Pelabuhan Cinta.

Pelabuhan Cinta.
25. malam yang melelahkan


__ADS_3

Ditengah kesibukan menjalani skripsi. Naufal sempatkan menghubungi mustofa sekedar memberi tanggung jawab untuk menghendle semuanya di bengkel selama tak ada dirinya. Tak lupa juga berpamitan dengan Hasan si pemilik bengkel untuk menfokuskan diri berkutat dengan laptop yang berukuran dua belas inch itu di depannya.


Matanya dengan cekatan meneliti kata demi kalimat untuk memastikan semua adalah benar. Ia berharap bila ada kesalahan, Dosen yang membimbingnya dengan tanpa disengaja tak melihat celah dalam kalimat yang telah dia susun sedemikian rupa.


Punggung yang sudah mulai lelah karena posisi duduk dengan tegap, Ia sandarkan pada belakang dudukan kayu yang berbentuk segi empat dengan jaring-jaring rotan di tengah. Entah mengapa meski badanya merasa letih, tapi semangat menuntaskan revisi menjadi acc sangatlah berkobar.


Mengingat sebelum diadakannya ujian skripsi ia akan pulang ke kampung halaman untuk menyelesaikan masalah yang sedang mengusik hari-harinya. dua jam ia lalaui, tiba-tiba saja konsentrasi terbuyarkan mendengar notifikasi pesan masuk dari seorang yang dicintai.


Mata yang tadinya mengantuk dan dipaksakan untuk terbuka lebar, kini dengan sendirinya berbinar. Melihat kata sapaan semangat beremotikan tangan terkepal. Senyumnya terukir dengan bibir langsung ia manyunkan dan sedikit decupan ke arah hanphone yang sedang digenggam.


Sungguh, tingkah laku yang memalukan, cinta memang kadang membuat pemiliknya menjadi kekanakan-nakan.


Tanpa menunggu terlalu lama, tangannya dengan cekatan memijit tanda keyboard agar di sebrang sana segera mendapatkan balasan.


Naufal: Seketika semangatku kembali terisi penuh saat namamu menghiasi layar hanphoneku.


Zahira: EELLEBAAAY!!


Suaranya terdengar terbahak melihat balasan kata dengan huruf kapital beremotikan memutar bola mata.


Naufal: Tapi ... Kamu suka kaaaan?


Satu detik, lima detik hingga sepuluh menit tak kunjung ada balasan, dia tak sabar dan mengirim pesan susulan.


Sayang.


Zahira.


Ilove you.


Naufal melihat kembali pesan yang baru saja dikirim, tanda cawang satu menandakan bila watshap dari Zahira sedang dalam mode off. Dia mendengus, memikirkan kemanakah gerangan sang penyemangat yang baru saja membuat energinya kembali muncul.


Ia putuskan melanjutkan memulai kegiatan yang baru saja ditundanya. Tiga puluh menit berlalu, kembali ia dikejutkan dengan bunyi telepon, yang membuatnya sumringah untuk segera merongoh benda berbunyi tersebut.


Wajahnya menjadi tampak serius tatkala ia melihat nama seseorang yang sedang menghubunginya.


"Halo,"


" .... "


"Iya,"


Mimik wajahnya tak mampu terbaca, hanya helaan nafas panjang dengan pengembusan yang teratur.


" ... "

__ADS_1


"Iya, Terima kasih."


Meski terdengar banyak yang dibicaran oleh seseorang di sebrang sana. Ia hanya menjawab dengan singkat. Wajah tertekan sangat nampak dari raut lelahnya.


Sekali lagi, ia melanjutkan kegiatan yang tertunda, dan tanpa terasa waktu telah menunjukan pukul 01.30. Bab empat selesai, saatnya ia membaringkan tubuh dengan tangan menjangkau saklar lampu. Tak lupa pula menyeting alarm, sahabat kedua yang setia membangunkan.


Tak perlu menunggu banyak waktu, nafasnya mulai terdengar terarur dengan lengan ia letakkan di atas kepala, sarung yang semula menutupi bagian bawah, kini telah tersingkap karena ketidak sengajaan tangan menggaru paha yang gatal akibat gigitan nyamuk.


Meski nyanyian serangga kecil itu menggema di area kuping karena lupa memasang penangkalnya, Tak mampu membuat terjaga pemilik mata yang jiwanya entah sedang berada dimana.


Nyenyak, pulas, bahkan terdengar dengkuran agak keras yang mengalahkan merdunya mesin gergaji.


Kring...


Kring...


Kring...


Alarm pertama telah berbunyi, dengan waktu menunjukan pukul


03.30. Namun, tak mampu membangunkannya.


Kring...


Kring...


Kring...


