
Kei berjalan kembali ke arah balkon menatap ke bawah ke area kolam, melihat Samantha dan Hazel sudah tidak ada disana dan hanya ada Sean yang sudah bertelanjang dada bersiap meluncur ke air kolam. Kei tak bisa mengalihkan pandangan matanya dari tubuh indah Sean.
Ponselnya berdering, Kei mengangkatnya, "Dai, sorry aku lupa kasih kabar. Malam ini aku akan menginap di Harem."
"Baiklah, tetap berhati - hati," cemas Daisuke.
"Mengenai yang tadi siang kau bicarakan, sebenarnya mengenai apa?" tanya Kei tak sabar menunggu sampai dia pulang.
"Begini, kau tau kan Ryo seorang hacker. Saat membersihkan jejak wanita yang mati tadi malam, kami menemukan sesuatu tentang kau." Jawab Daisuke.
"Tentangku?"
"Ya, portal berita belasan tahun lalu tentang seorang Pria bernama David yang diwawancara di sebuah media mencari putrinya bernama Evelyn, tapi kau kan seorang lelaki jadi menurut kami itu bukan kau, kan?"
"Tunggu! Aku akan pulang sekarang!"
Dengan hati yang berdebar Kei berlari keluar kamar, ia tak ingin menunggu sampai besok. Baginya indetitas dirinya sangat penting, apalagi Paman-nya tidak pernah mengatakan siapa Ayah kandungnya.
Dilantai bawah Kei bertemu dengan Angela yang sedang bersenda gurau dengan yang lainnya. Kei menghampiri mereka.
"Tente, saya pamit pulang. Barusan saya dapat kabar, teman saya datang ke rumah dan dia datang dari tempat jauh, jadi saya harus pulang," Ujar Kei.
"Ah, baiklah. Tunggu sebentar, tante panggilkan supir untuk mengantarmu." Tawar Angela seraya berjalan mencari salah satu supir.
__ADS_1
"Sampaikan pada Paman, saya tidak bisa pamitan. Tante." Kei sudah duduk di dalam mobil.
"Ya, tentu saja. Hati - hati di jalan , nak."
"Pak, hati - hati bawa mobilnya," titip Angela pada sang sopir.
"Ya, Nyonya."
Mobil yang dinaiki Kei pun meluncur pergi.
Sedangkan Lazarus sedang berdiskusi dengan Albert dan Timothy akan hilangnya David setahun lalu, mereka masih belum bisa menemukan keberadaan nya.
"Jejak Tuan David bagaikan hilang ditelan bumi. Saya sangat bingung harus mencarinya lagi kemana, Tuan Besar." Ujar Timothy.
Lazarus memijit keningnya, ia sudah memikirkan banyak kemungkinan selama setahun ini. Sebenarnya David menghilang kemana dan kenapa?
"Di Jepang ruang lingkup kita sangat terbatas, itu bukan wilayah kita. Begini saja, carilah lagi orang - orang yang pandai berbahasa Jepang dan juga bisa menjaga indetitasnya."
"Baik, Tuan."
"Lazarus !!! Albert! Amanda sepertinya akan melahirkan, cepat !" Ella menerobos masuk ke ruang kerja Lazarus.
Lazarus seketika berdiri, Albert malah sudah lebih dulu berlari.
__ADS_1
"Sayang," Albert mengenggam tangan Amanda yang sedang kesakitan.
"Uh... Uhhh... Sakit sayang," Amanda menekankan kuku jarinya ke lengan Albert.
Albert tak merasakan sakit di lengannya karena tancapan dari kuku Amanda, tapi air matanya tetap keluar karena sedih melihat istrinya yang terengah - engah merasakan kesakitan.
"Astaga Albert! Kau angkat istrimu dan kita bawa ke Rumah sakit, kau malah menangis!" Lazarus merasa ingin menggetok kepala adik iparnya itu.
"Ya, ya!" Albert bergumam lalu mulai berusaha memangku tubuh Amanda yang berperut besar.
"Kau mampu menggendongnya?" tanya Samuel. "Sini aku bantu," Samuel membantu mengangkat tubuh Amanda.
"Mobil sudah siap! Cepat!" teriak Angela dari luar rumah.
Semua orang dewasa berangkat, kecuali Callista dan Louis ditemani Hazel dan Sean di rumah.
Setelah di Rumah sakit dengan cepat Amanda dibawa ke dalam ruang bersalin, hanya diperbolehkan satu orang yang masuk jadi Albert masuk menemani istrinya. Tak selang berapa lama suara tangisan bayi menggema dari dalam ruang bersalin, semua orang mengucap rasa syukur mereka.
"Selamat, seorang bayi perempuan!" ujar perawat yang keluar membawa beberapa peralatan medis.
"Puji Tuhan, terimakasih," ucap semua orang serempak.
Tak lama suara tangisan bayi berubah menjadi tangisan seorang pria dewasa, Lazarus tertawa saat mengenali suara tangisan yang tak lain adalah tangisan Albert.
__ADS_1