
Naufal tersenyum seraya duduk dan memegang bahu Zahira untuk dia putar menghadap pada wajahnya.
"Aku hanya ingin mendekatkan ini dengan ini." tunjuk Naufal pada bibirnya dan bibir Zahira.
Mata Zahira membulat penuh, Jantungnya berpacu lebih cepat. Untuk sesaat, tubuh Zahira mematung.
Perlahan Naufal mendekatkan wajah pada kekasihnya, hingga hembusan Nafas lelaki itu sangat terasa, dengan gemetar Zahira memejamkankan matanya.
Ini pertama kali bagi gadis itu, berdua sama lelaki dengan posisi sangat dekat yang di sengaja.
Ingin sekali Zahira pergi dari tempat itu. Namun, tubuhnya seakan terikat oleh hasrat yang menggebu.
Belum Sampai Naufal mendekatkan benda kenyal itu pada tujuannya, ada sedikit rasa tak tega dihati kecilnya.
Dengan susah payah, Naufal menahan keinginan itu.
Perbedaan gejolak di hati lelaki itu sudah berdemo dengan dua pilihan. Antara pertahanan ataukah kegoyahan untuk iman sang pecinta. Namun, ternyata Nafsu birahi mengacak-acak perasaannnya.
Keinginan itu sudah meronta-ronta untuk segera di tunaikan.
Ah, persetan dengan komitmen,batin Naufal.
segera dia memegang kepala Zahira dan mendekatkan bibirnya ke bibir merona milik kekasihnya itu. Namun, sekali lagi seorang Naufal harus dikecewakan dengan bunyi dering teleponnya sendiri.
Kedua sejoli yang lagi dimabuk cinta itu terperanjat. Mereka langsung tersadar dengan ketegangan yang mereka buat.
"Angkat dulu teleponnya," ucap Zahira. Dia lalu beranjak dari pinggir ranjang, sekedar menghindar dari suasana tidak nyaman.
"Halo, ini siapa?"
" ... "
Suara cempreng seorang Wanita membuat telinga Naufal seakan ingin pecah, lelaki itu mengembuskan nafas berat, dia sudah bisa menebak seorang yang meneleponya diseberang sana.
"Baiklah."
Dengan gusar, dia mematikan panggilan itu, Zahira yang melihatnya dari jauh menghampiri Lelakinya.
"Ada apa, apa ada masalah?" Tanya Zahira khawatir.
__ADS_1
"Tidak! Aku hanya ... Sepupuku. Dia datang kesini untuk tinggal di jakarta, dan sekarang dia ingin aku menjeputnya." terang Naufal.
"Tapi, apakah kondisimu sudah baikan?" Tangan Zahira terulur pada dahi yang sebelumnya panas. Naufal tersenyum simpul menanggapi kekhawatiran perempuanya.
"Tadi masih panas, tapi setelah kau membuatku dag dig dug, sepertinya keringat dingin ini membasahi tegangan tinggi dari panas kulitku," kelakar Naufal.
"Bisa aja kamu? Tukas Zahira.
"Ayo aku anter, sekalian mau jemput sepupu," ucap Naufal. Sedangkan Zahira menganggukan kepala seraya tersenyum dan beranjak dari tempatnya.
Seandainya kamu tau siapa yang kujemput, mungkinkah senyum itu akan tetap terukir di bibir indahmu? pikir Naufal.
Dia pun berlalu pergi, dan beranjak mengambil jaket untuk menghalau serangan angin malam karena kondisi tubuhnya belum sepenuhnya pulih.
Setelah sampai di depan rumah Zahira. Naufal berbelok arah untuk menjeput Susanti yang baru datang dari madura.
***
"Kenapa kamu kesini?" tanya Naufal sinis, sikapnya dingin, membuat gadis remaja itu menekuk wajahnya.
"Apakah Abang tidak suka aku ada disini?" jawab Susanti.
"Kamu mau kuantar ke rumah mbak Nur?" Posisi Naufal tetap berada di atas sepada, dia Engan untuk sekedar berbasa-basi atau mengajak ngobrol Susanti.
"Gak, aku nginep di kontakan Abang dulu, kasian Mbak Nur kalo aku datang sudah malam begini," pinta Susanti.
"Alasan," lirih Naufal.
