Pelabuhan Cinta.

Pelabuhan Cinta.
21. pertemuan tak diduga


__ADS_3

[Bos, besok aku gak bisa masuk kerja.]


Tulis Naufal di aplikasi whatsap yang akan di kirimkan pada Hasan. Merasa tak ada balasan dari Bosnya, dia menaruh handphone dan berniat mandi untuk segera menyegarkan tubuhnya.


Perlahan, Naufal membuka celana jins yang agak ketat dibagian paha. "Aah!," desisnya. Terpaksa lelaki itu mengambil gunting untuk memudahkan membuka celana yang sudah sobek itu dibagian lutut. Serta diganti dengan handuk yang sudah dia selipkan di bawah pinggang.


Kucuran air dari gayung yang dia tiriskan, membuat luka di tubuhnya menjadi terasa semakin perih. Lelaki itu mengembuskan nafas kasar, meresa prihatin pada kondisinya saat ini.


Dia merasa malam itu adalah malam yang sial. Sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Yah, begitulah. Bermain-main dengan cinta, kadang lebih banyak luka dari pada menguntai tawa dan hal itu dia sudah menyadarinya, tapi pelabuhan cinta tak mampu mengubah pendiriannya.


Jangan salahkan jika cinta itu buta, karena memang pada dasarnya cinta memang tak punya mata. Cinta sejati itu jalanya tidak bercabang, melainkan lurus dan tetap memiliki satu tujuan. Maka disitulah cinta buta akan menemukan jalan keluarnya.


Ddrrzzz!


Ddrrzzz!


Bunyi handphone bergetar menghentikan kegiatan Naufal yang sudah selesai mandi, dia taruh kaos oblong yang hendak dipakainya. Lalu Memutuskan Mengambil benda pipih yang ada di atas nakas.


[Beri alasan.]


Tulisan dua kata itu membuat mulut Naufal berdecak, padahal tadi dia ingin curhat pada Bos rasa sahabatnya itu. Namun, terlalu lama menunggu balasan, membuat moodnya semakin berantakan.


Naufal abaikan pesan itu dan memilih membaringkan badanya yang terasa remuk. Di malam yang semakin larut, dia memejamkan mata berharap kegelisahannya hilang bersama mimpi.


***


Embun tipis bening berkilau melapis rumput. Matahari pagi menyapa bumi dengan kehangatan sinarnya. Desiran angin bertiup menggigilkan, mebuat dedaunan melambai-lambai. Kicawan burung bersorak bahagia, mereka meloncat-loncat dari satu ranting ke ranting lainnya.


Berbeda dengan Naufal yang masih betah dengan selimut yang membungkus badanya. Mata lelaki itu engan untuk terbuka. Elusan tangan yang lembut di sekitar pipi dan telinga, membuat hawa dalam tubuhnya semakin menghangat.


Mimpi ini sungguh indah. Dia tak mau terjaga dari alam bawah sadar. Remang-remang terlihat wajah cantik kekasihnya, dia pegang tangan itu. keinginan untuk melihat lebih jelas membuatnya membuka netra yang masih terasa pekat.


"Susanti," pekiknya.


Lelaki itu segera duduk dan mengusap wajah. Mimpi yang tak berujung kenyataan itu membuat wajahnya tampak lesu. 'Aku kira tadi Zahira' batin Naufal.

__ADS_1


"Sejak kapan kamu disini?" tanya Naufal dengan malas. Lelaki itu seolah lupa tadi malam sudah menyakiti Susanti dengan perkataanya. Susanti pun sudah terbiasa dengan tingkah Naufal yang kadang tak acuh.


"Ada lendir di ujung matamu." Jawaban Susanti membuat tubuh lelaki itu serasa kaku, dia lalu beranjak ingin berdiri, tapi luka di kakinya sangat sakit.


"Aduh, sial!" Lelaki itu malah mengusap ujung matanya dari selimut.


Susanti lalu tergelak dan mamajukan bibir bawahnya, membuat dia terlihat seperti ikan nirwana. " Eeuuch! Jorok," ejek Susanti.


"Biarin, kakiku sakit, susah berdiri, padahal tadi malam gak sesakit kayak gini," desis Naufal.


"Mari aku bantu ke kamar mandi," tawar Susanti.


Naufal perlahan memijakkan kaki ke lantai dan memegang tangan Susanti yang sudah gadis itu julurkan. Sekuat tenaga dia berdiri, setelah dipapah sampai ke dinding, lelaki itu tak mau dipapah lagi.


Dia mengikuti arah jalan lewat diding sebagai tumpuan. Susanti yang hawatir, mengikuti langkah Naufal meski tak di perkenankan memapah lagi.


Setelah dirasa tunangannya sudah sampai pada tujuan, gadis itu merapikan tempat tidur yang masih berantakan. Belum selesai, Tiba-tiba saja terdengar suara bunyi ketokan pintu dari luar. Dengan langkah gontai Susanti membuka pintu.


" Kamu!" pekik Susanti sambil melebarkan bola matanya dengan jari menunjuk.


