
Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah mereka ingin membuatku mati berdiri? Mungkinkah kesialanku akan berlanjut seperti ini? Ya ... Tuhan, tolonglah aku! Bebaskan aku dari kondisi yang menyulitkan, jerit Naufal dalam hati.
"kamu kenapa?" pekik Zahira.
Perempuan itu syok, melihat Naufal yang terlihat sakit dengan lukanya. Juga terlihat pucat, Dengan telaten dia memeriksa setiap luka di beberapa bagian, hingga dia tak sadar dengan perubahan wajah masam dari Susanti.
"A-aku, tidak papa. Cuma terjatuh dari sepeda motor, lukanya juga gak begitu parah," jawab Naufal. Dengan gugup dia berjalan dipapah oleh dua wanita di kanan kirinya.
Sungguh asik bukan? Di khawatirkan oleh dua wanita cantik sekaligus, tapi itu tak berlaku pada Naufal saat ini. Dia lebih baik terbaring sendiri tanpa ada yang memerhatikan. Dari pada harus dihadapkan dengan dua pilihan yang berujung tak menguntungkan.
"Oh, jadi ini alasanmu tidak bisa kerja?" tanya Hasan.
"Ia, Bos. Dan untuk sementara waktu aku mau cuti, memulihkan tubuhku dulu," pintanya.
Naufal yang jiwa raganya terasa gerah dengan keadaan, menatap Hasan dengan tajam. Tatapan itu lalu berubah menjadi kedipan mata. Dengan wajah memelas Naufal memberi isyarat dengan matanya.
Hasan yang melihat raut wajah Naufal, ingin sekali tertawa terbahak-bahak. Namun entah mengapa dia malah kasihan melihat temannya seakan tak berdaya dikelilingi dua wanita.
Terbesit ide licik untuk mengerjai sahabatnya. "Hem, jadi dia siapa?" Tunjuk Hasan pada Susanti, dia memang sengaja meniup arang yang ditumpuki kayu agar apinya semakin membara.
Mata Naufal semakin melotot tak terima. Mulutnya sudah komat kamit mengumpat tanpa suara. Secepatnya dia mengalihkan pertanyaan Hasan.
"Aduh! Maaf ya semua, kepalaku semakin pusing, bolehkah aku sendiri dulu untuk memulihkan badan yang terasa remuk ini," kilahnya.
Kembali lagi kedua gadis itu memegang lengan Naufal sebagai bentuk perhatian, tapi hal itu malah memperkeruh keadaan. Zahira dan Susanti meresa ada yang aneh. Mereka sama-sama mencurigai status hubungan antara mereka bertiga.
Naufal menyadari perubahan wajah pada kedua wanitanya, dia segera membuat rencana dadakan.
"Ehem, San, gimana yang kemaren, jadi kan ya? Oia aku lupa, ada kabar baru tentang project kita. Tapi ... Sini deh aku bisikin." Merasa ucapan Naufal tidak nyambung, membuat Hasan berkerut kening. Namun, lelaki itu mengikuti permainan teman buaya daratnya itu.
"Kenapa harus berbisik, katakan saja," tantang Hasan dengan mode mengejek. Padahal dia sudah tau kalau itu cuma kelakar Naufal yang ingin meminta bantuan darinya.
Dasar! Hasan bodoh. Dia sengaja banget keyaknya ingin mencekkikku, kesal Naufal dalam hati.
"Ada apa sih? Pake acara kayak gitu. Katakan saja, apa kamu menyembunyikan sesuatu?" Zahira curiga.
__ADS_1
"Ia, Bang katakan saja, kayak ada orang asing aja di antara kita," sindir Susanti. Yang wajahnya sudah tak bersahabat.
"Ini menyangkut privasi sesama lelaki, makanya kalo cewek dilarang tahu. Hey, San, sini. Yaelah cuma bentar doang, kalo sampai gagal, aku gak mau lagi kerjain ini, " kesalnya. Naufal mencoba berekpresi setenang mungkin agar kedua gadis itu tak curiga. Padahal telapak tangan dan kakinya sudah terasa berkeringat dingin.
Merasa omongan Naufal semakin tidak nyambung, dengan malas, Hasan terpaksa berdiri dan menghampiri Naufal yang memang susah berjalan.
Hasan terlihat hidmad mendengarkan modus berbentuk bisikan itu. Zahira dan Susanti yang melihat tingkah keduanya hanya bisa penasaran, tapi tak bisa bertanya. Cuma terlihat perangai anggukan dari Hasan. Entah apa yang Naufal bisikan. Lalu setelahnya lelaki jomlo itupun kembali ke tempat duduk.
"Susan, tolong ambilkan salep luka yang ada di laci paling bawah ya, aku lupa tadi gak pasang itu." Susanti langsung bergerak melakukan apa yang disuruh Naufal.
Tanpa buang waktu, Naufal menghadap pada Zahira. lalu memegang tangan gadis itu. Tampaknya dia akan memulai aksinya dalam membujuk.
"Ira, kamu mau berangkat ke kampus kan?" Zahira mengangguk mengiakan.
"Sekarang, aku ingin beristirahat, badanku serasa encok. kamu segera berangkat ya, bareng Hasan. Aku sudah bilang tadi." Zahira yang merasa terusir merasa heran. Tidak biasanya Naufal bersikap seperti itu padanya.
"Tapi, siapa yang akan menemanimu? Apakah sepupumu itu?" melihat Susanti begitu perhatian pada kekasihnya, membuat hati Zahira tak terima meninggalkan tempat itu terlalu cepat.
