
Naufal menjadi tidak enak hati pada Susanti, dia mengambil tissu yang berada di meja dan memberikannya pada gadis itu.
Dia juga bingung harus bersikap bagaimana pada tunangannya itu, hadirnya Susanti membuat hatinya gelisah, padahal dia sudah ada rencana pulang untuk menyelesaikan pembatalan ikatan pertunangan.
Kenapa malah ada adegan Susanti sampai bela-belain mengejarnya, dengan alasan dia ingin melanjutkan kuliah di jakarta.
Lelaki berkulit sawo matang itu khawatir, dengan datangnya Susanti ke jakarta, malah akan menghancurkan rencananya.
"Sudah jangan bersedih, kamu jelek kalo lagi nangis." Naufal mencoba menghibur Susanti dengan candaan, seraya mengelus kepala yang terbungkus dengan kerudung.
Meski dia tidak mencintainya, tapi lelaki itu juga menyayangi sepupunya itu.
Bukan berarti sebutan sayang pada kekasih, melainkan rasa sayang sebagai seorang kakak kepada adiknya.
Setelah merasa baikan, Susanti mulai menampakkan senyuman, gadis cantik itu memang gampang luluh, jika berhubungan dengan orang yang dia cintai.
"Maafkan aku bila sudah membuatmu tidak nyaman, harusnya kau tak perlu mengejarku sampai kesini, tujuanmu salah bila ingin menuntut ilmu karena ingin mengejar cinta, kembalilah, aku juga akan pulang suatu saat nanti," ujar Naufal.
Lelaki itu mencoba bernegosiasi pada Susanti, agar tunangannya itu tak menjadi penghalang bagi cinta yang baru saja dia bangun.
Ketakutan untuk tidak menyakiti hati kedua wanita sekaligus, membuatnya terpaksa menjauhkan mereka yang dia kasihi.
Mendengar penuturan dari Naufal, Susanti menggelengkan kepala tanda tidak terima dengan keputusan tunangannya itu.
"Kenapa Abang terkesan mengusir, apakah kehadiranku disini membuatmu tidak nyaman, ataukah ... Abang sudah berselingkuh di belakangku?" selidik Susanti.
Sial! Kenapa dia jadi memojokkanku.'batin Naufal.
__ADS_1
"Kamu tau! Bila kamu mencari ilmu dengan tujuan mengejar cinta, maka kamu tidak akan pernah memperoleh ilmu yang di cari, bisa jadi ilmu dan cinta tidak bisa kau dapatkan semua, jadi berhentilah bermain-main dengan akal konyolmu itu!" jelas Naufal.
"Aku kesini bukan hanya ingin mengejar cinta, tapi juga mengejar ilmu. Menyelam sambil minum air! bukan hal buruk bukan?" kilah Susanti.
"Tetap saja, kau memprioritaskan cinta ketimbang ilmu. Kalau memang kamu ingin mencari ilmu, kenapa harus susah-susah datang ke sini, di madura banyak kok Universitas. Pasti kamu ke sini hanya untuk bisa dekat denganku kan? Ayo ngaku!" tuding Naufal
Tentu saja tuduhan lelaki itu diiringi dengan candaan, agar gadis yang sedang bicara dengannya tidak tersinggung.
Benar saja, Susanti berdecak dan memanyunkan bibir, wajahnya tersirat kekesalan dengan tuduhan Naufal.
"Bang, Aku mencintamu!" ucap Susanti dengan logat manja. Dia membenarkan posisi duduknya dan meniup ujung kerudung di atas dahinya.
Sedang Naufal masih saja tak bergeming dengan ungkapan cinta Susansi, tentu saja lelaki itu tak heran, memang dari dulu gadis itu sering mengucapkan padanya,
"Aku datang kesini ingin membuktikan padamu, kalau aku bisa mandiri, dan bisa sukses dengan jerih payahku sendiri, aku tak mau kau meremehkan dan menganggapku masih kecil, Sukses hanya bisa didapat bila kita memulai, bukan berdiam diri menunggu datangnya ke ajaiban, jadi tolong Bang, biarkan diri ini menata lika-liku hidup tuk mencapai suatu tujuan," Sambung Susanti.
