
Ceklek!
Satu tangkapan gambar, dengan pose unyu-unyu dua insan lagi kasmaran telah berhasil memenuhi layar kaca handphone.
Mereka tertawa cekikikan melihat gambar wajah sendiri. Senyum malu-malupun berganti dengan sorak kegembiraan memenuhi taman bunga yang mereka singgahi.
Begitulah asmara, dunia serasa milik mereka berdua, tanpa peduli dengan banyak mata memandang. Pasangan yang baru saja merajut cinta itu, mengekpresikan kebahagiaan sesuka hatinya.
Bak seorang pujangga melindungi tambatan jiwanya, tangan Zahira tak lepas dari genggaman jari-jari besar lelaki yang memenuhi relung hatinya.
Mereka berdua Mengelilingi indahnya taman bunga di sore hari. Sambil menikmati eskrim di tangan kanan masing-masing.
"Ira, terima kasih karena sudah menerima aku apa adanya, bukan ada apanya," ucap Naufal. Tangan lelaki itu terangkat membenarkan beberapa helai rambut Zahira yang terjuntai menutupi mata.
Wajah Zahira tersipu malu dengan perhatian yang Naufal berikan. Gadis itu tersenyum dengan memalingkan wajah. Namun, masih bisa menjawab dengan menggoda Naufal "memang ... kamu ada apanya?" tanya Zahira.
"Benneran mau tau? Ini bisa dicoba loh," seru Naufal semangat. Sedang Zahira mengernyitkan alisnya tanda tak mengerti maksud dari ucapan Lelaki yang ada di sampingnya itu.
Naufal langsung meraih tangan putih dan lembut milik Zahira yang baru saja resmi menjadi pacarnya.
"Aku punya mata, di mana saat mata ini terjaga, hanya ada wajahmu suatu saat yang akan menghiasinya. Begitupun hidung, hidung inilah suatu saat yang akan mencium aroma tubuhmu pertama kali di saat janji suci itu terlaksana. Yang ketiga mulut, dan mulut inilah yang akan ku pekerjakan mulai dari sekarang, dan ...." Zahira menyanggah ucapan Naufal sebelum lelaki itu melanjutkan kalimat setelahnya.
"Tunggu bentar. Mulut, di pekerjakan mulai dari sekarang. Maksudnya?" Zahira sudah ngeres tentang kalimat ketiga Naufal yang ambigu. Gadis itu sampai menarik tangannya dari genggaman Naufal.
Naufal cuma bisa tergelak melihat ekspresi Zahira, laki-laki itu memang sengaja membuat kalimat ketiga menggantung, dan triknya pun sukses membuat gadis di sampingnya menjadi ketakutan.
__ADS_1
"Ada masalah?" tanya Naufal, lelaki itu menyadari kekhawatiran pada raut wajah Zahira, pemuda itu tersenyum dan kembali menggenggam tangan Zahira.
"Tenang saja! Bibirku masih mempunyai adab saat ini, ia hanya akan dipergunakan untuk memohon agar Allah, selalu menjaga hati kita tetap menyatu, hingga tak ada celah bagi orang lain untuk bisa memasukinya." Sudut bibir lelaki itu melengkung, saat melihat kelegaan tersirat di wajah Cantik kekasihnya. Tangan pemuda itu pun terangkat dan membelai bibir manis dari Zahira.
Ini yang selalu membuatku rindu. Seperti apa ya, rasanya benda kenyal ini? Astagfirullah. Apa yang aku pikirkan. Hey, pikiran kotor! Enyahlah kau dari otak polosku ini sekarang. Batin Naufal. Dia tersenyum membayangkan bibir merah muda yang sedang dibelainya menyatu dengan bibirnya.
"Geli tau, singkirkan tanganmu!" gerutu Zahira, bibirnya mengerucut, Dia merasa risih dengan tangan Naufal yang agak lama membelai benda kenyal berwarna merah muda itu.
