
Ryo masih menundukan kepalanya, ia belum berani menatap Samantha.
"Bicaralah, setelah itu pergi obati lukamu. Lalu jangan pernah menunjukkan wajahmu lagi di depanku," ujar Samantha.
Akhirnya Ryo mengangkat wajahnya, ia ingin mengatakan jika ia sudah berhasil menemukan Ayah gadis itu tapi ia baru sadar jika Samantha belum tau jika Lucas menyamar menjadi Tuan Lazarus. Ia menelan kembali perkataan yang akan keluar dari mulutnya, "Maaf, maafkan aku," ia hanya bisa mengucapkan kata maaf.
Samantha menatap wajah Ryo yang terluka, "Aku sudah lama memaafkanmu, saat Hazel berkata jika kau yang membantu penculik aku sebenarnya sudah tau. Aku sudah curiga saat kalian berkelahi di luar mobil, penculik - penculik itu seperti enggan memukulmu. Tapi aku masih berpikir positif tapi saat salah satu penculik itu berbicara padamu dalam bahasa jepang, aku langsung tau jika kau adalah komplotan mereka. Selama ini aku diam - diam selalu mempelajari berbagai bahasa di dunia, tidak ada yang tau aku sudah mengerti berbagai bahasa asing. Jadi saat kau bicara dengan penculik itu, aku tau kau adalah teman mereka."
Penjelasan Samantha padanya membuat tubuh Ryo bergetar, saat itu ia bicara dengan Daisuke untuk jangan melukai Samantha sedikit pun, karena ia yang akan menyakiti gadis itu. "Apa kau mengerti ucapanku waktu itu?"
"Ya, kau bicara pada penculik itu agar jangan melukaiku. Lalu kau juga bicara padanya karena kau lah yang akan menyakitiku," Samantha menahan emosinya saat bicara.
"Lalu kenapa kau masih melindungiku dari Hazel?"
Karena aku sudah terlanjur jatuh cinta padamu! Brengsek! Teriak frustasi Samantha dalam hatinya.
__ADS_1
"Karena aku tak ingin Hazel menjadi seorang pembunuh, apalagi membunuh lelaki brengsek sepertimu!" Mata Samatha sarat kebencian saat menjawab pertanyaan Ryo.
Ryo seketika menatap mata Samantha yang penuh kebencian padanya, ia mengepalkan kedua tangannya. "Maafkan aku, sepertinya kau sangat membenciku. Aku harus pergi, ada hal yang harus aku lakukan untuk menebus semua kesalahanku padamu. Jaga dirimu Samantha, selamat tinggal." Lelaki yang patah hati itu segera berbalik pergi dengan sedikit meringis memegang perutnya yang tadi terkena tendangan.
Selamat tinggal!
***
Di kediaman yang ditinggali Kei, Sean mematung ia seketika terhenyak mendengar semua penjelasan dari Kei, ia bahkan menatap wajah Kei mencari kebenaran tentang ucapannya yang berkata dia adalah seorang perempuan. "Kau benar - benar seorang wanita?!"
"Damn it! Kau gila! Kalian semua gila! Hanya karena kesalah pahaman kalian membuat adikku dan Hazel bahaya, bahkan sekarang Daddy-ku?!" teriak Sean frustasi.
Kei menghela nafasnya, "Itu karena aku tidak ingat kejadian apapun sebelum aku tinggal di Jepang, otakku sepertinya bermasalah karena setiap aku mencoba mengingat masa kecilku seketika kepalaku sakit dan akhirnya pingsan. Maafkan aku," Kei menggeleng menyesal.
"Kau sudah memeriksanya ke Dokter?" tanya Sean, ada kekhawatiran dalam nada suaranya.
__ADS_1
"Belum, aku belum sempat. Nanti setelah semua ini berakhir, aku akan segera memeriksanya." Jawab Kei, "Baiklah, kita sudah siap! Kamu pulanglah Sean, jangan ikut. Disana situasinya akan sangat berbahaya." Kei melarangnya.
"Aku ikut! Dia adalah Ayahku, lagipula aku harus mempraktekkan tembakan jituku pada seseorang," Jawab Sean serius.
"Tembakan jitu?" tanya Kei ragu.
"Kau meragukanku, apa kau pikir selama ini aku hanya bermain dan berpesta? No! Aku mempunyai tempat rahasiaku sendiri, disana berbagai senjata terbaru tersimpan. Disanalah sebenarnya aku menghabiskan banyak uangku tapi senjata - senjata itu ilegal. Itu hanya hobiku mengumpulkan berbagai jenis senjata dan berlatih menggunakannya. Bukankah sekarang waktunya aku menggunakan keahlianku?" Sean nyengir.
"Itu tidak ada dalam data kami saat memeriksa semua latar belakang kalian!" Kei tak percaya.
"Mau aku buktikan sekarang jika aku bukan seorang pecundang," Sean mulai merapatkan tubuh mereka, sebelah tangannya menarik pinggang Kei membuat tubuh mereka semakin menempel, lalu satu tangannya menahan kepala gadis itu yang menatapnya kosong, ia menatap intens mata lembut gadis di pelukannya lalu ia mulai menyatukan bibir lembut mereka.
Tubuh Kei mematung, ia bahkan tak bisa bergerak. Seumur hidupnya ia baru pertama kali merasa kehilangan kontrol atas tubuhnya sendiri, saat bibir lelaki itu menempel pada bibirnya ia hanya bisa menerima.
Sean melihat Kei hanya diam menerima ciumannya, ia semakin memperdalam ciumannya sampai ia tak merasakan nafas Kei di pelukannya akhirnya ia segera melepaskan pagutan bibirnya dari bibir gadis itu. " Eve? Evelyn? Hei! Bernafaslah!"
__ADS_1
Seketika Kei menarik nafas panjang, tubuhnya terkulai lemas. Sean segera menangkap tubuh gadis itu sebelum terjatuh dan memeluknya kembali. Tiba - tiba Sean tertawa keras, ia tak menyangka Kei bisa sangat shock karena ciuman darinya.