Pelabuhan Cinta.

Pelabuhan Cinta.
11. Pembatalan janji


__ADS_3

Waktu itu Hasan dirundung kekesalan, karena orang tuanya Anita memaksa dia untuk berkenalan dengan anak dari teman sosialitanya.


Hasan tidak ingin dijodoh-jodohkan dengan siapapun, dia ingin bebas memilih pasangannya sendiri, tapi sang Mama sudah tidak percaya lagi kepada anak semata wayangnya itu.


"Mama sudah tidak percaya lagi denganmu San, dari dulu wanita yang kamu kencani tidak ada yang benar," ucap Anita sebal, wanita paruh baya yang sedang mengenakan baju warna kuning itu merajuk pada anaknya yang sampai sekarang belum menemukan jodoh.


"Mama tenang aja, kalo jodoh gak bakal pergi kemana. Cuma waktunya aja belum sampai," sahut Hasan yang pandangannya tidak beralih dari layar televisi yang sedang dia tonton.


"Pokoknya, Mama gak mau tau, tahun ini, kamu sudah harus menemukan calon menantu buat Mama!" imbuh Anita, Wanita yang masih terlihat cantik di umurnya yang sudah renta itu berlalu pergi meninggalkan anaknya yang sedang asik dengan dunianya sendiri.


"Aaaagh! Mama kira cari jodoh kayak mancing ikan, tinggal kasih umpan langsung dapet?" gerutu Hasan, "Ayolah, Hasan! kau tidak se jelek itu sampai sulit mencari seorang wanita," ucapnya lagi pada dirinya sendiri.


Entah kenapa pikirannya teralihkan pada senyum manis Zahira yang memukau. "Hah! kenapa aku jadi keinget sama gadis bodoh itu." Lelaki tampan itu sampai menarik rambutnya, karena kesal dengan pikirannya sendiri.


"Mengingat dia ... Aku jadi berpikir sesuatu untuknya," sambungnya lagi, senyumya berkembang, tampaknya lelaki itu memiliki rencana dalam benaknya.


Sedang Anita berdecak melihat tingkah anaknya dari balik tirai jendela, rupanya Ibu dari Hasan itu melihat gerak gerik anaknya yang sedang berbicara sendiri.


"Lihatlah Inah, dia sudah tidak waras, tersenyum dan berbicara sendiri gara-gara lama sekali melajang," ucapnya pada asisten rumah tangga, yang membawa nampan berisi minuman untuk Hasan yang berada di ruang tamu.


Bi Inah hanya bisa tersenyum, melihat


Majikannya ngedumel sendiri sambil bersembunyi di balik tirai.

__ADS_1


"Ibu mau minum juga?" tawar bi Inah.


Anita hanya menggelengkan kepala seraya mengangkat tangan tanda tidak mau, wanita paruh baya itu melanjutkan niatannya untuk keluar rumah, yang tertunda gara-gara bersembunyi dibalik tirai untuk melihat tingkah anaknya yang aneh.


***


Karena sudah waktunya pulang, para karyawan yang memang jam kerjanya dari pagi sampai sore, bersiap-siap untuk pulang kerumah masing-masing.


Begitupun dengan Zahira, dia juga bergegas untuk segera pulang, tapi entah kenapa hari itu dia tidak ingin waktu cepat berlalu, pikirannya dirundung kebingungan.


Zahira bingung karena dua lelaki menginginkan bertemu dengannya di waktu yang sama.


Zahira ingin menolak ajakan bosnya yang mengajak gadis itu untuk jalan, tetapi dia tak punya alasan untuk menolaknya,


Disaat gadis itu berkutat dengan pikiran bingungnya, ia dikagetkan dengan suara orang yang sedang berlari, tenyata orang yang terburu-buru itu adalah Azizah.


Hampir saja tubuh kecil Zahira terjatuh di karenakan senggolan dari Azizah, tapi gadis cantik itu cepat menghindar.


"Maaf Ira, aku buru-buru Ibuku sakit, duluan ya," ucap Azizah dengan tergesa.


"Ya hati-hati, semoga Ibunya lekas sembuh" teriak Zahira. "Hah, sakit." tiba-tiba saja ide cemerlang hinggap di pikirannya.


Senyum Zahira merekah bak bunga yang bermekaran di taman, dia menemukan solusi dari masalahnya sedari tadi, gadis itu berjalan keluar tanpa sadar kehadirannya sudah ditunggu oleh Hasan di parkiran.

__ADS_1


"kenapa senyam-senyum sendiri?" ucap Hasan dengan posisi berdiri dan tangan bersidekap, yang punggungnya dia sandarkan pada bagasi depan mobil.


Sedang Zahira menjadi kaget dibuatnya.


'Heh, sejak kapan Bos muka tembok itu berada disana, baru kupikirin udah nongol aj' pikir Zahira.


"Ayo masuk," ajak Hasan.


Senyum yang tadinya cerah, dia ganti dengan ekspresi sesedih mungkin.


"Jadi bapak beneran mau ngajak saya jalan?" tanya Zahira memastikan.


Sedang Hasan mengerutkan keningnya, lalu setelah itu, dia masuk kedalam mobil dan berkata.


"Sekali kali, mau masuk apa tetap berdiri disitu?" ucap Hasan menekankan.


Seketika Zahira panik dan langsung masuk ke dalam mobil. Dengan hati-hati Zahira menata ucapannya agar tidak salah bicara pada Bosnya.


"Hem, jadi gini Pak, temen saya sakit, dia minta Saya menemani dia dirumahnya, bolehkah jalan-jalannya di tunda dulu," pinta Zahira


Hasan tak menyangka ajakannya ditolak oleh seorang wanita, apalagi dia adalah karyawannya sendiri. Meski dalam hatinya bergejolak, tapi lelaki itu masih bisa mengatur ekspresi wajahnya, dia seperti tidak kelihatan kecewa ataupun marah.


'Alasan yang klasik, baiklah untuk saat ini kau boleh berkilah, kita lihat saja nanti, apakah sok jual mahalmu itu akan tetap bertahan' Hasan bermonolog sendiri dalam benaknya, dengan santainya lalu dia berkata.

__ADS_1


"Baiklah, silahkan keluar" ucap Hasan, gadis cantik itu sampai melongo di buatnya. Segampang itukah dia bebas dari jeratan janji dengan Bosnya.


__ADS_2