Hingga, ia merasakan silau cahaya masuk melalui celah jendela dengan gorden yang sedikit terbuka. Badannya menggeliat, melonggarkan otot-otot yang terasa kaku, kesadarannya masih belum kembali sepenuhnya. Matanya mengerjap.


Dengan malas ia membuka mata dan meraih hanphone yang diletakkan di atas nakas. Matanya melotot melihat jam sudah menunjukan pukul 08.35.


"Bulsyet!" gumamnya.


Segera ia beranjak dari tempat tidur, dengan memegang sarung yang sudah copot dari bagian pinggang. Ia berlari tergesa ke kamar mandi membersihkan muka sekaligus gosok gigi.


Setelah selesai dengan acara bebersih singkatnya Ia langsung mencari jaket, dengan celana yang entah sudah berapa hari dipakai dan hanya di gantung saja.


Tak lupa pula ia membawa hasil dari kerja kerasnya tadi malam, dengan langkah tergesa ia berjalan ke tempat sepeda motor, meski terhuyung, tetap dipaksakan karena jiwanya belum sepenuhnya menyatu.


Tepat pukul 09.12 ia tiba di area kampus dan langsung berlari ke ruangan Pak Rois. Namun, Dosen pembimbingnya telah lebih dulu meninggalkan tempat itu.


Wajahnya terlihat lesu, ia berjalan menunduk menyusuri koridor kampus sambil mengembuskan nafas panjang.


Langkah lelaki itu terhenti saat merasa jaket yang dia kenakan ditarik dari belakang, ia membalikan tubuh dan mendapati Zahira tersenyum sambil geleng-geleng kepala.

__ADS_1


Seolah mengerti apa yang Naufal rasakan, gadis itu menuntun dengan terus menarik jaketnya.


"Kamu ... Kemana aja sih?" tanya Zahira yang posisinya telah terduduk dengan Naufal di kursi besi yang panjang.


Naufal menaikan wajah, mata mereka saling bertautan. Sepersekian detik mereka saling memandang, tapi setelahnya mimik wajah lelaki itu menjadi berubah.


Dia tersenyum sambil mengerling nakal pada gadis yang ada disampingnya. Dahi gadis itu mengkerut dengan wajah naufal yang semakin terlihat sumringah.


"Lah, kenapa? Kamu sakit?" Tangan


Zahira terangkat menyentuh kening kekasihnya.


Lelaki itu tak menjawab, malah mengajak ke kantin dengan merangkul pemilik bahu yang keheranan melihat tingkahnya yang sulit ditebak.


Setelah sampai di meja dengan empat kursi yang saling berhadap-hadapan. Naufal memesan nasi pecel dengan satu mangkuk bakso kesukaan Zahira.


Setelah dua hidangan tertata di depan mata. Ia langsung melahap nasi dengan tumpukan bumbu kacang yang melumuri berbagai sayur di bawahnya. Sedap.


"Tadi berangkat gak sarapan dulu?" tanya Zahira. Tangannya masih sibuk memotong bola-bola bakso, sambil sesekali melihat Naufal yang sedari tadi belum juga mengangkat kepala saking antengnya menikmati sepiring nasi pecel.


"Belum!" jawabnya dengan pipi mengembung karena masih sibuk mengunyah.


"Oh," lirih Zahira.


Setelah makanan tandas tak bersisa, Naufal mengambil tissu lalu dia usapkan pada mulutnya.


"Skripsimu gimana?" tanya Naufal dengan tangan dia lipat di atas meja.


"Udah mau selesai, cuman sedikit revisi di bab empat," ucap Zahira. "Kenapa sampai datang terlambat," sambungnya.


"Keenakan tidur, kenapa pesanku gak dibalas"


"Sengaja matiin data biar fokus sama skripsi,"


Naufal tergelak.


"Tenang saja, sesi foto bersama saat wisuda bakal terlaksana, kalau bisa kita jadiin photo preweding nanti agar ekspresinya terlihat alami."


Dahi Zahira mengernyit, belum paham apa yang dimaksud kekasihnya. Namun sepersekian detik hidungnya terlihat kembang kempis menahan tawa yang membuatnya merasa malu.


"Gak nyambung," ucapnya yang tak bisa menyembunyikan senyum dengan pipi merah merona.


Ditengah canda tawa mereka berdua, Naufal melihat seorang wanita berkerudung merah muda terlihat risih dengan lelaki yang ada disebelahnya.


Matanya menyala-nyala melihat tangan lelaki itu dengan genit menyentuh dagu gadis itu. Dengan wajah terbakar ia beranjak dari tempat duduknya, dengan gerakan cepat lalu....

__ADS_1


BUGG!.


__ADS_2