Gadis cantik itu sampai menggenggam rok merah muda yang sedang dia kenakan, seolah dia bersunggu-sungguh dengan yang dia ucapkan.
Mungkin, dia akan memikirkan langkah selanjutnya yang akan dia ambil semisal Susanti bertemu dengan Zahira, tapi untuk saat ini, dia tak bisa berpikir jernih dalam mengambil tindakan antara hubungan yang rumit itu.
***
Sore hari di bengkel.
Naufal tidak konsen dengan pekerjaannya, dia memikirkan permintaan Susanti yang ingin masuk ke universitas yang sama dengan dirinya. Dia tak bisa membayangkan bila Susanti bertemu dengan Zahira. Lelaki itu belum siap bila hubunganya terbongkar terlalu cepat.
Sungguh keadaan yang tidak menguntungkan, di saat yang bersamaan, Zahira dan Susanti malah mengajak dirinya jalan di malam mingguan.
__ADS_1
"Nih mas, ongkosnya. Lain kali kalo kerja jangan ngelamun, lelet banget sih nembel, biasanya juga gak gitu," gerutu seorang lelaki yang sering menjadi pelanggan di bengkel tersebut, tampaknya lelaki itu sedang terburu-buru, dengan cepat pelanggan itu menbayar dan membelokan sepedanya.
Dengan perasaan dongkol, Naufal hanya bisa tersenyum kaku dan mendengus kasar. Lelaki itu pergi membersihkan tangannya lalu pergi duduk
"Aku yang lelet apa dianya yang terburu-buru?" sarkas Naufal pada diri sendiri. Lalu mengusap wajahnya kasar.
"Kenapa?" tanya seorang lelaki yang duduk tak jauh dari Naufal.
"Lagi bingung, aku berasa mempunyai kekasih sekaligus selingkuhan, di saat yang bersamaan mereka berdua mengajakku keluar malam mingguan," keluh Naufal. Dia sampai memijit dahinya yang terasa pening.
"Lah, terus kalo itu tidak dikatakan mendua, lantas mau dibilang apa?" Hasan tergelak dengan penuturan temenya yang menurutnya konyol, sedang Naufal hanya bisa berdesis dengan perkara yang dia ungkapkan.
"Makanya, kalau sudah punya tunangan, gak usah sok berpacaran. Cinta memang indah, tapi yang lebih indah menghindar dari cinta yang nantinya akan berbuah menyakitkan," tutur Hasan sambil bersidekap dengan gaya coolnya.
"Sok bijak banget kamu! Mending Sakit hati gegara cinta, dari pada kamu yang hidup tanpa cinta bagai taman tak berbunga, dengan cinta hidup kita jadi berwarna," ejek Naufal.
Ucapannya tak kalah menusuk bagi seorang Hasan yang masih setia dengan status jomlonya.
"Breksek! Kau menghinaku?" Hasan yang tempramental memang gampang tersulut emosi.
Sedang Naufal, pipinya mengembung berusaha menahan tawanya agar tidak pecah melihat sahabatnya masuk dalam perangkap. Namun, ternyata lelaki itu seperti merasakan banyak kupu-kupu menggelitiki perutnya.
Dia tertawa terbahak-bahak melihat wajah Hasan memerah menahan amarah.
"Hahahaha, kalo hanya berargumen, siapa saja bisa. Cobalah, sehari saja jadi aku, yakin seratus persen, kau gak bakalan kuat!" seru Naufal. Meski Hasan adalah bosnya, lelaki itu memang tak bersikap layaknya bawahan, karena pada dasarnya mereka adalah sahabatan.
Naufal menyombongkan diri dengan cinta yang dia miliki. Hasan yang melihat tingkah Naufal berdecih dan memutar bola matanya jengah.
__ADS_1
"Ini takdir yang perlu dijajaki bro, menjadi orang yang spesial bagi mereka yang mencintiku, merupakan kebanggaan tersendiri bagiku. Yah, meski perjalanannya berat," sambung Naufal. Entah mengapa pikirannya kembali kacau.
Hasan tersenyum sinis melihat raut wajah Naufal, meski tadinya dia tersenyum, tapi seperti ada beban besar dikepalanya. Itulah yang Hasan gambarkan dari kehidupan sahabatnya itu.