
Setelah lama Naufal bercengkrama dengan masalah siapa yang akan ikut dengannya di malam minggu, dia memutuskan untuk lebih memilih bertemu dengan Zahira.
Lelaki itu tak mau kekasihnya itu kecewa, dia beralasan pada Susanti bahwa dirinya tidak enak badan.
Susanti yang menerima chat dari Naufal menjadi kecewa, kerena niatnya yang ingin bertemu dengan Naufal, hanya ingin memberikan hadiah yang saat itu dia buat sendiri.
[Nanti malem, aku jemput.]
Pesan singkat yang dikirim Naufal telah sukses terbaca oleh Zahira, lelaki itu tersenyum saat balasan gadis itu berupa stiker bergambar jempol.
Malam harinya, Naufal bersiap-siap untuk pergi menjeput Zahira. Tak lupa lelaki tampan itu mengenakan baju yang terbaik menurutnya, setelah dirasa cukup mempesona, dia semprotkan lagi parfum yang memang tadi dia sudah semprotkan pada tubuhnya.
Lelaki itu bergegas pergi mengendarai sepeda motor supravit yang menjadi kesayangannya. Naufal berpikir, meski kadang terbesit untuk membeli sepeda motor yang baru, dia memang tak punya niatan menjual motor bututnya itu.
Terlalu banyak kenangan tersimpan di memory otaknya, tentang bagaimana dia memperoleh sepedanya itu.
Sebelum dia dulu bertemu dengan Hasan sahabatnya, lelaki yang asalnya dari desa itu membeli sepeda dengan hasil menabung dari mengamen untuk memudahkan perjalanannya menuju ke kampus.
Tet! Tet! Tet!
Bunyi klakson dari pinggir kanan jalan membuyarkan lamunan Naufal, yang sedari tadi mengingat tentang masa susahnya.
Dia menoleh ke kanan jalan, ternyata dibalik kaca mobil adalah Hasan. Lelaki itu tersenyum dan langsung memelankan laju motornya.
"Mau kemana?" teriak Hasan. Dia juga memelankan laju mobilnya ditengah ramainya jalanan ibu kota.
"Pacaran!" Naufal tak kalah menyaringkan suaranya agar terdengar oleh si pengendara yang berada di samping.
Hasan yang mendengar penuturan Naufal mendengus dan segera melajukan mobilnya dengan cepat.
Naufal terkekeh, melihat wajah sahabat yang setia ngejomlo itu menjadi masam.
Setibanya Naufal di depan rumah Zahira, laki-laki itu mengucapkan salam dan mengetok pintu.
Tak lama, seorang di dalam membuka pintu, Naufal sedikit kaget. Ketika yang membuka adalah seorang laki-laki paruh baya yang dagunya dipenuhi dengan jenggot tipis beserta kumis yang berada di atas bibirnya.
Meski Naufal tidak pernah bertemu langsung dengan lelaki yang ada di depannya, karena selama dekat dengan Zahira dia memang tak pernah berani menemui orang tua Zahira itu. tapi dia yakin bahwa pria ini adalah Ayah Zahira.
__ADS_1
Perlehan Naufal mengatur nafasnya agar tidak terlihat gugup, dia pasang senyum semanis madu, agar orang tua di depannya memudahkan tujuan dia datang kesana.
"Selamat malam Om." Tangan Naufal terangkat untuk menjabat dan mencium tangan Ayah dari perempuan yang di cintai.
Sangat terasa sekali bahwa tangan Naufal begitu dingin, mengalahkan dinginya wajah lelaki paruh baya yang ada didepannya, yang memang sedari tadi datar tak menampakkan senyuman.
Ayah Zahira menerima jabat tangan itu dan masih menanti apa yang akan di ucapkan Naufal selanjutnya.
"Maaf, Om. saya mengganggu malam-malam. Zahiranya ada, Om?" tanya Naufal.
"Apakah kamu ingin mengajak Zahira keluar rumah?" Tanpa basa-basi Ayah Zahira langsung menanyakan tujuan Naufal.
"I--ia, Om. Bolehkah?" Dengan harap-harap cemas, Naufal menanti jawaban.
"Silahkan masuk!"
Ayah Zahira melebarkan pintu yang sedari tadi terbuka separuh meski dia sedang berbicara dengan Naufal. Dengan mengeluarkan nafas teratur, dan mengusap dadanya, Naufal memasuki rumah kekasihnya dengan perlahan.
"Apa hubunganmu dengan Zahira? Wajah Ayah tetap saja datar dan terlihat mengintimidasi.
"Saya ... adalah pacar Zahira, Om." Meski ragu, Naufal tetap mengakui hubungannya dengan Zahira.
