
Di dalam perjalanan, seperti biasa, Hasan dan Zahira memang jarang bertegur sapa. Hasan yang cenderung kaku membuat Zahira tak berani asal bicara pada Bosnya itu. Perjalanan masih tetap hening. Hanya deru mobil yang memenuhi pendengaran mereka.
Sampai tiba saat suara handphone memecahkan keheningan di antara mereka. Dengan tangan satunya Hasan meraih benda berbunyi itu, serta mengangkatnya dan ditempelkan pada daun telinga.
"Ia, mah?"
" ... "
Tampak gurat kecemasan tersirat di wajah tampannya.
"Apa! Oke aku segera kesana sekarang."
Hasan melirik pada Zahira dan memutar balik kendaraannya.
"Maaf, Ra. Aku tak bisa mengantarkanmu ke kampus. Mama terjatuh dari atas tangga, dia sedang tak sadarkan diri sekarang. Aku akan turunkan kamu di tepi jalan sana," tunjuk Hasan sambil tergesa dengan kepanikan.
"Tidak Pak!" pekik Zahira. wajah Hasan langsung menoleh pada Zahira yang menolak di turunkan. Hasan mengerutkan kening tak mengerti.
"Hmm, maksudnya ... Biarlah aku ikut. Bapak, juga terburu-buru. Sekalian aku juga pengen liat orang tuanya." pintanya.
Entah kenapa Zahira malah ingin ikut dengan Hasan, padahal dia tidak begitu dekat dengannya. Namun, mendengar Bos sekaligus temen pacarnya itu lagi terkena musibah. Sungguh tak sopan bila hanya berdiam diri tak ikut berpartisipasi.
Meskipun bentuknya hanya sedekar ikut dengan Hasan dan melihat kondisi mamanya. Zahira rasa itu lebih baik.
Akhirnya mobil itupun sampai ke tempat tujuan. Dengan tergesa Hasan berlari masuk ke dalam rumah, hingga membuat Zahira terperanjat dengan bantingan pintu mobil yang tak sengaja dia lakukan.
Tampaknya Hasan tak sadar bila ada orang lain yang juga satu mobil dengannya.
Zahira mengusap dada karena jantungnya hampir copot. Diapun juga segera keluar dari mobil dan berlari mengikuti langkah Hasan yang sudah jauh dari pandangan.
Setelah sampai di dalam rumah, Zahira menjadi kebingungan mencari keberadaan Hasan. Nafasnya tersenggal, dia berhenti sejenak melihat kesekitar. Begitu banyak kamar di rumah mewah itu, tapi dia tak tau Hasan dan mamanya berada.
__ADS_1
"Aaah, sok soan mau ikut sih, jadi bingung sendiri kan setelah nyampek sini," desisnya. Dia mengembuskan nafas panjang agar nafasnya kembali teratur.
Untung, tak berapa lama, ada seorang perempuan paruh baya membawa minuman ke sebuah kamar. Dilihat dari penampilan, sepertinya dia adalah asisten rumah tangga. Gadis itu segara mengikuti langkahnya tanpa disadari perempuan pembawa nampan.
Benar saja. Terlihat Hasan duduk di tepi ranjang berada di ujung kepala orang tuanya, bersama seorang dokter yang sedang memeriksa pasien yang tengah berbaring disana. Zahira hanya berani melihat dari luar pintu.
Setelah selesai, dokter itu keluar dan wanita yang menurutnya adalah asisten rumah tangga itupun juga keluar.
"Eh, neng siapa? Temennya Tuan Hasan ya? Sudah, neng masuk saja." ucap Bi Inah. Sambil lalu berjalan entah kemana.
Zahira menganggukan kepala dan tersenyum. Namun, dia tak berani masuk tanpa izin yang punya rumah. Gadis itu melihat Hasan yang perhatian pada mamanya. Dengan lembut dia mengelus kepala yang sedang terbaring lemah disana.
Dia jadi teringat akan kenangan bersama ibunya sewaktu masih hidup. Saat dia menangis meminta eskrim tengah malam. Membuat sang ibu menjadi jengkel pada rengekan anaknya.
Namun, cara seorang ibu tak pernah habis untuk membujuk dan membuat anaknya tenang. Fatonah mengambil esbatu di dalam kulkas. Menghancurkan benda padat itu agar menjadi cair. Dia tuangkan lagi gula kristal bersama sedikit air pada gelas sedang.
Meski tak sesuai ekspektasi, tapi mampu membuat Zahira kecil berhenti merengek.
Puk!
"Eh, ia kenapa, Pak?" tanya Zahira.
"Mama lagi istirahat. Ayo kita keluar saja," bisik Hasan.
