
"Jadi, dia adalah gadis yang kamu suka?" hasan bertanya pada seorang lelaki yang sedang sibuk memperbaiki mesin mobil, tangan nya dengan cekatan membolak balikan peralatan yang sedang dia pegang.
"Yeah begitulah," perhatian nya tetep fokos dengan apa yang sedang dia kerjakan. Tak peduli ekspresi lawan bicaranya yang ingin mengajak serius berbicara.
"Ceroboh" ucap hasan dengan santai seraya menyesap kopi susu yang ada di meja tempat pelanggan biasa duduk,senyum nya sinis seolah dia mengejek seseorang yang sedang di bicarakan.
"Apa maksudmu?" naufal tidak terima dengan penuturan hasan, sampai dia menghentikan aktifitas kerjanya. Pandangannya beradu dengan netra hasan yang tajam.
"Yah, pertemuan kita di awali dengan keteledorannya, dia menumpahkan minuman ke bajuku. Dan … "
"Dan apa?"
"Buhahahaha, kenapa kamu menjadi orang yang tidak sabaran kalau berhubungan dengan gadis ceroboh itu!. Hasan terpingkal-pingkal melihat ekspresi naufal yang tampak nya kesal dengan ucapan nya.
"Hey!, bicaralah yang benar brodher , atau benda yang ku pegang ini akan membuat kepalamu sakit," menunjukan alat obeng yang sedang dia pegang.
"turunkan tangan sialan mu itu , aku tak tertarik dengan bualan mu, heh.
Ahirnya naufal berhenti dengan kegiatan nya. Dia lebih tertarik berbicara tentang zahira. Dia berjalan menghampiri hasan yang sedari tadi duduk santai tak terintimidasii walau sempat emosi naufal naik pitam.
"jadi seperti apa dia menurutmu?" tanya naufal
"Dia cantik" masih dengan mode santai menanggapi, sibuk dengan menikmati rokok yang sedang di apit dengan kedua jari kirinya.
"Hey, jangan memandangnya walau hanya se detik. Nanti kamu malah tertarik." tegas naufal memperingatkan.
__ADS_1
"Aku tak suka gadis ceroboh" ucapnya mantap.
"Suatu saat kamu akan terpesona dengan sifat aslinya …" berdiri melanjutkan pekerjaanya yang tertunda."silahkan kamu pergi, mobilnya sudah selesai ku perbaiki."
"Sialan, kamu mengusirku?" tanyanya dongkol.
"Entah lah …" naufal mengangkat kedua bahunya seolah tidak merasa bersalah karna sudah mengusir sahabat sekaligus bos nya itu.
"Semoga saja aku tidak khilaf memotong gajimu nanti" ucap hasan dan berlalu pergi meninggalkan naufal yang wajah nya sudah berubah masam.
***
Keesokan paginya setelah zahira menyelesaikan pekerjaan dapur serta beberes rumah. Dia memutuskan untuk pergi ke pasar karna hari ini dia tidak ada jadwal pergi ke kampus, di restoran saja dia kerjanya ambil shif sore. Jadi dia gunakan hari ini untuk berbelanja keperluan dapur, sebelum berangkat tak lupa dia berpamitan padaayahnya yang hendak berangkat bekerja.
Zahira berlalu pergi dari pandangan ayah nya. Di depan rumah zahira di kagetkan dengan adanya naufal yang sedari tadi menunggu dengan sepeda supravitnya. senyum zahira terkembang,dia menutup pintu dan langsung menghampiri si empunya motor supravit.
"Lagi ngapain?" sapanya kepada lelaki yang ada di depan nya. Zahira seolah tidak peka dengan kehadiran naufal.
"Lagi liatin tetangga sebelahmu yang body nya aduhay itu, dimana dia? Jawab nya. Wajah zahira seketika menjadi masam, dan beranjak pergi meninggalkan naufal.
Sebelum zahira jauh melangkah kan kakinya, lelaki tampan dan berkulit sawo matang dengan tinggi 174 itu menghentinkan langkahnya.
"Aku cuma bercanda, kamu cemburu ya?" ucap naufal menggoda.