"Apakah kita pernah bertemu?" Tampak gurat kebingungan tersirat di wajah wanita yang mengetuk pintu.


"T--ti--tidak," jawab gugup Susanti. Entah mengapa bertemu dengan Zahira membuat tubuhnya panas dingin.


Pantas saja Bang Naufal lengket banget sama ini cewek, dia cantik meski tak memakai make up berlebih batin Suasanti. Mata gadis itu melihat penampilan Zahira dari atas sampai bawah. Sederhana dan cantik. Itulah perolehan nilai pada perempuan di depannya.


Zahira yang memang murah senyum, sudut bibirnya terangkat. Gadis itu memang terkadang tak peka dengan ketidaknyamanan orang lain di sekitarnya karena kehadirannya.


Apa? Dia tersenyum padaku? Sebenarnya apa hubungan Bang Naufal dengan wanita ini? Kalau dia memang kekasihnya, tidak mungkin dia bisa secerah itu menghadapi perempuan lain berada di kontrakan ini.


"Maaf, apakah aku boleh masuk?" tanya Zahira yang kakinya mulai pegal berdiri di luar menunggu Susanti yang bermonolog sendiri dengan pikirannya.


"Boleh, silahkan." Susanti melebarkan pintu dan memberi jalan pada Zahira untuk masuk.


Zahira memandangi seluruh bagian ruangan, matanya mencari sosok laki-laki yang dari semalam tidak mengabarinya. Susan hanya memandang tingkah Zahira dari kejauhan. Merasa mendengar suara gemercik air di kamar mandi, Zahira berpikir ada Naufal di dalamnya.

__ADS_1


Dia lalu berjalan ke arah kursi dan duduk disana. Merasa di perhatikan. Zahira memanggil Susanti yang masih betah berada didekat pintu.


"Apakah kau akan berdiri disitu? Sini duduk," ajak Zahira. Gadis itu memang gampang dekat dan mengenal pada setiap orang, karena sikapnya yang ramah.


Susanti berjalan lalu duduk di depan Zahira, ada sedikit rasa tak terima dengan adanya perempuan cantik yang ingin bertemu dengan tunangannya. Namun, dia tetap bersikap biasa saja.


"Kenalkan, aku Zahira." Susanti menerima uluran jabat tangan dari Zahira.


"Kamu ... Sepupunya Naufal? Yang waktu itu naufal jemput? Ehm, soalnya dia pernah cerita kalau punya sepupu perempuan disini," tanya Zahira


"Ia kak, Aku sepupunya sekaligus ...."


Krieeet!


Ingin sekali Susanti menjerit dengan berkata dia tunangannya, Namun,


Suara pintu terbuka menghentikan pembicaraan Susanti yang ingin mengakui statusnya dengan Naufal. Kepala kedua gadis itu teralihkan pada seorang di balik pintu. Yang ternyata itu adalah Hasan.


Hasan melongo melihat kedua wanita yang memiliki hubungan spesial dengan Naufal berada di satu ruangan. Tatapan aneh dari mata tajam itu menelisik pada dua orang yang sedang berhadapan.


"Apakah kalian memang akur begini?" tanya Hasan


"Maksudnya?" tanya Anita dan Susanti kompak.


Hasan malah menjadi bingung mau menjawab apa. Dia pun juga tak paham berada dikondisi seperti apa. Lelaki itu memilih melangkahkan kaki dan bergabung dengan mereka berdua.


"Hem, Zahira, kamu sudah lama disini? Dimana Naufal?" Hasan malah mengalihkan pembicaraan.


"tidak lama juga, pak. Kayaknya orang yang Anda cari ada di kamar mandi." ujar Zahira sopan.


"Oooh." Hasan hanya bisah ber-oh ria, selanjutnya dia tak tau apa yang ingin di tanyakan karena takut salah bicara. Padahal niat dia kekontrakan Naufal hanya sekedar mampir dan menanyakan kabar karena sahabatnya itu tadi malam tak memberi alasan atas permintaan izinnya.


Dasar, Naufal yang mendua, kenapa jadi aku yang gugup. Cih, padahal aku tak mau terlibat dengan hubungan rumit mereka. batin Hasan.


Hening, tak ada pembicaraan diantara tiga orang itu. Tak lama Naufal yang sudah selesai dengan ritual paginya, muncul terpincang-pincang dengan rambut yang masih basah. Melihat Naufal kesulitan berjalan,Naluri kedua wanita yang mencintai satu orang lelaki itu tiba-tiba langsung sigap.

__ADS_1


Zahira dan Susanti langsung menghampirinya. Sedang Naufal, menunduk dan masih sibuk memegangi dinding agar tidak terjatuh. Merasa ada dua orang memegangi lengannya, kepala lelaki itu terangkat, dan ... Doar! Bagaikan terkena imbas dari ledakan bom.


Tubuh lelaki itu terasa terbakar. Wajahnya sudah pucat pasih dengan mata melotot. Tubuh pun seketika lemas. Ingin rasanya dia berlari dan bersembunyi sejauh 1000 kilo miter, tetapi apakah itu mungkin? 😀


__ADS_2