Lelaki itu berjalan dan diikuti Zahira di belakangnya, sampailah mereka di halaman belakang, terlihat banyak berbagai macam bunga dengan warna warni yang indah, pemandangan taman kecil itu mampu membuat mata Zahira takjub.
Mereka lalu duduk di gazebo yang terbuat dari kayu, warnanya coklat mengkilat dari cat plitur membuat tempat seperti panggung itu menjadi unik.
Masih tercipta keheningan di antara mereka, Zahira menjadi bingung sendiri berada didekat Hasan yang memang jarang terlihat senyumnya itu. Gadis itu sampai mereka-reka pembicaraan apa yang akan dia ungkapkan pada lelaki bermuka datar di sampingnya.
Akhirnya Zahira berencana berpamitan padanya, dari pada diam-diaman berdua bingung mau berbicara apa.
__ADS_1
"Pak, aku ...." Suara Zahira terhenti tatkala melihat tangan kanan Hasan terangkat seperti menyuruhnya berhenti melanjutkan kalimat.
"Aku ... Paling tidak bisa melihat Mama kesakitan dan menderita, seandainya boleh aku memilih, lebih baik aku yang jatuh dari tangga, bukan mama. Dia terlalu sering sakit. Aku tak tega melihatnya." Wajah tampan dengan khas berewok di wajahnya itu menjadi sendu. Lelaki itu juga tak mengerti dengan perasaannya. Rasa galau membuatnya membutuhkan teman dalam berbagi.
Apakah Pak Bos sedang curhat padaku? Sebegitu parahkah mamanya sampai dia bercerita padaku? Entah dia lakukan itu sadar atau tidak. Yang pasti, ikuti saja kemauannya dulu, batin Zahira.
Zahira masih tetap diam, perkataan Hasan masih mengandung banyak pertanyaan, dia tak mau salah kaprah dengan bertanya terlalu dalam tentang masalah pribadinya. Namun, sungguh dia sangat penasaran dengan kesedihan yang Bosnya rasakan.
Hening, Hasan juga seperti tak ingin melanjutkan bercerita. Wajahnya tetap datar meski terlukis banyak kesedihan di sana. Akhirnya Zahira memberanikan diri berbicara.
"Sabar ya, Pak, semua akan bahagia pada waktunya. Mungkin Anda masih Harus melewati berbagai cobaan agar kekebalan dalam diri Anda terasah. Sehingga meski halangan dan rintangan selalu menentang semua bisa di hadang," terang Zahira.
Mendengar perkataan Zahira, Hasan menoleh pada wajah cantik di sampinya. Wajahnya masih terpaku, hingga mereka sama-sama saling tatap. Mata Zahira menjadi berkedip, wanita itu merasa ada yang salah dengan yang dia ucapkan.
"Ke--kenapa, Pak?"
"Kamu tidak lagi berpuisi kan? Tanya Hasan, yang merasa ucapan Zahira seperti berirama.
"Tidak!" jawab singkat Zahira.
"Bijak banget sih kata-katanya, aku jadi ingin menangis," seloroh Hasan. Sambil tergelak. Kesedihannya sedikit berkurang, mutivasi yang Zahira ungkapkan terkesan lucu baginya.
Dahi Zahira berkerut, pipi dan ujung bibirnya terangkat. Dia tak mampu menahan ribuan kupu-kupu menggelitiki perutnya. Mendengar guyonan Hasan gadis itu malah cekikikan sendiri sambil memegang mulutnya agar tak terbahak.
"Lah, kamu kenapa? Tanya Hasan.
"Tidak, Pak. Cuma terbuai dengan lucunya bayang-bayang," ujar zahira sambil menekan perutnya agar berhenti terkikik. Melihat Bosnya tergelak dia merasa itu sangat lucu mengingat wajahnya selalu datar.
"Dasar tukang halu," ejeknya. Namun, tak bisa menyembunyikan senyum refleknya.
"gak papa dari pada tukang protes, haha," candanya, lidahnya dia julurkan, seperti anak kecil yang sedang menang beradu argumen dengan temannya. Tampaknya gadis itu lupa siapa yang sedang dia ajak bicara. Hasan pun membiarkannya.
__ADS_1
Tawa renyah yang terpancar indah, membuat mata lelaki itu berbinar. Senyumnya mengembang. Zahira mampu membuat perasaannya sedikit terlepas dari himpitan kekhawatiran.
Entah sejak kapan mereka berdua menjadi seakrab itu, keduanya juga tak sekaku dulu meski Hasan yang sering cuek, tapi dia mulai mengerti bahwa Zahira adalah gadis yang ceria.