
[Ra, kapan bisa makan bersamaku? ada yang ingin ku bicarakan.]
Zahira terbangun dari tidurnya, mendengar bunyi pesan dari hape yang dia taruh di samping tempat tidur.
Kesadarannya belum sepenuhnya kembali, tetapi dengan sekuat tenaga dia melawan ngatuk beratnya untuk melihat siapa yang teleh mengirim pesan.
Dilihatnya jam yang bertengnger di dinding, ternyata jarum kecilnya berada di angka tiga dengan jarum besar di angka dua belas, Zahira berpikir untuk apa Naufal di jam segini mengirim pesan langsung ngajak dia ketemuan, gadis itu lalu menulis pesan balasan
[Besok sore, kebetulan waktunya aku cuti dari resto, tapi itu sih kalau gak ada panggilan dari sana.] Pesan di kirim dan sukses. Karena sudah terjaga. Zahira pergi ke kamar mandi untuk menyegarkan wajahnya, tapi sebelum dia beranjak, pesan keduapun datang.
Senyum gadis cantik itu terukir, tak lama kemudian, bunyi ketiga kalinya membuat gadis itu mengangkat benda pipih yang sedari tadi dia pegang untuk dia tempelkan di telinga.
"Halo, kamu gombal banget sih, sampai bilang gak tidur semalaman mikirin aku. Gak bisa tidur mikirin aku, apa gak bisa tidur karena bermain game?" tanya Zahira pada Naufal yang ada di sebrang sana, dia masih tidak percaya dengan omongan Naufal yang tidak masuk akal menurutnya.
" ... "
"haha, bahasamu bikin aku sakit perut. Kenapa tanya aku, aku kan jomlowati." Zahira tertawa tebahak-bahak mendengar ucapan Naufal.
"..."
__ADS_1
"Gak mau, gak romantis banget sih. Nembak lewat telfon, gak semudah ...."
Klek tut!
Belum selesai zahira berucap, Naufal sudah mematikan teleponya. Akhirnya Zahira memutuskan untuk memulai rencananya yang tertunda, pergi ke kamar mandi untuk menyegarkandiri dan bersiap untuk solat subuh yang waktunya belum tiba.
Sekitar tiga puluh menit kemudian, Zahira membuka jendela kamar. Dinginnya semilir angin mengusap kulit halus nan putih itu, rambutnya berayun seperti sedang menggelitiki leher, matanya terpejam merasakan nikmat alam yang membuat hatinya tentram.
Gadis itu menghirup udara segar dan mengembuskannya perlahan. Tiba-tiba saja dia mendengar suara langkah kaki seseorang seperti sedang mendekatinya. Dia melihat sekeliling diluar jendela memang tak ada lampu penerangan, Entah kenapa, bulu kuduknya mulai meremang.
Cepat-cepat Zahira menutup pintu jendela. Suara ketukan jendela membuat dia terkejut dengan mata terbelalak. Hatinya mulai penasaran, dia melangkah mendekati asal suara.
Brakk!! Dengan kasar, Zahira membuka pintu jendela dan badannya langsung mundur kebelakang, kerena takut penjahatnya akan menyerang. Seperti adegan flim axtion yang dia bayangkan.
"Aaaaaaa ... Kenapa kamu ada disini?" ucapnya lantang pada seorang lelaki yang berada di balik jendela. Lelaki itu lalu melompat kedalam dengan memeluk dan membekap mulut Zahira yang sedang panik karena kedatangannya.
"Ssssstt, jangan berisik. Aku merindukanmu." Suara lirih dari lelaki yang memeluknya membuat badan Zahira yang tadinya memberontak menjadi tenang.
Perlahan bungkaman tangan itu mulai dibuka. Gadis itu berdiri mematung. Wajahnya menjadi pucat dan tangannya dingin. Jantungnya berdebar kencang saat merasakan tubuhnya dipeluk oleh lelaki yang dia sukai.
__ADS_1
"Aku tak bisa menunggu sampai nanti sore, gejolak rinduku serasa terbakar tatkala raga ini tak bisa memeluk bunga yang harumnya membuat hatiku mendamba," ucap Naufal lirih, aroma hembusan nafas lelaki itu seakan menggelitiki telinga gadis yang tengah terhipnotis dengan kata-kata manisnya.
"Ke--ke--kenapa kamu bisa berada di sini?" tanya Zahira yang suaranya tergagap saking tegangnya dipeluk seorang lelaki.
"Zahira Azzahir, Aku tipe lelaki yang tak akan bisa menyia-nyiakan waktu, Aku Mencintaimu sudah dari dulu. Maka, biarkanlah aku mengungkapkan perasaanku tanpa mengulur waktu." Suara naufal tetap terdengar lirih, Zahira menjadi tidak tahan di buatnya.
"Oke, tapi bisakah kau melepaskan pelukanmu ini dulu, aku risih," pinta Zahira memohon. Sedang Naufal tersenyum smrik melihat tingkah Zahira yang kaku ketika berada dalam pelukannya.
"Setelah ini, kau akan terbiasa dengan sentuhanku beybih" tegas Naufal dengan suara menggoda seraya melepaskan dekapannya.
"Zahira ... apakah kamu belum bangun! Buka pintunya nak, mari kita solat." Suara ayah zahira terdengar nyaring di luar kamar jalan, membuat dua insan yang berada di dalam kamar menjadi panik. Buru-buru zahira mendorong tubuh tinggi Naufal untuk keluar melewati jendela, tetapi lelaki itu menahan berat tubuhnya yang tidak ingin beranjak dari sisi gadis itu.
"Iya ayah ... Aku bangun," ucap zahira nyaring, pada ayahnya yang berada di balik pintu, sambil tetap mendorong badan tinggi yang ada dihadapannya. "Ayo cepat pulang, bisa mati aku kalau ketahuan ayah bawa laki-laki dalam kamar." Zahira semakin panik dibuatnya karena Naufal tetap tidak bergeming meski gadis itu dengan sekuat tenaga mendorongnya.
"Baik aku keluar, tapi bolehkah aku memelukmu sekali lagi?" tawar Naufal,
Zahira semakin frustasi dibuatnya, emosi gadis cantik itu semakin naik ke ubun-ubun, dia tidak mengerti dengan tingkah Naufal yang semakin genit saja. Akhirnya dengan terpaksa gadis itu mengancam Naufal tetap keluar dari kamarnya dengan beralasan Zahira akan membencinya bila keinginannya tidak dituruti. Dengan berat hati Lelaki itu harus mengikuti ucapan Zahira meski dalam hatinya ingin mendapat pelukan untuk yang kedua kalinya.
"Jangan lupa nanti sore kita ketemu." Naufal memilih mengusap rambut Zahira yang lembut. Dan melangkah pergi dari kamar zahira.
__ADS_1