"Ayah, Naufal, kamu sudah datang." Zahira berjalan menghampiri dua lelaki yang sedang duduk berhadapan.
"Ini, Yah. Laki-laki yang aku ceritakan itu," ujar Zahira dengan khas senyumannya.
Zahira lalu duduk di samping Ayah, denga menatap Naufal dan Ayahnya bergantian.
"Apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya Zahira. Sambil menopang tangan dibawah dagunya.
"Apalagi, ya kamu lah," ucap Ayah.
Zahira memanyunkan bibir, lalu setelahnya birbirnya melengkung membentuk senyuman. "Aku lupa, kalau disini hanya aku yang akan menjadi pokok permasalahan, hehe." Zahira cekikikan dengan omongannya sendiri, dan seketika pandangannya teralihkan pada jam diding di ruangan itu.
"Ayah, kami berangkat ya, udah jam delapan, kudu cepat-cepat berangkat ini, biar pulangnya gak kemaleman." Zahira memegang tangan ayahnya untuk dia cium, dan menarik lengan Naufal yang sedari tadi duduk dengan canggung tak tau apa yang mau dibicarakan.
Ayah Zahira mengizinkan mereka keluar rumah dengan catatan Zahira tidak boleh pulang lewat dari jam sembilan malam.
__ADS_1
Di perjalanan, Zahira menceritakan kedekatan dirinya deng sang ayah, bahkan gadis itu sudah bercerita banyak tentang seorang Naufal pada ayahnya.
"Aku kira, Ayahmu tak menyukaiku. Aku tadi jadi khawatir jika si camer gak bakal ngijinin anaknya dibawa keluar."
"Haha! Pantesan, aku lihat tubuhmu kaku banget tadi, tenang aja, Ayah gak bakal ngelarang aku deket dengan siapa. Yah asal pesannya, aku tetap tau batasannya gitu," ucap Zahira
Setelah sampai pada tempat tujuan, mereka berdua mencari tempat duduk yang nyaman.
Tanpa sengaja mata Naufal melihat Hasan juga sedang berada di sana juga.
Naufal memanggil Hasan, mengajak dia buat bergabung dengannya.
Hasan yang sibuk dengan laptop dan secangkir kopi di sebelahnya, menjadi menoleh ke asal suara yang sedang memanggil.
"Apakah kalian tak punya tempat lain, selain berpacaran disini?" desis Hasan pada kedua pasangan sejoli yang sedang berjalan mendekatinya.
Naufal tertawa melihat wajah Hasan menjadi suram, dia memang sengaja memperlihatkan kemesraannya pada sahabat yang masih setia dengan tatus jomblonya itu.
Sedang Zahira menjadi tidak enak hati bertemu dengan bosnya dikala sedang berdua dengan Naufal. Meski si Bos adalah sahabat pacar sendiri.
Apalagi dia tak sedekat itu dengan si Hasan, bila sampai bisa bergabung satu meja dengannya, tapi Naufal memaksa untuk menghampiri si bos.
Zahira mengingat waktu itu, dikala bosnya mengajak dia jalan sebagai penebusan hukuman, gadis itu malah berbohong untuk bisa berjalan dengan kekasih yang sekarang berada di sampingnya itu.
Zahira juga Heran, kenapa si bos setelah kejadian itu serasa menghindarinya dan sikapnya menjadi semakin dingin saja, tapi gadis itu tak mempedulikan perubahan dari sikap Hasan, yang terpenting gajinya lancar.
Hasan yang sedari tadi memang sibuk dengan laptop, tak ingin menghiraukan dua sejoli yang sudah duduk satu meja dengannya.
"Apakah aku seburuk itu hingga kau tak mau memandang ke arahku?" tanya Naufal. Yang merasa kehadiranya tidak diinginkan oleh Hasan.
"Pergilah, aku tak ingin melihat kemesraan Pasangan lebay seperti kalian." Pandangan Hasan tetap fokus pada benda yang berada di depannya.
Tanpa meminta ijin terlebih dahulu, Naufal menutup laptop, dan dengan santai tanganya bersidekap di depan dada.
"Berhentilah dulu, lihatlah wajahku, apakah aku terlihat bahagia?" goda Naufal.
Hasan memutar bola matanya jengah. Setelah netranya di paksakan untuk menghadap ke depan, tiba-tiba saja dia tersenyum smirk dan menarik kepala Naufal dengan mendekatkan mulutnya ketelinga Naufal.
__ADS_1
Wajah Naufal menjadi pias, sedang Hasan meniru gaya Naufal, tangannya juga dia sedekapkan didepan dada.