Tentu saja Suaranya sengaja dia kecilkan agar Susanti tak mendengarnya.
Naufal tau kalau Mbak Nur di jakarta buka toko sembako, mana mungkin jam 11 malam sudah tidur, lelaki itu hanya malas berdebat dengan Susanti, sehingga menuruti apa keinginan tunangannya itu.
Naufal membelah jalanan dengan laju kendaraan sepeda motornya.
Tidak ada pembicaraan antara keduanya, karena saat itu kecepatan sepeda motor yang Naufal kendarai sangat cepat.
Berbeda ketika ia dengan Zahira. Dia akan selalu mengulur waktu agar bisa berduaan lama dengan gadis yang dicintainya.
Di kontrakan Naufal.
__ADS_1
"Tidur di kamarku, aku bisa tidur di luar," Ucap Naufal. Dia lalu mengangkat barang-barang Susanti, dan mengambil selimut yang tidak begitu tebal itu di lemarinya.
Lalu lelaki itu menyalakan korek api untuk membakar obat nyamuk yang bentuknya berlingkar.
Zahira hanya memerhatikan Naufal dengan tetap duduk di sofa panjang yang letaknya diluar kamar.
"Apakah kamu tidak ingin tidur? Kenapa masih saja duduk disitu, cepat tidur!" perintah Naufal. Tatapan wajahnya tajam, suasana pun menjadi semakin terasa dingin mencekam.
Rupanya, dia ingin segera tidur untuk memulihkan tubuhnya yang sedang tidak enak badan. Sedang Susanti, wajahnya Menjadi merah, entah apa yang sedang gadis itu rasakan, tiba-tiba saja dia jadi sesegukan dan menagis dengan menutupi wajahnya.
"kenapa menangis?" Naufal mengernyitkan alisnya.
Lelaki itu bingung apa kesalahannya, akhirnya dia juga ikut duduk di samping gadis itu.
Tangisan Susanti semakin menjadi-jadi hingga Naufal begitu frustasi di buatnya. Dia tidak tau akan berbuat apa untuk meredakan tangis gadis remaja ini.
"Diam!" Satu kata bentakan dari Naufal mengagetkan Susanti.
Gadis itu pun menjadi takut dan langsung menghambur pergi dari tempat yang dia duduki.
"Apa yang aku lakukan!" desis Naufal.
Dia menjadi serba salah. Lelaki itu pun menghampiri kamarnya yang menjadi pelarian susanti tadi. Namun, Susanti sudah sangat marah. Gadis itu mengunci pintu kamar dari dalam.
"Susan, aku minta maaf. Aku tidak bermaksud membentakmu, tapi jangan membuatku bingung dengan sikap kekanakan-nakanmu itu. Ayolah buka." Naufal mencoba memberi pengertian pada Susanti, berharap gadis yang masih dia anggap masih kecil itu berhenti marajuk dan memaafkannya.
Lima menit Naufal menunggu pintu dibuka, tapi tak ada tanda-tanda pintu itu akan dibuka.
Naufal memutuskan untuk tidur dan menyelesaikan masalahnya besok pagi.
Pagi harinya Naufal terbangun oleh bunyi dentingan perabot dari arah dapur, tapi dia tak ingin beranjak dari tempat tidurnya.
Susanti datang menyediakan sepiring Nasi goreng. Tak ada keceriaan di wajah gadis itu, Naufal mengerti dengan kondisinya.
"Susan, duduklah kesini." Wajah Susanti terangkat, tanpa menjawab dia langsung duduk di hadapan Naufal yang di depannya terdapat penghalang meja kecil berbentuk persegi panjang.
"Maafkan aku, dan kenapa tadi malam kamu menangis?" tanya Naufal.
"Abang tau, aku jauh-jauh datang kesini hanya untuk bertemu denganmu, tapi ternyata Abang seolah tak suka dengan keberadaanku," ucap Susanti kecewa.
__ADS_1
"Sepanjang perjalanan, Abang mengabaikanku, setelah sampai di sini, kau langsung menyuruhku tidur. Setidak berharga itukah aku dimatamu? Hingga meski kita lama tidak bertemu, kau lupa hanya untuk menanyakan kabarku." Susanti menghela nafas berat. Matanya mulai berkaca-kaca, bibirnya bergetar menahan tangisan, dia menundukkan kepalanya dalam.