
Kei berbalik ke samping, tersenyum sopan ke arah Sean dan Lazarus.
Lazarus menghampirinya.
Kei berdiri menundukkan kepalanya memberi hormat pada Lazarus, "Halo, paman. Saya Kei, teman putra Anda di kampus."
Sean membelalakkan matanya menatap tak percaya pada Kei, sejak kapan mereka berdua berteman?
Lazarus tersenyum lebar, terkesan akan kesopanan pemuda di depannya. Begitu berbeda dengan putranya Sean.
Lazarus menepuk bahu pemuda yang mengaku bernama Kei itu, "Terimakasih, kamu teman yang baik. Sudah jujur dengan memberikan kesaksian untuk putraku."
Kei tersenyum, "Sama-sama Paman, orang tua saya mengajarkan jika teman sedang dalam kesulitan, kita harus membantu mereka."
"Orang tuamu pasti bangga mempunyai anak sepertimu, nak."
Bangga katamu Lazarus! Tentu saja aku akan membuat Ibuku bangga dengan membalas dendam padamu!
__ADS_1
Polisi juga sudah memperbolehkan Kei pulang, jika polisi masih membutuhkan keterangannya lagi, nanti Kei akan dipanggil oleh mereka.
Lazarus berjalan bersama Timothy di depan, Sean sengaja berjalan lambat di belakang mendekati Kei. Sean menarik lengan Kei agar mendekat, ia berbisik padanya. "Hei! Apa maumu dengan berpura-pura jadi temanku, kau bahkan memberikan kesaksian dan bukti palsu! Apa akibatnya nanti jika polisi tau itu palsu! karena semalam aku tak merasa bersama denganmu!"
Kei tersenyum sinis, memandang rendah Sean tanpa disembunyikan, "Dasar anak papa bodoh! Untuk apa aku memberikan kesaksian dan bukti palsu, hidupku terlalu berharga hanya untuk menolongmu dengan berbohong. Malam itu kau setengah mabuk, dan aku disana menjadi pelayan pembawa minuman. Kau mengenaliku lalu mengejekku, bukan hanya itu saja kau juga memaki dan menghinaku. Saat itu lah kau memaksaku berfoto tapi kau salah mengambil ponsel, kau malah mengambil ponselku lalu memfotoku bersamamu untuk diperlihatkan pada teman-temanmu. Kau berkicau jika aku bukanlah asli orang kaya, hanya seorang pelayan minuman yang kau bayar! Kau sama sekali tidak ingat?"
Seketika ingatan tentang perkataan Kei barusan menyerbu kepala Sean, benar saja ia memang memaki dan menghina Kei karena dia menjadi pelayan disana.
Sean merasa malu, orang yang telah dirinya hina dan maki malah yang membatunya dalam kondisi sekarang, sedangkan teman-temannya tak satupun datang untuk membantunya.
Lazarus tak mendengar jelas percakapan keduanya, hanya mendengar bisik-bisik tapi terdengar olehnya kata-kata kau memaki dan menghinaku dari mulut pemuda tadi yang bernama Kei.
Saat akan masuk ke dalam mobil, Lazarus berbalik ke arah Kei. "Nak naiklah, ikut kami ke rumah, aku ingin berterimakasih."
Timothy membuka pintu depan, tempat duduk di depan masih kosong mempersilahkan Kei masuk.
"Apa saya tidak akan menganggu Anda, Paman?"
__ADS_1
Lazarus tersenyum, "Kamu adalah penolong putraku, mana mungkin menjadi penganggu. Istriku pasti akan sangat bersyukur dan akan terus menggangguku jika aku tak membawamu. Jadi, naiklah."
Lazarus tau sifat istrinya, jika sekarang ia tak membawa penolong putranya pasti dirinya akan terus dibaweli Angela.
Kei akhirnya masuk, duduk dengan tenang di kursi depan samping Timothy.
Timothy segera menginjak pedal gas, melajukan mobil menuju Harem.
Sedangkan di rumah Angela berjalan mondar-mandir, perasaannya tak tenang memikirkan putranya.
Samantha, Louis dan Callista ikut murung, bagaimanapun kelakuan Sean kakak mereka diluar sana, tapi perlakuan Sean pada mereka bertiga sangat hangat layaknya kakak yang baik. Sean selalu ada disaat mereka membutuhkan, bagi mereka bertiga sosok Sean tetap seorang Kakak yang terbaik.
.
.
.
__ADS_1
LIKE, KOMEN, GIFT & VOTE.