"Memang, aku bilang cemburu? Zahira balik bertanya. Sebenarnya dia hampir cemburu tadi. Tapi dia sadar, dia belum terikat pacaran dengan Lelaki yang sedang berbicara dengannya itu.
__ADS_1
"Tapi kenapa ya, Aku senengnya kamu cemburu aja." ucapnya lagi, menggoda. Tak bisa Zahira pungkiri, hatinya memang selalu senang kalau digoda oleh Naufal. Lelaki itu memang tak pernah mengungkapkan perasaannya, tapi dia terlalu perhatian buat di katakan menjadi seorang sahabat."sebenarnya aku kesini, ingin bertemu dengan mu" ucapnya lagi.
"Tapi sekarang aku lagi ingin keluar, pergi kepasar. Jadi bertamunya nanti aja pas aku sudah pulang," ucap zahira, masih terkesan cuek, untuk menutupi kebahagiaan nya karna kehadiran lelaki yang yang sedang ada di depan nya itu.
"Ya sudah naik, aku anter kemana saja kamu pergi" tanpa menunggu lama zahira langsung menghampiri sepeda yang tidak jauh dari langkah kakinya tadi, naufal mulai memasukan kunci sepedanya untuk menghidupkan mesin yang memang hanya muat untuk dua orang saja yang bisa duduk di atasnya."pegangan, aku tak mau tanggung jawab kalau tiba-tiba kamu jatoh." di tariknya tangan yang putih nan halus itu untuk di lingkarkan ke perutnya, jantung Zahira terasa terpompa lebih cepat, wangi parfum lelaki yang ada di depan nya semakin terasa menyengat di hidungnya, Naufal memang selalu tampil rapi dan wangi kalau akan bertemu dengan zahira.
Zahira sadar bahwa Naufal sengaja memelankan laju motornya, agar bisa berlama-lama berduaan dengan nya. Dan hal itu tak jadi masalah buat zahira, karna dia senang bisa menikmati berduaan di pagi hari bersamanya.
Tiga puluh menit berlalu ahirnya mereka sudah sampai di tempat tujuan, setelah zahira turun dari motor, naufal bergegas memarkirkan motornya, cepat-cepat lelaki itu membuntuti zahira dari belakang."kenapa tidak di tunggu di luar?" tanya zahira.
"Tidak papa, sekalian buat bantu kamu pegangin belanjaan" jawab nya. Ahirnya Zahira hanya mengangguk pasrah dengan keinginaan Naufal, lelaki itu memang sangat baik padanya, hingga buat tagihan belanjaan zahira saja di bayar semua olah Naufal. Zahira sempat menolak niat baiknya. Tapi naufal bersikeras untuk membayar tagihan belanjaan.
"Ini gak papa kamu yang bayarin semua?" tanya zahira, seolah tidak enak dengan yang naufal berikan, padahal hatinya sudah seneng bnget ada yang bayarin belanjaanya.
"kamu seneng kan?" tanya naufal, sambil memerhatikan mimik wajah perempuan yang ada di samping nya.
"I--iya seneng sih" tiba-tiba saja zahira menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal. Dia berfikir kenapa naufal bisa bertanya se upsurd itu sih,se detik kemudian tawa zahira pecah."Buhahahha di lain waktu lagi ya seperti ini, aku seneng deh" sudah ketahuan basah lebih baik nyempluang aja fikir zahira.
"pasti, tapi setelah melalui ijab kabul" ucap naufal menyeringai, sambil mengerlingkan matanya menggoda zahira.
Zahira tak mampu menyembunyikan kegembiraannya. Wajah nya sudah memerah menahan malu, dia tertawa sambil menutupi wajahnya.
"Sudah tak perlu di tutupi wajahnya. Aku tau kamu bahagia, karna perasaanku pun juga sama," ucap naufal lagi, zahira memalingkan wajahnya dia tidak mau kelihatan grogi karna naufal selalu membuatnya merona. Dengan segera zahira menarik tangan besar itu yang selalu setia mengikuti kemana langkahnya pergi.
Setelah di rasa cukup menghitung semua belanjaan, ahirnya mereka Berdua memutuskan untuk pulang.
__ADS_1