"Tidak, dia akan berangkat kuliah juga. Nanti pulang dari kampus, boleh deh mampir kesini lagi. Aku tau kamu khawatir," goda Naufal. Sambil tersenyum memperlihatkan gigi atasnya.
"Ya deh, tapi jangan lupa minum obat biar cepet sembuh," pesan Zahira.
Zahira pasrah dan menganggukan kepala. Hasan yang melihat keromantisan pasangan di depan matanya menjadi ingin muntah.
Dia pun juga heran. Zahira tampak lunak mendengarkan perintah dari Naufal. Padahal Zahira tadi sudah melihat sendiri kalau ada perempuan lain yang juga perhatian pada kekasihnya.
"Woy, cepet, Anterin Zahira. Ingat jaga dia. Jangan macam-macam!" perintah Naufal.
Hasan yang bengong seketika mengembuskan nafas kasar. Hanya Naufal karyawannya yang berani memerintahnya.
Huffh, dasar merepotkan, umpatnya dalam hati dengan wajah masam.
"Bang, mana salepnya? Gak ketemu," teriak Susanti dari dalam kamar.
"Gak ada ya, coba lihat di kamar mandi kayaknya ada disitu." Suara Naufal tak kalah nyaring.
__ADS_1
"Heh, mau aja dikibulin, si buaya," gumam Hasan yang tersenyum sinis lalu beranjak pergi tanpa berpamitan.
Zahira merasa tidak enak hati melihat wajah Hasan yang terlihat keberatan karena Naufal menyuruh mengantarkannya. Namun, tidak ada pilihan lain, selain bisa menghemat ongkos dia juga takut terlambat sampai di kampus.
"Abang, kamu bohongin aku ya?" Jerit Susanti yang kembali lagi ke ruang tamu karena tidak menemukan apa yang dia cari. Tampaknya gadis itu sangat kesal.
"Ha? Engak kok. Eh, Ira, cepet sana. Tuh Hasan sudah menunggu di mobil," ucap Naufal.menyambung jawaban dan kalimalimatnya yang dia tunjukan pada Susanti dan Zahira.
Zahira akhirnya gegas keluar, dan benar saja. Hasan sudah duduk manis di dudukan kemudi. Sedang Susanti marah, karena merasa dipermainkan dan tak dihiraukan. Dia lalu duduk dengan kasar dan menghentakkan kaki karena kesal.
"Kamu jelek kalo lagi marah, kalau gak ketemu ya udah. Aku cari sendiri. Niat bantu apa engak sih, salep gak ketemu malah ngomel." Naufal malah membalas kemarahan Susanti dengan gerutuannya. Membuat gadis itu serba salah.
Padahal tadi dia sudah kesal setengah mati, kenapa malah Naufal sekarang yang menggantikan posisi kekesalannya.
Naufal lalu berjalan meski terpincang. Dia meninggalkan Susanti sendiri diruang tamu. Lelaki itu merasa tak tega telah membuat Susanti jengkel. Karena salep yang dia maksud memang tidak ada, tapi dia terpaksa melakukannya.
"Bang, tunggu!" pintanya.
Susanti menghampiri Naufal yang sudah lebih dulu, dia memegang lengan lelaki itu dengan perhatian. "Maafkan aku Bang, aku hanya kesal karena ...."
"Karena Zahira?" tebaknya. Memotong perkataan Susanti.
Susanti menundukan kepalanya, dan mengangguk membenarkan.
"Aku cemburu melihat kedekatan kalian. Padahal yang punya ikatan denganmu disini itu kita berdua, kenapa aku merasa kamu lebih memperhatikan dia dari pada aku," keluh susanti. Sambil lalu memalingkan wajah yang sudah berkaca-kaca.
'Maafkan aku Susan, cintamu harus bertepuk sebelah tangan. Aku tak tau harus memulai kejujuran ini dari mana. Tentunya, siapapun yang akan menjadi pasangan hidupku, dampaknya pun akan tetap sakit yang akan kita dapatkan. Aku sakit ketika melihat kamu yang ku anggap sebagai adikku harus terluka, begitupun sebaliknya, diri ini tak mampu meninggalkan Zahira dan menyakiti perasaanya.' batin lelaki itu.
Untuk kali ini dia bisa lolos dari jeratan kebohongan, tapi entah sampai kapan dia bisa menutupi hal itu. Naufal mengembuskan nafas panjang, dia tak menjawab rajukan dari Susanti dia membiarkan Susanti memapahnya sampai ke kamar.
"Susan, maaf ya bila aku sering membuatmu kecewa. Aku juga manusia yang sering berbuat kesalahan. Jadi, maafkan aku bila kamu harus sakit hati karena ulahku," sesal Naufal.
"Asal Abang selalu berjanji untuk bersamaku, semua masalah kita selesaikan bersama. Tak ada masalah tanpa penyelesaian," ujar Susanti yang mulai bisa mengendalikan emosinya.
Naufal hanya bisa mengangguk, membaringkan tubuhnya di kasur yang tak begitu lembut di ranjangnya. Juga memejamkan mata kembali. Sungguh hari itu adalah hari yang membosankan untuknya.
__ADS_1
Berbaring kesakitan tanpa melakukan apapun, padahal perasaanya lagi kacau balau. Mungkin bila dia sehat, menyibukkan diri bisa meminimalisir keresahannya.
Melihat mata Naufal terpejam. Susanti pun meninggalkan tunangannya itu sendian di dalam kamar. Gadis itu berharap, Naufal segera sembuh.