
Lucu sekali, aku sampai mengikutinya ke taman, dasar! Gadis bodoh itu membohongiku. Lihat saja Nanti, apakah kau masih bisa berbohong pada bosmu ini.
Bodoh, entah siapa yang bodoh. Pantas saja gadis itu berbohong. Aku mengajaknya jalan pada saat dia ingin berpacaran dengan Naufal.
Sial! Karena terlalu lama ngejomlo, aku jadi sering memikirkan dia.
Hasan bermonolog sendiri di kamar yang terkesan mewah dengan dinding yang berwarna silver, serta perpaduan desain marmer dan kayu yang berada di ujung tempat tidur semakin membangun suasana kamar dengan cita rasa tinggi yang dipenuhi dengan kehangatan.
Tangannya ia lipat dibawah kepala untuk di jadikan alas tidur. Langit-langit kamar dengan warna abu-abu putih yang di padukan dengan warna biru menjadi fokus pemandangannya saat itu.
Dia memang menyukai pemandangan langit. Dengan melihat langit, kegundahan hidupnya seakan bisa terbang tinggi ke angkasa. Pemikiran yang konyol memang.
Tak heran jika kalsibot yang di jadikan gambar di plafon kamarnya dia cat menyerupai pemandangan langit.
Capek dengan eksplorasi pemikiran tentang Zahira, laki-laki itu mulai memejamkan mata, dia berharap besok pagi bisa melanjutkan hidupnya tanpa bayang-bayang seorang wanita.
***
Di kamar tempat tidur Susanti.
Gadis manis itu melompat-lompat kegirangan, dia tak berhenti berkaca dan tersenyum sendiri di kamarnya.
"Apakah jerawatku ini akan hilang, dalam waktu satu minggu?" tanya Susansi pada dirinya sendiri. Tanganya tak henti-hentinya mentoel benjolan kecil di dahinya.
Mendengar dia akan di berangkatkan satu minggu lagi ke jakarta, Susanti bahagia bercampur resah dengan jerawatnya yang mulai muncul karena sedang datang bulan.
Di jakarta, Susanti akan tinggal bersama sepupunya yang bernama Nur Halimah. Dia akan kuliah sambil bekerja membantu Nur dalam mengelola toko sembako miliknya.
Susanti mulai mereka-reka apa yang akan dihadiahkan untuk bertemu dengan Naufal. Dia membuka laci yang ada di bawah tolet tempat alat make up yang biasa dia gunakan berdandan.
Dia mendapati pecahan uang seratus ribuan lima lembar di dompet merah muda miliknya.
Uang segini bisa beli buat ya? batin Susanti.
Lamunannya terhenti saat mendengar derap langkah seseorang membuka pintu.
__ADS_1
Ternyata orang itu adalah ibunya. Susanti buru-buru memasukan uang yang sedang dia pegang ke tempat asalnya.
"Apa yang sedang kamu lakukan?" Zulaiha menatap wajah anaknya yang murung, seharusnya Susanti bahagia,kenapa malah jadi tidak semangat seperti itu, "Apa yang kamu rencanakan dengan uang itu? Selidik Zulaiha.
"Aku bingung bu, ingin memberi kejutan sama bang Naufal, tapi tak tau harus memberi apa, aku bahkan tak tau kesukaannya," jelas Susanti
Zulaiha paham bahwa anaknya sangat mencintai tunangannya, sekarang dia mengerti dengan keresahan Susanti. Wanita paruh baya itu tersenyum lalu memandangi sebuah tulisan kaligrafi arab yang sangat indah terpampang di dinding.
"Kamu kan pintar melukis, kenapa harus bingung, laki-laki tak perlu hal mewah. Apapun yang akan diberikan pasangannya dia pasti menyukainya."
"Sepertinya itu ide yang bagus bu, Ibu ... Kamu memang paling oke!." Wajah Susanti sudah kembali ceria, ibunya memang selalu ada dan sering kali mendukung apa saja yang diingini Susanti. "Oia, Ibu bilang apa sama bapak, kenapa dia jadi berubah pikiran?" tanya Susanti penasaran.
"Sudah lah, kau tak perlu tau, yang terpenting kan sekarang keinginanmu bisa tercapai, tapi ingat. Kamu harus belajar yang benar. Jangan samapai mengecewakan bapak," pesan Zulaiha.
"Ya, bu. Aku mengerti. Doakan aku suatu saat bisa jadi orang yang sukses. Aku pasti akan sangat merindukanmu Bu." Susanti berhambur kepelukan ibunya, dia menangis karena sebentar lagi akan jauh dari orang tua, tapi keinginan untuk kuliah di luar kota, menahan gejolak hatinya agar tetap pada pendirian awal.
