
"Abang!" Sekali lagi Gadis itu menyebutnya. Ia masih berdiam di tempat. Membulatkan mata serta menggeleng seakan tak percaya dengan hadirnya seseorang di depannya.
Sedang yang membuat terkejut hanya tersenyum dan merentangkan tangan. Sepersekian detik gadis itu melompat menggapai dada bidang yang sudah lama tak ia rasakan. Bahkan wangi parfumnya tetep sama seperti saat dulu ia bergelayut manja hanya untuk pemenuhan keinginannya.
"Kenapa gak bilang-bilang kalo mau pulang," rengeknya. Menepuk-nepuk punggung Naufal serta menyusut hidung yang sudah gatal karena menahan air mata.
Padahal ia sangat bahagia dengan kehadiran Abangnya.
"Kalo bilang-bilang berarti bukan kejutan." Naufal melepaskan pelukan, menuntun adiknya duduk di bawah lesehan yang biasa di pergunakan buat makan.
Ah, Abang
"Kenapa makin kurus, Abang kurang makan ya?" Mengusap-ngusap pipi lelaki di depannya yang terlihat semakin tirus.
"Tidak. Perasaanmu saja, mungkin." Naufal berpaling, beranjak duduk di dudukan kayu persegi empat yang terbuat dari bahan bambu itu memang biasa di pakai keluarga untuk tempat makan.
Gadis itu mengikutinya, juga bersandar pada dinding dapur yang tidak berkulit itu.
"Gimana kabarnya Kak Susanti?
Ah, gadis itu, pasti perasaannya sedang hancur. Tapi, kejujuranku telah menyelamatkannya dari jeratan kepalsuan. Dia tak pantas berharap cinta dari lelaki yang tidak mencintainya. Mungkin keputusnku terlihat jahat. Namun, aku yakin ini adalah keputuaan yang tepat
"Abang!" Bibirnya memberenggut.
"Ha, ia kenapa?" Pekikan adiknya memaksakan ia harus menarik lamunan ke alam nyata.
"Ck, tak ada siaran ulang, adanya siaran langsung,"ketusnya. Gadis itu malah manyun dan melipat tangannya di bawah dada, pura-pura marah karena telah diabaikan.
Membuat Naufal tergelak serta reflek mencubit hidung kecil yang terlihat kembang kembis memainkan peran ngambeknya.
" Hey, Sejak kapan Adiku Septi pintar merajuk? Tambah jelek aja kamu. Hahahaha "
"Hahahaha, Abaaang. kenapa kamu selalu mematahkan tingkahku, padahal kan aku lagi ngambek beneran." Gadis itu malah tidak bisa lagi berpura-pura marah, karena terlanjur tertawa.
__ADS_1
***
Katanya, hidup adalah sebuah pilihan. Bila ingin bahagia, maka bersyukurlah dengan apa yang telah dimiliki dan menerima sesuatu yang sudah terjadi. Dan bila sakit tetep menggerogoti, mungkin salah sendiri, kenapa tak mau berdamai dengan keadaan. Namun, seandainya segala sesuatu bisa dipilih. Susanti lebih memilih tetap memiliki hati Naufal dari pada putus dan berakhir di campakkan.
Ternyata benar, lebih baik di cintai dari pada mencintai. Meski dari dulu Susanti menyakinkan hati dengan menepis keadaan bahwa cintanya bisa di terima oleh Naufal, tapi ternyata keyakinannya terlalu tinggi hingga gadis itu tak menyadari harus membuat tangga untuk menuruni sebuah kenyataan. Karena sudah di ambang ketinggian. Kini ia harus rela, melompat dari tingginya harapan hingga membuat jiwa terhempas, hancur berkeping tak tersisa.
Tak ada yang bisa ia lakukan. Menangis pun juga sudah tiada arti. Entah apa kalimat yang tepat untuk dilontarkan pada kedua orang tuanya. Meski pura-pura tegar, tetap saja akan terbaca keresahannya.
Padahal sesungguhnya gadis itu tak mau terlihat rapuh di mata kedua orang tuanya. Walau mereka mengerti apa yag ia rasakan tanpa terucapkan. Sungguh, sakit ini hanya akan ia kuasa sendiri tanpa melibatkan rasa khawatir serta kasihan dari orang lain.
Matanya pun tak mampu untuk tak menangis. Berbagai pikiran muncul di benaknya, apakah Naufal sudah sampai? Mungkinkah lelaki itu sudah menyatakan kejujurannya pada nyah Rosidah juga Ibu dan Bapak? Yang pasti semua keluarganya pasti akan sangat kecewa mendengar pernyataan itu.
Kini ia harus menguatkan hatinya untuk menanti kabar dari kampung tentang statusnya. Dan menerima kenyataan apapun keputusan yang mereka ambil. Sudah cukup, air mata ini tak boleh mengalir lagi. Biarlah hidupnya berjalan dengan tanpa mengisi kekosongan hati yang baru saja hancur karena diterjang sebuah kenyataan.