"Gitu aja marah, kamu tau, mulai sekarang dan kedepannya, cuma kamulah wanita yang akan seringku perbincangkan dengan Tuhan," rayu Naufal.
Dia memang pantas di juluki raja gombal, Zahira hanya mampu memutar bola mata untuk menetralkan perasaan yang berbunga-bunga. Namun, dia tak mampu menutupi senyum yang dengan reflek terpatri di rautnya meski dia menggigit bibir bawahnya sekali pun.
Hati wanita siapa yang tidak meleleh bila pasangannya semanis Naufal. (meleleh, es batu kali wkwk)
"Yah, jadi kamu tak ingin mendengarkan kelanjutan tentang ... Aku ada apanya?" tanya Naufal. Namun, tampaknya Zahira terburu-buru, gadis itu berdiri dari tempat dia duduk sedari tadi. Dia menarik tangan Naufal agar cepat bangkit juga.
"Nanti saja, kita lanjut di telepon." Gadis itu berjalan sambil mengangkat tangan ia tempelkan pada telinga, seolah jemarinya adalah sebuah handphone.
Sedang Naufal berlari mengejar Zahira yang langkahnya sudah terlebih dahulu berlalu.
"Ir ... Ra', cepet banget sih jalannya, padahal kan tubuhnya kecil," dengus Naufal. Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk pulang bersama.
Sedang di kejauhan, wajah seorang lelaki menjadi masam, karena kedekatan dua sejoli yang baru memadu kasih. Lelaki itu lalu pergi dari tempatnya bersembunyi sedari tadi.
***
__ADS_1
Di kediaman rumah Karim. Madura.
Susanti menjadi mogok makan karena permintaanya tidak dihiraukan oleh bapaknya yang bernama Karim,
Gadis remaja yang masih baru lulus SMA itu merengek pada Karim untuk dikuliahkan ke jakarta. Namun, Bapak dari Susanti itu masih terlalu hawatir untuk membiarkan anaknya pergi jauh.
Karim khawatir, putrinya yang ingin kuliah di jakarta tidak akan benar-benar ingin belajar, pasti semua keinginannya ada udang di batu, jadi dia tidak semudah itu mengijinkan.
Waktu itu, bunyi perut Susanti sudah berdemo minta diisi, harusnya dengan cara mogok makan dia berpikir rencananya akan berhasil, tapi ternyata gadis itu harus berusaha lebih keras lagi untuk meluluhkan hati bapaknya.
"Ayo dong pak, boleh ya?" tanya Susanti. Gadis remaja itu memohon agar permintaannya di kabulkan oleh orang tuanya.
Karim, hanya duduk sambil membaca koran, tanpa ingin menjawab pertanyaan dari gadis remaja yang sudah cemberut karena permintaannya tidak di hiraukan olehnya.
"Bu, bilangin gih, sama bapak. Aku kesana mau belajar, bukan mau pacaran, Bang Naufal gak bakal macam-macam sama Susan, malah dia bakal jagain aku." Susanti mulai merajuk pada ibunya, berharap sang ibu juga membantu.
"Tenang ya sayang, nanti Ibu bantu," bisik Zulaiha. Ibu dari Susanti. "tapi, kamu makan dulu, urusan Bapak biar aku yang tanganin," tambah Zulaiha.
Wajah Susanti menjadi berbinar mendengar penuturan dari ibunya, gadis remaja itu gegas pergi kedapur dan langsung menyantap apa saja yang ada di depannya.
Sedang Zulaiha tersenyum melihat tingkah putrinya yang kekanakan-nakan. Seorang Ibu memang selalu menjadi penyemangat, dia lebih peka sama perasaan anaknya. Orang tua mana yang tega melihat putrinya kelaparan.
Ibu dari satu anak itu langsung menghampiri suaminya yang sedari tadi fokus membaca koran
Dia mencoba membujuk Karim. Dua puluh menit berlalu, entah apa yang dibicarakan kedua suami istri itu, tiba-tiba saja Susanti dipanggil ke ruang tamu oleh Ibunya.
__ADS_1