Dia ingin belajar mandiri, dengan bertumpu pada kakinya sendiri, dia ingin membuktikan pada Naufal bahwa dia bisa.
Bisa menjadi Wanita yang tangguh dan kuat. Bisa sukses dengan usahanya sendiri.
Hey, bocah. Jangan bilang cinta, bila ingusmu saja masih dibersihkan orang lain. Ledek Naufal waktu itu.
Untung orang yang sangat dia cintai sekarang sudah terikat dengannya.
Meski harus melewati jalur perjodohan, Susanti tak peduli, dia akan berusaha menjadi yang terbaik di mata Naufal.
"Ibu keluar dulu nak, ingat jangan tidur terlalu malam!" tegas Zulaiha yang di angguki oleh anaknya. Dia lalu keluar meninggalkan Susanti dalam kamar sendirian.
Setelah itu, Susanti mulai berkutat dengan cat dan kuas kesayangannya. dengan cekatan dia menggambar wajah tunangannya di kertas putih yang tebal itu.
Belum selesai dia menggambar, matanya sudah sangat mengantuk. Beberapa kali dia mengerjap agar kantuknya hilang, dia ingin menuntaskan pekerjaannya saat itu. Namun matanya tak bisa diajak kompromi.
Dia melihat jam di pergelangan tangannya, yang menunjukan pukul sebelas malam, pantas saja dia mengantuk.
Biasanya jam segitu dia sudah tepar di atas tempat tidur. Akhirnya, dia memutuskan untuk tidak melanjutkan acara melukis. Dia memilih terlelap dengan mengeloni bantal guling.
__ADS_1
"Aaah, enaknya rebahan. Bang Naufal, tunggu kehadiranku disana! Tapi, bisakah malam ini kau hadir dalam mimpiku?" guman Susanti. Seolah lelaki yang sedang dirindukannya ada didepan mata.
Perlahan matanya ia pejamkan, dan setelah itu, terdengar bunyi hembusan nafas yang teratur. Gadis itu memang sangat mengantuk, hingga tak lama dia sudah berada di alam mimpi.
***
Satu minggu sudah hubungan antara Naufal dan Zahira berlalu, mereka pun juga mulai sering mesra. Meski Naufal hanya berani memegang tangan Zahira, dan tak berhenti memandangi wajah kekasihnya.
Setiap kali bersama Zahira, dia selalu merutuki ke konyolannya waktu itu, karena dia bilang tidak akan mencium Zahira sebelum dia jadi halal untuknya.
Munafik memang, tapi begitulah kenyataannya, tak ada cinta yang tanpa hubungan halal itu tidak di ikuti nafsu birahi, pasti akan ada gejolak di hati mereka untuk menyelami dosa yang mereka bina denga sebuah hubungan berpacaran.
Seperti pada saat itu, dimana mereka sedang berada di kontrakan Naufal.
Niat hati Zahira ingin menjeguk Naufal yang sedang Sakit, tapi berada berdua dengan Zahira membuat hati Naufal meronta-ronta menginginkan lebih dari biasanya.
Apalagi ketika melihat tingkah laku Zahira yang imut dan manja, sering kali laki-laki itu mengusap dadanya dan bilang sabar, sabar dan sabar.
Aaaah ... Senyummu membuatku tersiksa Zahira. jerit Naufal dalam hati.
"Za, bolehkah aku hilaf untuk bisa menciummu sekarang?" ucap Naufal.
Tangan lelaki itu tak berhenti memijit tangan Zahira yang hanya bisa dipegang olehnya.
Zahira menjadi salah tingkah dan wajahnya mulai memarah, yang tadinya duduk di bibir ranjang posisinya menjadi lebih bergeser kebelakang.
"kenapa, kamu takut?" Selidik Naufal.
"Jangan menjauhiku, kenapa sekarang kamu menjadi lebih banyak diam, apa kamu takut aku cium?" tambahnya lagi.
Dengan suara lembut dan dibikin segelisah mungkin, seolah dia sedang merajuk.
Zahira semakin bingung untuk menjawab tudingan dari Naufal. Mulutnya sampai tercekat untuk berbicara.
"Bu--bukan begitu, aku malu," tutur Zahira, dia memalingkan muka, agar ketegangannya tidak terlalu terasa oleh Naufal.
__ADS_1
Naufal tersenyum seraya duduk dan memegang bahu Zahira untuk dia putar menghadap pada wajahnya.
"Aku hanya ingin mendekatkan ini dengan ini." tunjuk Naufal pada bibirnya dan bibir Zahira.