"Galau teruuuusss." Tanpa permisi, Damenjo masuk ke kamar Susanti dan berceloteh tanpa merasa bersalah telah membuat penghuni kamar jengkel.
"Ck, apaan sih." gadis itu hanya memberenggut tanpa menghiraukan Damenjo yang semakin mendekati kasur yang sedang ia duduki.
Susanti tetap tak bergeming. Gadis itu malah semakin menenggelamkan wajahnya, membuat Damenjo sedikit mengerutkat alis dan tak mengerti dengan situasi yang sedang dia hadapi.
"Kak, sebenarnya ada apa sih?" tangan Damenjo terulur memegangi bahu Susanti yang sedang berguncang. Membuat lelaki remaja itu semakin bigung untu melakukan apa.
"Kak, apa Bang Naufal menyakitimu?"
"Hu ... U ... Hu ... U ...." Susanti malah semakin mengencangkan suara tangisnya. Membuat Damenjo kelabakan dan malah menggaru kepala yang memang tak terasa gatal.
" Ya elah, bisa gak sih kak jelaskan saja, gak usah nangis kayak bayi," sarkas Damemjo.
"Jo, apakah aku tidak cantik?" Sambil menyeka air matanya Susanti mendongak dengan wajah yang sudah memerah.
"Ha?" Damenjo tercengang masih mereka-reka apa yang sedang terjadi.
Susanti masih sesegukan menenggelamkan wajah yang masih setia mengeluarkan derai air mata.
__ADS_1
"Jadi sebenarnya, apa masalahnya?" Damenjo masih belum paham apa yang di maksud Susanti.
"Jawab aja! Gak usah banyak nanyak." Susanti malah ngengas dan membuat Damenjo tergelak dari rasa prihatin.
" Ya, ya menurut Jojo sih biasa aja." Jawabannya membuat Susanti semakin histeris mengeluarkan tangis. lelaki remaja itu membulatkan mata dan dengan lantang berkata, "Iya deh kak Susan cantik,"
Cari aman aja, Ucapnya dalam hati.
"Huaaaaaaaa ... "Bukan membuat tangis Susanti berhenti malah tangisnya semakin menjadi-jadi. Kan Damenjo jadi bingung untuk bersikap.
"Lah, lah, kok makin kenceng nangisnya?" Gegas damenjo membungkam mulut susanti sembari melihat ke arah pintu.
"Sssstt, kaaak. Kalo kakak gak berhenti menangis nanti malah dikira aku lagi yang membuatmu menangis sama ibu," lirih damenjo. Dengan sekuat tenaga Susanti melepaskan bungkaman di mulutnya. Dan memukul keras pada bahu Damenjo.
"Aaw, sakit kak," pekiknya.
" Biarin," Sungut susanti.
"Ah, udah deh, sekarang kakak berhenti nangis. Ambil nafaass ... Tahan ... Keluarkan," Ucap Damenjo seraya memperagakannya.
Perlahan Susanti memejamkan mata. Mengikuti saran dari lelaki remaja itu. Menyeka sisa air mata serta mengeluarkan ingus sekencang-kencangnya dengan kerudung yang dikenakan. Sungguh, gadis yang tak ada feminim-feminimnya sama sekali menurut Damenjo.
"Jo, apa kurangnya aku. Apa kesalahanku, apakah aku tak pantas untuk di cintai? Padahal kemaren dia membelaku. Menenangkan hatiku,"
"Kenapa Kejujurannya membuatku sesakit ini. Tak bisakah dia berpura-pura mencintai. Sungguh, aku tak sanggup dengan keadaan ini. Hiks ...." Damenjo tak dapat merespons kegundahan gadis itu. Dia memang tak pernah mengalami perasaan cinta, tapi
Mengapa hubungan orang yang jatuh cinta bisa serumit itu. Padahal bila memang tak dicintai bisa cari lagi.
" Ya, ya udah lah kak. Kalo sudah jelas gak usah diratapi juga. Emang apa gunanya coba nangisin lelaki yang jelas-jelas gak suka sama kamu, buang-buang waktu saja,"
"Kamu bilang begitu karena gak ngerasain apa yang aku rasain, Jo. Sakit!" Berteriak, gadis itu memukul-mukul dadanya sambil terisak.
Hening, hanya terdengar sesegukan dari Susanti yang menenggelamkan wajah pada bantal di pangkuannya. Tak ingin terlalu lama berada di situasi membingungkan, Damenjo beranjak lalu menepuk punggung yang masih bergetar itu, seraya berkata, "Sabar, kak." Keluar meninggalkan suasana mendung dari gerimis yang memilukan. Memmbiarkan terang perlahan mencuat tanpa sadar.
__ADS_1