasangi sprey, sehingga jahitan tempelan terlihat di beberapa bagian. Juga mengambil bantal yang terbungkus plastik di almari paling atas.
Sedang lelaki itu sibuk memperhatikan pergerakan Emmak. Meski sudah tua begitu, beliau masih sangat tangkas dan melakukannya sendiri demi merawatnya.
"Alek (adek) kammah, (kemana), Mak?" Tangannya sibuk menulis sesuatu di sana, benda pipih itu memaksanya untuk melihat siapa yang sedari tadi menghubunginya. Tiga panggilan terlewatai serta dua pesan masuk, semuanya dari Zahira.
(Sudah sampai kah?)
(Sepi tanpamu! ) dengan emot menyusut hidung.
Sudut bibir lelaki itu terangkat. Hanya dengan secarik kalimat, telah mampu membuat hatinya tergelitik. Oh cinta.
"Ben ngeding, cong ca'na sengkok? ( kamu dengar,cong apa kataku?)" Emmak memandang dengan dahi berkerut, seraya berdecak dan keluar dari kamar, membiarkan putranya yang mungkin masih berada di dunia lain.
(Jadi ceritanya lagi kangen niiiiihh?? Ia sih aku memang ngangenin.)
Setelah mengirim pesan balasan ia baru tersadar bahwa Emmak sudah tak ada di kamar. Sayup-sayup terdengar suara gumaman seorang perempuan. Berbunyi seperti alunan lagu, hingga membuatnya beranjak dari tempat tidur. Mencari asal suara yang menurutnya sangat familiasr di telinga. terbrsit rencana konyol untuk mengerjai gadis yang saat ini tengah asyik berkutat di dapur, entah apa yang sedang dimasak, aroma rempah dari sesuatu yang ada di atas wajan menusuk-nusuk hidung hingga merangsang pada perut dan membuatnya lapar.
Adik kecil yang dulu masih senang bergelayut manja di lengannya, kini sudah terlihat lebih dewasa dan sudah pandai memasak. sudah berapa taun dia tak pulang kekampung halaman. ya, sejak ia dijodohkan dengan Susanti. waktu itu, keinginan untuk menyegarkan pikiran yang sedang kalut membuatnya berani mengiyakan ajakan Hasan untuk bekerja di jakarta.
Hingga saat menemukan cinta, ia pulang dan malah akan memberi kabar yang ... entahlah, apakah misinya akan sukses atau tidak. yang pasti ia juga harus memperjuangkan cintanya. semoga saja kekecewaan yang ditorehkan bisa terampuni dan termaklumi. karena sebenarnya lelaki itu tak bermaksud menyakiti perasaan. Namun apalah daya, itulah pilihan cinta. ia tak kuasa menolak atau membantahnya.
__ADS_1
"Abang!" Pekikan terkejut dari gadis itu membuyarkan senduan lagu yang sedari tadi ia mainkan.