
Dua tubuh berbeda gender sedang bergumul penuh nafsu di atas ranjang berukuran king size, tubuh berkeringat mereka berdua saling membelit dan bergerak liar. Sang pria mengerang puas saat hasratnya terpenuhi, sedangkan sang wanita tersenyum puas bisa memuaskan nafsu sang pria.
"Vincent, apa kau tidak apa - apa saat nanti aku harus bersama Lucas? Bukankah peran kami nanti adalah sepasang kekasih? Tidak masalah jika Lucas menyentuhku, tapi jika dia ingin meniduriku bagaimana?" tanya Irene, jarinya sibuk mengelus - ngelus dada berbulu kekasihnya.
"Kau bahkan sudah dipenjara dan disiksa Lazarus, apa kau tidak ingin balas dendam?" Vincent tak menjawab tapi malah balik bertanya, ia menyesatkan pikiran Irene.
"Benci! Tentu saja aku ingin balas dendam! Tapi, apa aku harus benar - benar menjadi kekasih sungguhan Lucas?" tanya wanita itu kembali.
"Harus! Ingat Irene, aku juga masih belum memaafkanmu karena membocorkan teman Yakuza-ku di Jepang. Untung aku bisa mencegah David menemukan putrinya! Jika David berhasil, kau pasti sudah aku bunuh! Jadi ikuti saja perintahku!" tegas Vincent tanpa ampun.
Irene tak punya pilihan, ancaman dari Vincent saat dirinya berhasil ditemukan pria itu sudah memaksanya kembali ke tepi jurang. Jika ia tak menuruti keinginan Vincent, ia tau pria itu benar - benar akan membunuhnya.
"Baiklah, aku akan menjadi kekasih Lucas."
Vincent akhirnya tersenyum senang, setelah rencana mereka berhasil ia akan mengusir Angela beserta anak - anaknya keluar dari Harem atau jika melihat sifat Angela yang tidak tahan akan pengkhianatan sepertinya wanita itu akan keluar Harem dengan keinginan nya sendiri.
.
.
.
Lazarus berjalan perlahan di sepanjang jurang, ia beberapa kali akan terjatuh. Tapi dia tetap semangat menyusuri area hutan jika memikirkan putrinya yang lost contact sejak mereka menghilang.
"Halo, halo... Sam! Kau mendengarku?" Lazarus menelepon melalui handy talky karena mereka tidak bisa memakai ponsel di dalam hutan, jaringan ponsel disana tidak tersedia.
__ADS_1
"Ya, aku ada!" jawab Samuel.
"Aku akan menyisir daerah hutan yang jurangnya semakin dalam, aku titip Sean bersamamu. Disini sangat berbahaya!" lanjut Lazarus.
"Dad! Aku ingin tetap bersamamu! Bagaimana jika sesuatu terjadi padamu?" Sean menolak.
"Nak, itu lah kenapa aku mengirimmu pada pamanmu Samuel. Jika sesuatu terjadi padaku, kau harus menjaga Mommy dan adik - adikmu menggantikanku! Jika kita bersama, jika ada apa - apa bagaimana kau akan mencari adikmu Samantha! Daddy mohon, jangan membuat Daddy mengulangi ucapan Daddy!"
Untuk pertama kalinya Sean menangis setelah berubah menjadi pemuda besar, ia memeluk Ayahnya erat, "Pastikan kembali, Dad. Aku menyayangimu!"
Lazarus pun berpisah dengan putranya Sean membagi dua anak buahnya, setelah Sean aman bersama Samuel ia baru melanjutkan perjalanannya menyusuri hutan disekitar jurang yang agak dalam.
.
.
.
"Bagaimana situasi Lazarus?" tanya Kei tak sabar.
"Dia sudah mulai memasuki kawasan hutan bagian jurang yang dalam, putranya Sean sudah dia titipkan pada tim Samuel."
"Sayang sekali, ckckck. Andai Sean bersama Ayahnya, mereka akan binasa sekaligus! Tapi tak jadi masalah, Sean hanya seorang manusia lemah aku akan mudah menghadapinya." Kei tersenyum jahat.
"Bagaimana selanjutnya?" tanya sang anak buahnya lagi.
__ADS_1
"Jebakan yang sudah disiapkan, jaring dan galian sudah siap, bukan?" tanya Kei.
"Siap, Ketua."
"Bagus, setelah Lazarus tak sadarkan diri bawa tubuhnya kepada Pamanku, Vincent. Dia sudah datang ke Negara ini beberapa hari lalu, kalian tau Vila-nya bukan?"
"Ya."
"Jika Lazarus masih bertahan dan masih sadar, tembak dengan obat bius jangan memakai peluru. Pamanku dan aku ingin menyiksanya lebih dulu sebelum kami membunuhnya!"
"Baik!"
"Pergi!"
.
.
.
Lazarus melenguh kesakitan, saat ingin bergerak kedua tangan dan kakinya tak bisa digerakkan. Tubuh telentangnya terikat rantai besi di sekujur tubuhnya, jika ia bergerak sedikit saja membuat rantai besi menggesek kulit terlukanya.
"Arghhtt...." er4ngnya kesakitan, saat ia mencoba kembali bergerak.
Tap... Tap... Tap...
__ADS_1
Suara langkah kaki menggema di ruangan itu, Vincent dengan wajah arogan tersenyum sinis menatap saudaranya satu Ayah itu telentang terbelit rantai besi mengerang kesakitan.