
Dalam pertarungan berikutnya, Kei menggunakan gaya pressure fighter dalam teknik bertarungnya.
Sampai akhirnya Kei menjadi juara di arena pertarungan di ruangan tujuh.
Daisuke membersihkan beberapa luka sobek di dahi serta lengan Kei dengan antiseptik.
"Saat bertarung tadi, kau terlalu memforsil tubuhmu. Di pertarungan berikutnya, kau jangan terlalu memaksakan diri," keluh Daisuke.
"Kau salah, itu bukan memaksakan diri tapi mengunggulkan diri," ujar Vincent yang datang menghampiri Kei di pinggir arena saat waktu istirahat.
"Paman."
Vincent tersenyum penuh kepuasan, "Kau memang yang terbaik. Jangan mengendurkan cara bertarungmu! Jika perlu, kau jangan segan-segan membunuh mereka."
Kei hanya mengangguk, ia selalu mendengarkan pamannya. Pamannya adalah satu-satunya keluarga yang dimilikinya, dia akan menjadi orang yang selalu pamannya sering katakan padanya. Menjadi yang terkuat di organisasi Yakuza adalah jalan untuk pembalasan dendamnya.
Setelah Kei mengalahkan petarung terakhir di ruangan itu, pertarungan hari itu pun berakhir. Besok adalah pertarungan penentuan dari sepuluh petarung yang berhasil mengalahkan 290 peserta.
Dalam pertarungan keesokan harinya, setelah mengalahkan empat lawannya akhirnya Kei berhadapan dengan Katashi, satu-satunya lawan terkuatnya selama beberapa kali Kei bertarung diluar sana.
"Kau siap menjadi santapanku, Kei?" Katashi menaikkan sebelah alisnya, menantang Kei.
__ADS_1
Kei tersenyum tapi wajahnya yang penuh dengan luka malah membuat senyumannya terlihat seperti monster, membuat keyakinan Katashi turun.
Bibir Kei tertarik ke samping, senyumannya semakin membuat wajahnya semakin menyeramkan.
"Darah dan nyawaku terlalu berharga hanya untuk kalah darimu. Tapi tenang saja, akan kupastikan saat aku mengalahkanmu, aku akan mengampuni nyawamu!" ujar Kei penuh keyakinan.
"Cih!" Katashi maju lebih dulu, menyerang Kei tanpa ampun. Awalnya Kei beberapa kali jatuh karena tendangan Katashi, tubuhnya memang sudah kelelahan.
Saat tubuhnya tergeletak dibawah, Vincent berteriak padanya. "Kei! Ingat ibumu!"
Seketika Kei bangkit, menarik nafas dalam-dalam dan menutup matanya. Menangkan diri dan pikirannya, juga menenangkan syaraf-syaraf di dalam tubuhnya.
Saat Katashi menyerangnya kembali, Kei menggunakan teknik counter puncher. Menunggu Katashi kelelahan baru balik melawannya.
Kei akhirnya melawan balik dengan pukulan-pukulan cepat mengincar titik lemah dari tubuh manusia. Kei memutar tubuhnya dua putaran lalu menendang kepala samping Katashi membuat Katashi tumbang dan tak bergerak.
Pemandu pertarungan maju memeriksa tubuh Katashi yang sudah tumbang, memeriksa kesadaran dan nafasnya. Katashi masih bernafas. "KO!"
"Yeahhhhhhhhhh!!!!" Sorak sorai pendukung Kei berteriak penuh antusias.
Vincent tersenyum puas, akhirnya satu langkah lagi baginya untuk membalas dendam. Kei akan menjadi tiketnya mendapatkan akses-akses dan bekingan besar yang akan diberikan ketua Yakuza.
__ADS_1
Daisuke naik ke atas arena pertarungan, memapah tubuh Kei yang sudah lemah. "Kau mau aku gendong?" Tawarnya.
Kei hanya terkekeh, "Ayolah Dai, dimana aku akan menaruh harga diriku. Setelah menjadi pemenang, aku digendong turun dari arena. Aku akan terlihat lemah, sekalian saja kau membunuhku."
Daisuke hanya menghela nafas, Jiro datang dan ikut memapahnya. Akhirnya Daisuke berbisik pada Jiro untuk mengangkat ke atas tubuh Kei.
"Hei, jangan!" Teriak Kei saat ikut mendengar ide Daisuke.
Tapi Daisuke tak perduli, dia dan Jiro dibantu Ryo mengangkat tubuhnya ke atas. "Hidup Kei! Kei! Kei!" Teriak mereka serempak.
Beberapa anggota Yakuza sejak awal pertarungan sudah mendengar tentang kehebatan Kei, mereka hari ini berkumpul di pinggir arena untuk mendukung Kei.
Ahirnya mereka turun dan ikut mengangkat tubuh Kei dan melemparnya ke atas lalu menahannya lagi dibawah. "Kei! Kei!"
.
.
.
LIKE, KOMEN, GIFT, VOTE.
__ADS_1